Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Pengajian Ramadan IKA Unismuh, Mawardi Pewangi Tekankan Infak sebagai Titipan yang Kekal

×

Pengajian Ramadan IKA Unismuh, Mawardi Pewangi Tekankan Infak sebagai Titipan yang Kekal

Share this article

KHITTAH.CO, Makassar — Pengajian Ramadan dalam rangkaian silaturahmi dan buka puasa bersama Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unismuh Makassar menghadirkan pesan keagamaan yang kuat tentang makna harta, sedekah, dan infak. Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr. KH. Mawardi Pewangi, menegaskan bahwa harta yang benar-benar menjadi milik seseorang bukanlah yang disimpan, melainkan yang dibelanjakan di jalan Allah.

Pesan itu disampaikan Mawardi saat mengisi pengajian menjelang buka puasa bersama di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar, Senin, 17 Maret 2026. Dalam tausiyah singkatnya, ia mengawali dengan mengutip hadis Rasulullah SAW tentang hakikat harta manusia.

Menurut Mawardi, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa harta manusia pada dasarnya hanya tiga: apa yang dimakan lalu habis, apa yang dipakai lalu rusak, dan apa yang disedekahkan lalu itulah yang kekal. Sementara selebihnya, kata dia, akan ditinggalkan atau justru menjadi milik orang lain setelah seseorang wafat.

Ia kemudian memperkuat penjelasan itu dengan mengutip pandangan Buya Hamka. Mawardi menyampaikan bahwa apa yang dimakan pada akhirnya hanya akan menjadi kotoran, sedangkan yang disedekahkan justru menjadi milik yang sesungguhnya. Adapun harta yang sekadar disimpan, pada akhirnya berpotensi menjadi rebutan setelah pemiliknya meninggal dunia.

Agar pesan itu lebih membumi, Mawardi memberikan contoh sederhana tentang seorang karyawan yang bergaji Rp1 juta. Dalam cerita itu, sang karyawan diminta menyumbangkan Rp100 ribu ke masjid. Ketika pulang, ia mengira sisa uangnya tinggal Rp900 ribu. Namun, menurut Mawardi, cara berpikir itu keliru. Justru Rp100 ribu yang telah disedekahkan itulah yang benar-benar menjadi miliknya, sedangkan Rp900 ribu sisanya masih berupa titipan yang sewaktu-waktu bisa lepas.

Mawardi juga menceritakan kisah seorang ibu di Jakarta yang setiap menerima gaji selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk masjid, panti asuhan, dan para penghafal Al-Qur’an. Ketika dianggap boros oleh tetangganya, ibu itu justru menjawab bahwa ia bukan sedang menghamburkan uang, melainkan sedang “menitipkan” hartanya di tempat-tempat kebaikan untuk diambil kembali kelak dalam balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Dari dua kisah itu, Mawardi menegaskan satu pesan, uang yang disumbangkan pada hakikatnya bukan hilang, melainkan titipan yang nilainya akan kembali kepada pemiliknya di akhirat. Karena itu, ia mengajak peserta pengajian memanfaatkan kesempatan selagi masih memiliki umur, kesehatan, dan rezeki.

Ia juga mengingatkan pesan Al-Qur’an agar manusia tidak menunda-nunda infak hingga datang kematian. Sebab, kata Mawardi, ketika ajal tiba, penyesalan tidak lagi berguna. Orang yang terlambat bersedekah hanya akan berharap diberi sedikit waktu tambahan untuk beramal, tetapi kesempatan itu tidak akan datang lagi.

Pesan pengajian Mawardi terasa sejalan dengan suasana acara yang sejak awal memang dibangun dalam semangat silaturahmi dan kepedulian. Dalam forum yang sama, DPP IKA Unismuh Makassar meluncurkan program infak bulanan untuk mendukung penyelesaian pembangunan gedung alumni. Karena itu, tausiyah Mawardi menjadi penguat spiritual bahwa infak tidak sekadar kebutuhan organisasi, tetapi juga bagian dari investasi amal yang kekal.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply