KHITTAH.CO, GOWA — Akhlak puasa harus menjadi identitas utama Muslim dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi fondasi membangun peradaban berkemajuan. Pesan ini disampaikan dalam khutbah Idulfitri 1447 Hijriah di Lapangan Dakwah Muhammadiyah Kabupaten Gowa, Jumat, 20 Maret 2026.
Khutbah tersebut dibawakan oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gowa, H. Syahrir Rajab, yang juga menjabat sebagai Ketua Kwartir Wilayah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Sulawesi Selatan, dengan tema “Akhlak Puasa: Identitas Muslim Kaffah Menuju Peradaban Berkemajuan.”
Dalam khutbahnya, ia menggambarkan Ramadhan sebagai “tamu agung” yang telah meninggalkan umat Islam dengan membawa rahmat, ampunan, dan peluang pembebasan dari api neraka.
Momentum perpisahan dengan Ramadhan, menurutnya, bukan sekadar peristiwa emosional, tetapi titik awal untuk mengaktualisasikan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan nyata.
“Fitrah yang kita raih bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi untuk menjadi Muslim kaffah, Muslim yang utuh dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sosial,” ujarnya di hadapan jamaah.
Muslim Kaffah dan Tanggung Jawab Sosial
Ia menekankan bahwa Islam tidak boleh dipahami secara parsial. Seorang Muslim, kata dia, tidak cukup hanya saleh secara individu, tetapi juga harus menghadirkan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan.
Mengutip pesan Al-Qur’an, ia mengingatkan pentingnya menjalankan Islam secara menyeluruh (kaffah), sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 208.
“Muslim sejati adalah mereka yang menjadikan Islam sebagai sistem nilai dalam seluruh dimensi kehidupan, bukan sekadar identitas formal,” katanya.
Sorotan terhadap Krisis Sosial
Dalam khutbahnya, Syahrir juga menyinggung berbagai persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari ketimpangan ekonomi, krisis hukum, hingga degradasi moral.
Ia mengkritisi fenomena meningkatnya kesenjangan sosial, maraknya korupsi, serta melemahnya keteladanan di kalangan pemimpin. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi umat Islam untuk kembali menghadirkan nilai-nilai keadilan dan kebenaran.
“Ketika kebatilan dianggap biasa dan kebenaran justru disingkirkan, di situlah peran umat Islam diuji,” ujarnya.
Seruan Persatuan dan Kepedulian
Selain itu, ia juga mengajak umat Islam untuk memperkuat persatuan dan kepedulian sosial, baik dalam konteks lokal maupun global. Ia menyinggung pentingnya solidaritas terhadap sesama Muslim, termasuk terhadap penderitaan rakyat di Palestina.
“Islam mengajarkan kita untuk tidak hidup sendiri-sendiri. Kesalehan sosial adalah bagian dari iman,” katanya.
Ia mengingatkan agar umat tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan pandangan, serta tidak terpengaruh oleh narasi yang memecah belah umat.
Menutup khutbahnya, Syahrir mengajak jamaah untuk melakukan refleksi diri atas perjalanan hidup dan amal ibadah selama ini. Ia menegaskan bahwa Idulfitri harus menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan kontribusi bagi masyarakat.
“Pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah, apa manfaat yang sudah kita berikan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan” tuturnya.
Khutbah tersebut ditutup dengan doa agar Allah menerima seluruh amal ibadah Ramadhan dan memberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan.





















