Scroll untuk baca artikel
Berita

Mengenang Bakri Salempang, Kisah Tiga Serangkai yang Kini Berkurang

×

Mengenang Bakri Salempang, Kisah Tiga Serangkai yang Kini Berkurang

Share this article

Oleh : Haidir Fitra Siagian
(Kepala Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan 2005-2010 / Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar)

KHITTAH.CO — Innalillahi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Kabar duka itu datang dengan tenang, tetapi bagi saya pribadi, tentunya meninggalkan rasa kehilangan yang dalam. Pada Rabu, 29 April 2026, Drs. H. Bakri Salempang, M.Pd. wafat di Makassar, dan dimakamkan pada Kamis, 30 April 2026 di Pattallassang, Kabupaten Gowa.

Kepergian beliau bukan hanya kehilangan seorang pribadi, tetapi juga kehilangan sosok yang telah lama mengabdi dengan tulus, khususnya di lingkungan Universitas Muhammadiyah Makassar dan Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Almarhum dikenal sebagai aktivis yang pernah menjadi Ketua KORKOM IMM Unismuh Makassar. Dalam perjalanan kariernya, beliau dipercaya sebagai Kepala Tata Usaha Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar.

Saat itu, kampus sedang berupaya membuka Jurusan Ilmu Komunikasi. Proses ini tentu tidak mudah, karena membutuhkan berbagai syarat administratif dan akademik. Di sinilah peran beliau terlihat jelas, bekerja dengan tekun, teliti, dan penuh tanggung jawab.

Salah satu kenangan yang masih diingat adalah ketika beliau beberapa kali menghubungi penulis untuk meminta ijazah S1 dan S2 di bidang Ilmu Komunikasi. Hal ini dilakukan karena ijazah tersebut dibutuhkan sebagai syarat pendirian jurusan baru.

Apa yang beliau lakukan mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting. Itu adalah bagian dari usaha besar untuk menghadirkan program studi yang hingga hari ini masih memberi manfaat bagi banyak mahasiswa.

Selain itu, beliau juga memberikan kepercayaan kepada penulis untuk mengajar di FISIPOL Unismuh. Kepercayaan seperti ini sangat berarti, karena membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang dan berkontribusi. Dari sini terlihat bahwa almarhum bukan hanya bekerja untuk dirinya sendiri, tetapi juga membantu orang lain untuk maju.

Penulis mengenal almarhum sejak akhir tahun 1990-an. Saat itu, beliau bekerja sebagai staf di Unismuh Makassar dan sering mendampingi Kiyai Djamaluddin Amien yang menjabat sebagai Rektor. Pada waktu yang sama, Kiyai Djamal juga menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Dalam berbagai kesempatan, almarhum sering ikut hadir ke kantor Muhammadiyah, baik di Jalan Gunung Lompobattang maupun setelah pindah ke Pusat Dakwah Muhammadiyah Pusdam di Jalan Perintis Kemerdekaan.

Kedekatan ini semakin terasa pada awal tahun 2000, terutama saat pembangunan Gedung Pusdam Muhammadiyah Sulawesi Selatan sedang berjalan. Pembangunan ini merupakan proyek penting bagi organisasi.

Dalam prosesnya, almarhum menjadi bagian dari “tiga serangkai” bersama Muhammad Ilyas dan Abd. Rakhim Nanda. Mereka menjadi orang-orang yang membantu langsung Kiyai Djamal dalam urusan teknis pembangunan.

Walaupun tidak tercatat sebagai panitia resmi, peran mereka sangat besar. Mereka mengatur bahan bangunan, mengoordinasikan pekerja, dan memastikan pembangunan berjalan dengan baik. Dukungan dari Unismuh Makassar, baik berupa material seperti besi, pasir, dan batu, maupun tenaga kerja, juga ikut mereka kelola. Keringat dan kerja keras mereka menjadi bagian penting dari berdirinya Pusdam yang kini digunakan oleh banyak orang.

Dalam perjalanan organisasinya, almarhum Kanda Bakri Salempang juga aktif di Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Salah satu momen penting adalah saat Musyawarah Wilayah Musywil tahun 2002 di Kota Parepare. Saat itu, beliau menjadi salah satu calon ketua bersama Bang Imran Hanafi dan Bang Husain Abdurrahman. Namun, dalam prosesnya, beliau memilih untuk tidak melanjutkan pencalonannya. Ia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada forum musyawarah.

Keputusan tersebut menunjukkan sikap yang bijak dan dewasa. Di saat banyak orang ingin menjadi pemimpin, beliau justru memilih mundur dengan tenang. Sikap ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengejar jabatan, tetapi lebih mengutamakan kebersamaan dan kepentingan organisasi.

Kini, dua dari tiga serangkai pembangunan Pusdam itu telah wafat yaitu Muhammad Ilyas dan Bakri Salempang. Sisa Bang Abdul Rakhim Nanda sekarang yang meneruskan perjuangan ini. Kini sudah jauh naik kelas menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar dan sekaligus sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Waktu terus berjalan, tetapi kenangan dan jasa mereka tetap ada. Apa yang mereka lakukan dahulu masih bisa dirasakan manfaatnya hingga sekarang. Ini menjadi bukti bahwa kerja keras yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan sia-sia.

Dalam ajaran Islam, kematian adalah sesuatu yang pasti. Setiap manusia akan kembali kepada Allah SWT. Kehidupan di dunia hanya sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah yang kekal. Karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa lama kita hidup, tetapi apa yang kita lakukan selama hidup.

Mengingat jasa orang yang telah wafat adalah hal yang penting. Bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk belajar. Dalam Islam, menyebut kebaikan orang yang telah meninggal adalah bentuk penghormatan. Selain itu, juga menjadi doa agar Allah menerima amal baik mereka.

Mengingat jasa juga memberi pelajaran bagi kita yang masih hidup. Kita diajak untuk meniru hal-hal baik yang telah mereka lakukan. Kebaikan yang ditanam dengan ketulusan akan terus memberi manfaat, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Inilah yang disebut sebagai amal jariyah yaitu amal yang pahalanya terus mengalir dari Allah Swt.

Almarhum Kanda Bakri Salempang adalah contoh orang yang bekerja dengan tulus. Ia tidak banyak tampil di depan, tetapi perannya sangat besar di balik layar. Ia menunjukkan bahwa pengabdian tidak harus selalu terlihat, tetapi harus dirasakan manfaatnya.

Kini, beliau telah kembali kepada Allah SWT. Yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan mengenang kebaikannya. Semoga Allah menerima semua amal ibadahnya, mengampuni kesalahannya, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat jalan, Kanda Bakri Salempang. Jasa dan kebaikanmu akan selalu dikenang, dan semoga menjadi inspirasi bagi kami yang masih melanjutkan perjalanan ini. Tunai sudah janji bakti.

Samata Gowa, 30 April 2026

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply