KHITTAH CO, GOWA — Idulfitri di Pondok Pesantren Darul Fallaah Universitas Muhammadiyah Makassar, Bissoloro, Gowa, Jumat, 20 Maret 2026, dimaknai sebagai momentum menapaki kembali “Al-Aqabah”, jalan mendaki yang sukar, yang dalam penjelasan Imam Al-Ghazali menjadi lintasan rohani untuk membentuk manusia bertakwa.
Pesan itulah yang menjadi poros khutbah Idul Fitri yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, yang juga Mudir Pesantren Darul Fallaah, Dr Dahlan Lama Bawa di Masjid Al-Aqabah, masjid pesantren yang kini masih dalam tahap pembangunan. Di hadapan jamaah, ia mengajak Idul Fitri dibaca bukan semata sebagai penanda berakhirnya Ramadhan, melainkan sebagai titik tolak untuk memasuki kehidupan yang lebih tertib secara spiritual, lebih sabar dalam ujian, dan lebih taat dalam menjalankan perintah Allah.
Dalam khutbahnya, Dahlan menjelaskan bahwa Al-Aqabah bukan sekadar nama masjid. Dalam kajian Islam, istilah itu menunjuk pada jalan mendaki, jalan yang berat, sulit, dan menantang. Justru karena berat itulah Al-Aqabah menjadi lambang perjalanan batin manusia: jalan yang menuntut keteguhan, bukan kenyamanan; kesabaran, bukan keluhan; serta pengorbanan, bukan kemudahan instan.
Titik tekan khutbah itu diletakkan pada penafsiran Imam Al-Ghazali terhadap ujian hidup. Merujuk pada Ihya’ Ulumuddin, Dahlan menegaskan, siapa yang menghadapi ujian dengan sabar akan memperoleh predikat takwa dan diangkat derajatnya oleh Allah. Takwa, dalam pengertian itu, bukan hanya suasana batin yang saleh, tetapi kemampuan nyata menjaga diri dari apa yang dilarang Allah dan kesanggupan menunaikan apa yang diperintahkan-Nya.
Dengan kerangka itu, Al-Aqabah dipahami bukan sebagai kesulitan yang mematahkan, melainkan kesulitan yang mendidik. Jalan hidup yang terjal, menurut pembacaan Al-Ghazali, bukan tanda bahwa manusia ditinggalkan Tuhan, melainkan isyarat bahwa ia sedang ditempa. Kesabaran di tengah cobaan menjadi pintu pembuka bagi kematangan rohani dan kenaikan derajat hidup di hadapan Allah.
Dahlan lalu mengaitkan pandangan itu dengan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–157 tentang ujian berupa rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan hasil kehidupan. Ayat tersebut, kata dia, memperlihatkan bahwa cobaan adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia. Namun, ayat yang sama juga membawa kabar gembira: orang-orang yang sabar akan memperoleh keberkahan, rahmat, dan petunjuk.
Dalam garis tafsir yang dikedepankan dalam khutbah itu, kesabaran bukan sikap pasif. Ia adalah daya tahan moral untuk tetap lurus ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan. Ia adalah kekuatan untuk menahan diri, menjaga iman, dan tetap berada dalam orbit ketaatan ketika manusia berhadapan dengan kekurangan, keterbatasan, dan ketidakpastian.
Di situlah Ramadhan ditempatkan sebagai latihan konkret menapaki Al-Aqabah. Puasa, menurut Dahlan, adalah jalan yang secara lahir tampak sederhana, tetapi secara batin sangat berat: menahan lapar dan haus ketika makanan tersedia, menjaga diri dari hasrat yang halal pada waktunya, serta menertibkan lidah, pikiran, dan tindakan agar tetap berada dalam disiplin ibadah.
Bagi mereka yang berhasil melalui latihan itu, Idul Fitri tidak cukup dimaknai sebagai perayaan kemenangan. Idul Fitri adalah ujian lanjutan: apakah nilai-nilai sabar, ikhlas, tawakal, dan pengendalian diri yang dibentuk selama Ramadhan benar-benar menetap dalam kehidupan setelah bulan suci berlalu.
Karena itu, khutbah tersebut menempatkan takwa sebagai buah tertinggi dari perjalanan Al-Aqabah. Tanda-tandanya, sebagaimana dijelaskan Dahlan, bukan berhenti pada rajin beribadah, melainkan tampak dalam keberkahan hidup: hadirnya kemudahan di tengah kesulitan, terbukanya jalan keluar saat masalah datang, tercukupinya kebutuhan, serta turunnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Pembacaan semacam ini membuat khutbah Idul Fitri di Darul Fallaah bergerak dari tataran seremonial menuju refleksi etis. Bahwa seorang beriman tidak diuji untuk dilemahkan, melainkan untuk diperdalam. Tidak dibebani untuk dijatuhkan, melainkan untuk diangkat. Dalam bahasa Al-Ghazali, kualitas takwa lahir bukan dari hidup yang datar, tetapi dari kemampuan jiwa mengelola ujian dengan sabar dan taat.
Pesan itu kemudian direfleksikan Dahlan pada kehidupan pesantren dan pembangunan Masjid Al-Aqabah. Masjid yang tengah direnovasi menjadi bangunan dua lantai itu direncanakan menelan anggaran sekitar Rp 2,8 miliar. Namun, di tengah keterbatasan, pembangunan tetap berjalan melalui dukungan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan partisipasi banyak pihak.
Bagi Dahlan, pengalaman tersebut merupakan contoh sosial dari makna Al-Aqabah. Jalan yang sulit tidak identik dengan jalan buntu. Ketika dijalani dengan keyakinan, kerja bersama, dan keikhlasan, kesulitan justru membuka ruang bagi pertolongan Tuhan melalui tangan-tangan manusia.
Karena itu, Al-Aqabah dalam khutbah tersebut akhirnya tidak hanya dibaca sebagai istilah qurani atau nama institusi, melainkan sebagai manhaj pembinaan diri. Ia menanam iman, membimbing ibadah, menuntun akhlak, menggerakkan amal, dan membentuk manusia yang sanggup hidup mulia dalam ketaatan.
Dengan sudut pandang itu, Idul Fitri di Darul Fallaah menghadirkan pesan yang lebih dalam daripada sekadar perayaan hari besar keagamaan. Kemenangan sejati tidak terletak pada berakhirnya lapar dan dahaga, tetapi pada lahirnya jiwa yang siap melanjutkan pendakian rohani setelah Ramadhan usai.
Al-Aqabah, sebagaimana dibaca melalui jejak pemikiran Imam Al-Ghazali, pada akhirnya adalah pelajaran tentang bagaimana seorang muslim semestinya memandang hidup: ujian bukan untuk dihindari, melainkan untuk dilalui dengan sabar agar derajat takwa benar-benar bertumbuh dalam amal, akhlak, dan keberanian menempuh jalan yang sulit.





















