KHITTAH.CO, Makassar — Buka puasa bersama yang digelar Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unismuh Makassar di Balai Sidang Muktamar ke-47, Senin, 17 Maret 2026, tidak hanya menjadi agenda Ramadan biasa, tetapi juga dirancang sebagai ruang silaturahmi yang mempertemukan alumni dengan pimpinan kampus dalam suasana yang lebih akrab dan bermakna.
Ketua Umum DPP IKA Unismuh Makassar, Prof. Andi Sukri Syamsuri yang akrab disapa Prof Andis, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memang sengaja digelar untuk mengundang pengurus dan para alumni, baik yang berada di Makassar maupun dari luar kota, agar tetap menjaga kedekatan dengan almamater. Menurutnya, kehadiran alumni di kampus memberi kesempatan untuk melihat langsung perkembangan terbaru Unismuh Makassar yang terus berubah dan berkembang.
Ia menegaskan, alumni bukan sekadar lulusan yang pernah menyelesaikan studi, tetapi juga bagian penting dari ekosistem kampus. Karena itu, silaturahmi semacam ini dibangun untuk memperkuat ingatan, keterikatan, dan rasa memiliki terhadap almamater.
“Alumni itu adalah inspirator bagi adik-adiknya, mentor bagi adik-adiknya, dan juga tentu menjadi media dari kampus dengan masyarakat yang ada di sekitarnya,” ujar Prof Andis.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh Makassar Prof. Gagaring Pagalung, Rektor Unismuh Makassar Dr. Abd Rakhim Nanda, para wakil rektor, para dekan, direktur, kepala badan, ketua lembaga, jajaran Dewan Penasihat, Dewan Pakar, Dewan Pembina, pengurus harian dan pengurus bidang/komisi DPP IKA, serta sejumlah alumni dan tamu undangan.
Kegiatan ini disiarkan secara langsung melalui YouTube Unismuh Makassar dan diliput sejumlah media, antara lain TVRI, Radio Venus, dan TVMu. Hal itu menunjukkan bahwa buka puasa bersama ini bukan sekadar forum internal, tetapi juga menjadi momentum organisasi alumni yang mendapat perhatian lebih luas.
Salah satu hal menarik yang mengemuka dalam forum adalah alasan mengapa acara sengaja dipusatkan di lingkungan kampus, bukan di hotel. Rektor Unismuh Makassar, Dr Abd Rakhim Nanda, secara terbuka menyampaikan bahwa kehadiran alumni di kampus penting agar mereka bisa melihat langsung perkembangan almamaternya. Ia bahkan menyinggung bahwa bila silaturahmi alumni digelar di hotel, maka nuansa kedekatan dengan kampus menjadi berkurang.
“Terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu di Unismuh Makassar, tidak memilih hotel supaya melihat langsung kampusnya,” kata Rakhim Nanda.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kampus bukan hanya lokasi acara, tetapi juga bagian dari pesan simbolik yang ingin dibangun: silaturahmi alumni sebaiknya kembali berpijak di rumah besarnya sendiri, yakni Unismuh Makassar. Dengan hadir langsung di kampus, alumni tidak hanya berkumpul untuk berbuka puasa, tetapi juga menyaksikan capaian, perubahan, dan tantangan kampus secara nyata.
Ketua BPH Unismuh Makassar, Prof. Gagaring Pagalung, dalam sambutannya juga memberi penekanan pada makna pertemuan tersebut. Ia menyebut ajang silaturahmi alumni sebagai bagian dari apa yang ia istilahkan sebagai “nostalgia terapi”, yakni ruang untuk saling mengenal kembali, saling memperkenalkan diri, berbagi pengalaman pekerjaan, dan menghidupkan kembali kenangan bersama selama berada di lingkungan Unismuh. Menurutnya, suasana seperti itu penting untuk mempererat ukhuwah dan menghadirkan keberkahan, apalagi dilaksanakan dalam bulan Ramadan.
Selain menjadi ruang temu alumni dan pimpinan kampus, acara itu juga menjadi wahana konsolidasi organisasi. Dalam forum tersebut, DPP IKA Unismuh meluncurkan program infak bulanan untuk penyelesaian gedung alumni, sekaligus menyampaikan agenda penguatan jejaring kelembagaan, termasuk rencana kerja sama dengan IKA UTHM dan IKA USIM di Malaysia.
Menjelang berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian Ramadan yang disampaikan Wakil Rektor III Unismuh Makassar, Dr. K.H. Mawardi Pewangi. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa harta yang sesungguhnya adalah yang disedekahkan, sedangkan yang dimakan akan habis dan yang disimpan belum tentu menjadi milik abadi. Ia juga mendorong peserta memanfaatkan Ramadan untuk berinfak, termasuk mendukung pembangunan gedung IKA, karena sedekah merupakan amal produktif yang pahalanya terus mengalir.





















