Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

Menuju 2029, Unismuh Makassar Matangkan Ikhtiar Pertahankan Akreditasi Unggul

×

Menuju 2029, Unismuh Makassar Matangkan Ikhtiar Pertahankan Akreditasi Unggul

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR  – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mulai menata langkah lebih dini untuk mempertahankan akreditasi unggul dari Badan Nasional Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT). Dalam Lokakarya Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi yang digelar di Balai Sidang Unismuh Makassar, Senin, 20 April 2026, kampus ini menegaskan bahwa akreditasi bukan pekerjaan musiman, melainkan proses panjang yang harus dibangun secara terencana, terukur, dan berkelanjutan.

Lokakarya tersebut menjadi penanda bahwa Unismuh tidak ingin menghadapi akreditasi dengan pola kerja dadakan. Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, ST, MT, IPU, menekankan bahwa target unggul harus dipersiapkan sejak jauh hari, terutama karena dokumen akreditasi institusi ditargetkan diunggah paling lambat pada Juni 2028.

“Akreditasi itu tidak boleh by accident, tetapi harus by design,” ujar Rakhim Nanda di hadapan pimpinan universitas, dekan, ketua program studi, tim penjaminan mutu, serta pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) dari kawasan Indonesia Timur.

Bagi Unismuh, kerja menuju unggul bukan dimulai di ruang arsip saat tenggat makin dekat. Kerja itu, menurut Rakhim, harus hidup dalam kebiasaan manajemen kampus sehari-hari. Karena itu, butir-butir akreditasi mesti menjadi bagian dari siklus peningkatan mutu berkelanjutan, bukan sekadar kumpulan dokumen yang disusun menjelang penilaian.

Muhasabah Kelembagaan

Sebelum sesi pembukaan, lokakarya diawali dengan pengajian yang disampaikan Dr. KH. Mawardi Pewangi. Ia mengajak seluruh peserta melihat agenda akreditasi bukan semata sebagai urusan administratif, melainkan bagian dari muhasabah kelembagaan. Menurut dia, lembaga perlu terus melakukan evaluasi mendalam dan berkelanjutan atas kebijakan, kinerja, serta transparansi agar amanah dapat dijalankan dengan baik, jujur, dan profesional.

Mawardi mengingatkan bahwa evaluasi diri adalah jalan untuk memastikan lembaga tidak berjalan di tempat. Dalam pandangannya, institusi yang baik ialah institusi yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin. Karena itu, ia menekankan pentingnya budaya pembaruan, pengawasan, dan kesadaran bahwa seluruh kerja kelembagaan pada akhirnya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT.

Perkembangan Unismuh

Saat ini, Unismuh memiliki 73 program studi. Jumlah itu bertambah dari 58 program studi pada beberapa tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut, di satu sisi, menunjukkan ekspansi kelembagaan. Namun, di sisi lain, juga menuntut konsolidasi mutu yang lebih rapat. Komposisi program studi Unismuh saat ini terdiri atas 30 program studi unggul, 2 terakreditasi internasional, 14 baik sekali, 12 baik, dan 15 program studi baru.

Di hadapan peserta lokakarya, Rakhim memaparkan sejumlah indikator kunci yang menjadi syarat perlu menuju akreditasi unggul perguruan tinggi swasta akademik. Di antaranya adalah pelampauan standar SPMI, proporsi program studi unggul, jumlah dosen berkualifikasi doktor, guru besar dan lektor kepala, luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, diferensiasi mutu, serta rekognisi nasional dan internasional.

Menurut dia, beberapa syarat dasar sebenarnya telah berada di jalur yang menggembirakan. Persentase program studi unggul Unismuh telah mencapai 43,84 persen. Dosen berkualifikasi doktor tercatat 38,22 persen. Sementara proporsi guru besar dan lektor kepala telah menyentuh 18,39 persen. Akan tetapi, tantangan utama tetap berada pada konsistensi luaran riset, penguatan rekognisi internasional, serta pembenahan mutu yang harus bergerak serempak di seluruh unit.

Ia menyebut, pada tahun sebelumnya, luaran penelitian dan pengabdian yang terindeks telah melampaui 825 karya. Namun, capaian itu tidak bisa dianggap aman bila tidak dijaga secara sistematis. Karena itu, postur kebijakan kampus ke depan akan semakin diarahkan pada penguatan riset, pengabdian, dan produktivitas akademik dosen.

Di luar ukuran akademik, Unismuh juga menunjukkan kehendak untuk memperluas rekam jejak reputasi. Dalam paparannya, Rakhim menyebut kampus itu telah masuk dalam radar sejumlah pengakuan internasional, termasuk pemeringkatan dunia dan Asia, serta mencatat capaian yang menonjol dalam UI GreenMetric. Ia bahkan menargetkan kampus bebas sampah atau zero waste pada tahun ini, sebagai bagian dari tata kelola kampus modern yang tidak hanya kuat di ruang kuliah, tetapi juga tertib dalam ekosistem keseharian.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Ambo Asse, yang membuka lokakarya itu, memberi tekanan pada pentingnya komitmen bersama. Menurut dia, keunggulan yang telah diraih tidak boleh berhenti sebagai status administratif. Keunggulan justru harus bergerak maju, menandai peningkatan mutu yang lebih tinggi dari capaian sebelumnya.

“Komitmen betul-betul jangan lagi didiskusikan bahwa kenapa begini, kenapa begitu. Pokoknya apa yang digariskan dalam proses untuk akreditasi ini kita kerjakan dengan baik, dengan sungguh-sungguh,” kata Ambo Asse.

Ia juga menilai target unggul 2028 harus dijaga tanpa pergeseran. Bagi dia, persiapan dua tahun lebih harus dimaknai sebagai kerja kolektif yang disiplin dan tidak boleh dibiarkan melemah oleh perdebatan yang tidak produktif. Karena itu, ia mengapresiasi langkah pembagian tugas dan penguatan kelembagaan yang dilakukan pimpinan Unismuh sebagai bagian dari ikhtiar memperlancar proses akreditasi.

Ambo Asse menambahkan, penguatan mutu akademik harus berjalan seiring dengan penguatan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan di lingkungan kampus. Dalam konteks itu, ia menyinggung pentingnya Darul Arqam, keteladanan dosen dan tenaga kependidikan, serta disiplin etis di ruang kampus sebagai bagian dari pembentukan budaya institusi yang tidak hanya unggul di atas kertas, tetapi juga hidup dalam praktik keseharian.

Bagi Unismuh, target mempertahankan Akreditasi Unggul tahun 2029 tampaknya tidak dibaca sebagai garis akhir. Ia lebih menyerupai tanjakan panjang yang menuntut napas kolektif, kerja yang rapi, serta keberanian menata diri sejak sekarang. Dan di kampus yang tengah membesarkan dirinya itu, akreditasi tidak lagi diperlakukan sebagai dokumen penilaian semata, melainkan sebagai cara melihat masa depan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply