
Oleh: Irwan Akib (Mantan Sekretaris Umum DPD IMM SulSel)
KHITTAH. CO – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang lahir enam puluh dua tahun yang lalu, tepatnya 14 Maret 1964, merupakan salah satu organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang bergerak di lingkungan mahasiswa, senada dengan ortom lainnya yang masing-masing memiliki wilayah pergerakan dan garapan dakwah. Selain itu, IMM juga merupakan organisasi kader Muhammadiyah yang tentu kehadirannya menjadi bagian persemaian kader Muhammadiyah yang akan melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah di masa depan. Sebagai bagian dari gerak dakwah Muhammadiyah, maka IMM juga menjadi bagian gerakan keumatan dan kebangsaan.
Sebagai organisasi kader yang bergerak di lingkungan kemahasiswaan, maka watak kecendekiawanan harus terus melekat pada diri IMM, hadir sebagai sosok Cendekiawan Berpribadi sehingga menuntut ilmu adalah ruh perjuangannya. IMM hadir memadukan pikir dan zikir dalam setiap gerakannya, membaca dan menelaah, mengkaji ilmu pengetahuan bagian dari zikir panjang seorang kader IMM. IMM pun hadir dalam diskusi-diskusi akademik untuk menajamkan pikiran, dan memperluas wawasan bagian dari pikir yang tak pernah berkesudahan dan tentu riset sebagai bagian dari proses akademik pencarian ilmu pengetahuan, dan begitu pun teknologi merupakan sajadah panjang tempat bertafakur mencari cahaya kebenaran.
Di era yang serba tak menentu ini, IMM yang telah mengikrarkan diri sebagai Cendekiawan Berpribadi, harus selalu hadir sebagai obor penerang dalam kegelapan, hadir dengan ketajaman pikir yang lahir dari hasil kajian dengan metodologi ilmiah dan keluhuran nafas wahyu ilahi. Bagi kader IMM, belajar merupakan perjalanan panjang yang tak ada akhirnya, mereka hadir dengan intelektualitas yang dapat menjadi filter yang jernih di tengah banjir informasi. Ilmu pengetahuan adalah senjata utama untuk membedah ketidakadilan dan merancang masa depan yang mencerahkan semesta.
Peran keumatan sebagai akademisi Islam merupakan jembatan pencerahan. Di tengah arus polarisasi, di tengah hadirnya fanatisme kelompok dan golongan, kader IMM perlu hadir dengan wajah Islam Wasathiyah. Teori-teori yang telah dijelajahi, aneka pendapat dan hasil pikir dan zikir melalui berbagai kegiatan akademik, perlu diimplementasikan di tengah masyarakat. IMM tidak boleh hanya berhenti di mimbar, tidak boleh asyik dengan dirinya dan lupa masyarakat, lupa komponen anak bangsa lainnya, ia harus masuk ke ranah pemberdayaan, mengadvokasi, hadir memberi solusi di tengah berbagai masalah yang dihadapi masyarakat, bukan hadir menjadi bagian dari masalah.
Kader IMM sebagai Cendekiawan Berpribadi yang hidup di negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini, tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab kebangsaan, dan tentu tidak boleh menjadi bagian dari masalah bangsa. Justru dengan modal ketajaman pikir dan kedalaman zikirnya, kader IMM harus hadir memberi solusi permasalahan bangsa ini.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah telah mencanangkan konsep Darul Ahdiwa Syahadah, yang memberi makna bahwa Indonesia sebagai negara kesepakatan dan kesaksian yang harus dibela. Peran kebangsaan dapat diwujudkan melalui kritik berbasis data terhadap kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil (mustadh’afin), bukan kritik tanpa solusi.
Kader IMM hadir mengawal para pengambil kebijakan, agar kebijakannya sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, memberi rasa adil bagi semuanya, regulasi dan kebijakan berpihak kepada rakyat. Selain itu, IMM juga mengawal bahwa negara ini telah diurus dengan benar sesuai landasan filosofi berbangsa bernegara, dan bukan diurus oleh orang-orang yang tidak memiliki integritas.
IMM sebagai organisasi kader, dengan trilogi kader: Kader umat, kader bangsa, dan kader persyarikatan, tentu perlu menyiapkan diri sebagai Anak Panah Muhammadiyah yang kelak akan melanjutkan cita perjuangan Muhammadiyah di semua lini, baik di lini kebangsaan maupun keumatan dan tentu di internal persyarikatan sendiri. Kehadiran kader IMM di berbagai lini tersebut, tentu tidak sekadar hadir tetapi hadir dengan misi dakwah persyarikatan di tengah era yang tidak berkepastian. Oleh karena itu para kader IMM perlu menyiapkan diri dengan berbagai keahlian dan keterampilan tentu bekal ilmu dan ketajawama nurani. Paling tidak kader harus (1) melek teknologi: menguasai kecerdasan buatan (AI) dan data untuk kepentingan dakwah dan kemanusiaan; (2) mandiri secara ekonomi: Membangun kemandirian melalui kewirausahaan agar gerakan tidak mudah didikte oleh kepentingan politik praktis, (3) memiliki sifat Inklusif: Mampu berkolaborasi dengan berbagai elemen bangsa tanpa kehilangan jati diri ideologinya.
Milad ke-62 adalah momentum untuk kembali mengokohkan jati diri sebagai Cendekiawan Berpribadi, terus menggelorakan semangat “Ilmu adalah alat perjuangan, dan amal adalah tujuan perjuangan”. Belajar adalah jalan panjang yang tak berkesudahan, hadirkan diri sebagai cendekiawan untuk menjadi bagian arsitek peradaban. Peradaban tidak dibangun oleh kemalasan berpikir, tetapi dibangun oleh ketajaman pikir dan kedalaman zikir. Hadirlah menjadi pembuat sejarah bukan sekedar menjadi objek sejarah. Jadikan setiap sudut dan ruang sebagai ajang melahirkan gagasan besar untuk membangun peradaban, hadir menjadi arsitek yang merancang kejayaan Islam dan Indonesia dengan pena dan keringat pengabdian.
Selamat Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Abadi Perjuangan!
Billahi FiSabililhaq, Fastabiqul Khairat.





















