
Oleh: Nurul Qadri (Bidang RPK Pikom Teknik 2025-2026)
Matahari tepat di atas kepala saat saya keluar dari laboratorium komputer. Ruangan itu masih menyisakan panas perangkat, suara kipas, dan sisa kelelahan setelah berjam-jam menatap kode yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di pundak saya, tas berisi laptop terasa berat bukan hanya karena isinya, tetapi karena tanggung jawab yang saya bawa sebagai mahasiswi Teknik Informatika sekaligus kader Immawati.
Menjadi Immawati di fakultas teknik bukan sekadar soal kuliah dan organisasi. Tantangan utamanya justru datang dari lingkungan yang masih didominasi laki-laki, baik secara jumlah maupun cara pandang. Di kelas, saya sering berada dalam posisi harus membuktikan diri dua kali lebih keras. Ketika saya berhasil menyelesaikan soal atau proyek yang kompleks, tidak jarang muncul anggapan bahwa saya dibantu. Namun, ketika saya mengalami kesulitan, hal itu langsung dianggap sebagai bukti bahwa perempuan memang kurang cocok di bidang ini. Situasi seperti ini bukan terjadi sekali dua kali, tetapi berulang dan perlahan membentuk tekanan tersendiri.
Tekanan itu tidak selalu terlihat jelas, tetapi terasa dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, ketika diskusi kelompok, pendapat saya kadang tidak langsung dianggap serius sampai diulang oleh teman laki-laki. Atau ketika pembagian tugas proyek, saya lebih sering diarahkan ke bagian dokumentasi atau presentasi, bukan ke bagian teknis utama seperti coding atau sistem. Hal-hal kecil seperti ini jika terus terjadi akan membentuk batas yang tidak tertulis, seolah ada “wilayah” tertentu yang lebih layak diisi laki-laki.
Di sisi lain, sebagai kader Immawati di IMM, saya juga menghadapi tantangan berbeda. Secara struktural, masih ada kecenderungan bahwa posisi strategis lebih sering diberikan kepada Immawan, sementara Immawati dianggap lebih cocok di posisi administratif. Padahal, kemampuan yang dibutuhkan dalam kepemimpinan analisis masalah, pengambilan keputusan, dan penyusunan strategi justru sangat dekat dengan apa yang kami pelajari di teknik.
Beban ganda ini terasa ketika harus membagi fokus antara akademik yang menuntut ketelitian tinggi dan organisasi yang membutuhkan komitmen waktu serta energi. Tidak jarang saya harus menghadapi deadline proyek teknis di saat yang sama dengan agenda organisasi. Dalam kondisi seperti ini, ekspektasi juga berbeda. Ketika laki-laki fokus pada akademik, itu dianggap wajar. Namun ketika perempuan melakukan hal yang sama, terkadang masih ada penilaian bahwa ia “kurang aktif” atau tidak maksimal dalam peran lainnya.
Dalam banyak situasi, saya juga melihat bahwa ruang bagi perempuan di fakultas teknik tidak selalu terbuka secara setara. Tidak semua perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk terlibat di bagian teknis utama, karena sejak awal sudah ada kecenderungan pembagian peran yang tidak seimbang. Akibatnya, yang terjadi bukan lagi soal kemampuan, tapi soal siapa yang diberi ruang untuk mencoba.
Menjaga kepercayaan diri juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam dunia teknik, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Namun bagi perempuan, satu kesalahan sering kali langsung dikaitkan dengan pembenaran atas stereotip yang sudah ada. Hal ini membuat tekanan yang dirasakan menjadi berbeda.
Di dalam organisasi, pola yang sama juga masih terlihat. Kesempatan untuk menyampaikan pendapat, memimpin forum, atau terlibat dalam pengambilan keputusan strategis tidak selalu datang secara setara. Dalam beberapa situasi, Immawati harus lebih aktif untuk menunjukkan kapasitasnya agar bisa mendapat ruang yang sama. Padahal, jika sejak awal kesempatan itu dibuka secara adil, setiap kader akan memiliki peluang yang sama untuk berkembang tanpa harus menghadapi beban tambahan.
Tantangan lain muncul dari lingkungan sosial di luar kampus. Masih ada anggapan bahwa perempuan teknik itu terlalu serius, sulit diatur, atau kehilangan sisi sosialnya. Hal ini secara tidak langsung menciptakan tekanan tambahan, seolah saya harus tetap memenuhi ekspektasi tertentu sambil tetap mempertahankan performa akademik dan organisasi.
Dalam praktiknya, saya melihat bahwa masalah utama bukan pada kurangnya kemampuan perempuan, tetapi pada adanya bias yang masih dianggap normal. Bias ini tidak selalu berupa penolakan terang-terangan, ia hadir dalam bentuk asumsi, pembagian peran, dan cara pandang.
Sebagai mahasiswi teknik, saya terbiasa berpikir sistematis, setiap masalah harus dicari akar penyebabnya dan diperbaiki. Jika dianalogikan, kondisi ini seperti “bug” dalam sistem sosial yang perlu diperbaiki, bukan dibiarkan. Kesetaraan bukan berarti menyamakan semua hal, karena memberikan kesempatan yang adil adalah berdasarkan kemampuan tanpa melihat gendernya.
Harapan saya ke depan sederhana, tetapi penting. Saya ingin lingkungan fakultas teknik menjadi ruang yang benar-benar terbuka, di mana perempuan tidak lagi merasa harus membuktikan diri secara berlebihan hanya untuk dianggap setara. Saya tidak melihat ini sebagai hambatan semata, tetapi sebagai realitas yang harus dihadapi dan perlahan diperbaiki.

















