Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Guru Besar Pendidikan Fisika Unismuh Ingatkan Dampak El Nino 2026, Masyarakat Diminta Waspadai Krisis Air

×

Guru Besar Pendidikan Fisika Unismuh Ingatkan Dampak El Nino 2026, Masyarakat Diminta Waspadai Krisis Air

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius di Indonesia pada 2026 seiring prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau tahun ini datang lebih awal di banyak wilayah dan cenderung lebih kering serta lebih panjang dibanding kondisi normal. BMKG juga menyebut sebagian besar Sulawesi termasuk wilayah yang diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih maju, dengan puncak kemarau di banyak wilayah Indonesia diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Guru Besar Pendidikan Fisika Unismuh Makassar, Prof. Nurlina, menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang memiliki pengaruh global terhadap cuaca. Fenomena ini, kata dia, dapat berdampak langsung pada berkurangnya pasokan air permukaan, memicu musim kemarau yang lebih kering, serta meningkatkan risiko krisis air di berbagai daerah.

“El Nino adalah fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang memiliki pengaruh global terhadap cuaca. Efek yang ditimbulkan dari fenomena ini dapat berdampak pada pasokan air permukaan dan membuat musim kemarau lebih kering, sehingga masyarakat harus lebih waspada dan lebih siap menghadapi kondisi tersebut,” ujarnya, saat dikonfirmasi pada Senin, 20 April 2026, di Kampus Unismuh Makassar.

Menurut Prof Nurlina, dampak El Nino tidak hanya menyentuh sektor lingkungan, tetapi juga menjalar ke sektor kesehatan dan ketahanan pangan. Perubahan cuaca yang ekstrem berpotensi meningkatkan kerawanan penyakit, terutama penyakit yang berkaitan dengan dehidrasi, gangguan pernapasan, serta penurunan daya tahan tubuh akibat suhu udara yang lebih panas dan kondisi kelembaban yang berubah.

Ia menjelaskan, kondisi ini terjadi karena adanya perubahan pola suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer yang berdampak langsung pada proses pembentukan awan. Akibatnya, distribusi hujan terganggu, sementara suhu udara terasa lebih tinggi dan kelembaban udara ikut berubah.

“Perubahan pola suhu permukaan laut dan sirkulasi atmosfer berdampak langsung pada pembentukan awan, sehingga suhu udara dan kelembaban udara ikut meningkat. Situasi ini perlu dipahami masyarakat bukan hanya sebagai perubahan cuaca biasa, tetapi sebagai fenomena yang bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari,” katanya.

Di Sulawesi Selatan, terutama Makassar, suhu panas mulai semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini, menurut Prof Nurlina, sejalan dengan prediksi BMKG bahwa kawasan pesisir selatan termasuk wilayah yang lebih awal memasuki musim kemarau, yakni mulai April 2026. Secara nasional, BMKG memang memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai masuk musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026, dengan kecenderungan musim yang lebih kering dari biasanya.

“Fenomena suhu panas mulai terasa di bagian Sulawesi Selatan, terutama Makassar. Hal ini sesuai dengan prediksi BMKG bahwa bagian pesisir selatan memang lebih awal akan mengalami kemarau, yaitu mulai April, sehingga suhu yang terasa sekarang memang sangat panas,” jelasnya.

Prof Nurlina menambahkan, suhu panas yang dirasakan warga Makassar saat ini juga dipengaruhi oleh masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Pada fase peralihan ini, tutupan awan cenderung berkurang, intensitas penyinaran matahari meningkat, dan udara terasa lebih menyengat dari biasanya.

“Makassar sekarang terasa sangat panas karena sedang memasuki masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan suhu udara meningkat dan terasa lebih panas dari biasanya,” ujarnya.

Ia menyebut suhu udara di Makassar saat ini berkisar 30 hingga 34 derajat Celsius. Meski angka tersebut masih tergolong dalam rentang yang umum untuk wilayah tropis, sensasi panasnya terasa lebih kuat. Menurutnya, suhu itu masih berpotensi meningkat pada bulan-bulan berikutnya, terutama dari Mei hingga September, seiring menguatnya musim kemarau dan kemungkinan pengaruh El Nino.

Karena itu, Prof Nurlina mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini. Di sektor pertanian, ia mendorong penerapan irigasi yang efisien, penggunaan varietas tanaman tahan kering, serta pengelolaan hama dan penyakit secara lebih adaptif. Di tingkat rumah tangga dan masyarakat, upaya penghematan air, menjaga kesehatan tubuh, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca menjadi langkah yang tak kalah penting.

“Untuk mengatasi dampak El Nino, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti penerapan irigasi yang efisien, penggunaan varietas tanaman tahan kering, serta pengelolaan hama dan penyakit. Yang paling penting adalah kesiapan masyarakat untuk beradaptasi lebih awal,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dapat bersama-sama memperkuat literasi kebencanaan iklim agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi krisis sosial yang lebih luas.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply