
Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
KHITTAH. CO – Ramadan 1447 H, telah pergi dan tidak akan kembali lagi, bahwa 1448 H akan ada lagi Ramadan, tentu bukan lagi Ramadan 1447 H, itulah Sunnatullah bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi, sisa kenangan masalah lalu terhadap waktu itu yang akan tersisa dalam ingatan kita. Mungkin waktu yang lalu itu ada sesuatu yang berarti dalam hidup kita sehingga tidak mudah untuk melupakannya, atau juga ada peristiwa yang menyakitkan membuat kita untuk sulit melupakannya.
Terlepas dari peristiwa yang sulit untuk kita lupakan, Ramadhan yang datang setiap tahun yang berbeda, namun esensi kehadiran Ramadan tetap sama, Ia membawa berbagai berita gembira yang bila dimanfaatkan dengan baik akan mengantar kita menjadi manusia istimewa di sisi Allah, karena pada hakikatnya di hadapan Allah, semua manusia sama, hanya drajat ketakwaanlah yang membedakannya. Selain Ramadan membawa berita ini, membawa pula kita untuk menjadi manusia yang benar-benar bertakwa, tentu bila kita memanfaatkan bulan Ramadan ini dengan baik. Dan setalah Ramadan pergi, idealnya kita kembali ke fitrah kemanusiaan kita.
Bulan Ramadan 1447 H ini ada hal yang sangat ironis terjadi di depan mata kita, di saat proses untuk menjadi manusia bertakwa, di satu sisi kita menyaksikan peristiwa memilukan dan memalukan di dalam negeri terjadi operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK terhadap pejabat negara dengan berbagai modus kasus korupsi dan di belahan bumi lainnya terjadi pembantaian manusia atas manusia lainnya.
Bila kita memaknai Ramadan sebagai suatu proses menuju takwa, yang pada akhirnya manusia kembali ke fitrahnya, harusnya OTT itu tidak terjadi. Bila dalam bulan Ramadan saja peristiwa itu bisa terjadi, bagaimana pula di luar bulan Ramadan, bagaimana bisa kembali ke fitrah bila sudah ternodai ke fitrahan kita di bulan yang suci itu.
Pasca Ramadan ini tentu kita berharap tidak ada lagi kasus OTT. Hal ini bisa terjadi bila kita betul-betul menghayati dan menjernihkan hati dan pikiran kita, sehingga dapat membedakan mana yang menjadi hak kita dan mana yang bukan hak kita. Para pejabat negara yang diamanahi oleh rakyat dapat menghayati tugas dan kewenangannya sebagai pemangku amanah.
Kejernihan pikiran yang lahir setelah Ramadan, selayaknya menyadarkan kita bahwa Allah maha melihat atas apa yang kita lakukan baik itu terang benderang maupun yang tersembunyi. Kebersihan hati seyogyanya mengantar kita untuk memiliki rasa malu, malu terhadap sesama terlebih lagi malu kepada Allah. Betapa Allah telah memberikan rahmat yang melimpah kepada kita namun, nafsu serakah lebih mendominasi sehingga rasa malu menjadi hilang.
Fenomena lain yang hampir tidak pernah hilang dalam masyarakat khususnya umat Islam adalah fenomena anak jalanan (anjal) dan pengemis. Ini suatu yang ironi ketika umat Islam mengklaim diri sebagai umat terbaik (Khairah Ummah). Bagaimana kita mengklaim sebagai umat terbaik sementara kita membiarkan saudara kita hidup dalam kemiskinan? Bukankah kita umat yang satu, yang seharusnya memilik kepedulian terhadap kehidupan saudara kita. Dan salah satu hikmah bulan Ramadhan itu adalah hadirnya kepedulian terhadap sesama.
Pasca Ramadan dan kembali kepada fitnah kemanusiaan kita, selayaknya hati dan pikiran setiap manusia yang keluar dari bulan Ramadan menjadi jernih. Hati yang jernih akan mengantar kita untuk melakukan sesuatu dengan tulus, tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang sifatnya duniawi, berpandangan objektif, dan mudah menerima nasihat. Hati yang jernih tidak goyah oleh rayuan, tidak terbang oleh pujian dan tidak tenggelam oleh cercaan. Hati yang jernih akan melahirkan ketulusan, ketenangan dan kesabaran.
Kejernihan hati yang dipadu oleh kejernihan pikiran, menjadikan batin kita tenang, hati dan pikiran menjadi sinkron, serta pikiran menjadi selaras dengan nurani. Kejernihan pikiran membuat kita fokus pada masalah yang sifatnya esensial, tidak mudah bereaksi terhadap suatu masalah atau informasi sebelum memahami esensi masalah tersebut, tidak mudah percaya berita-berita hoaks apalagi bereaksi terhadap berita hoaks. Hati dan pikiran yang jernih akan mudah menerima kebenaran dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang tidak substansial.
Pasca Ramadan dan kembalinya kita pada fitrah kemanusiaan, harusnya semakin peduli terhadap sesama, memiliki empati, kepekaan terhadap penderitaan sesama, mampu menekan ego yang hanya memikirkan kesenangan pribadi, mampu menjaga lisan dan sikap agar orang tidak tersakiti akibat lisan dan perilaku kita, termasuk tentu tidak mudah memposting hal-hal yang dapat melukai perasaan sesama. Tidak hanya itu, kita pun tidak mudah menyebar berita hoaks melalui media sosial. Pasca Ramadan ini, aktivitas kita di media sosial semakin santun, tidak mudah menyebar berita yang tidak jelas asal usulnya, apalagi bila berita itu dapat memecah belah umat atau merusak persaudaraan sesama.
Semoga kita semua kembali ke Fitah ke-manusia-an kita, Pikiran kita semakin jernih sehingga dapat membedakan yang hak dan yang batil, Hati kita semakin bersih sehingga dapat melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita lebih sabar menghadapi setiap cobaan dan Kepedulian kepada sesama semakin meningkat





















