
Foto: Agus Linting
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Enam kelompok teater dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan tampil dalam Festival Teater Cerita Rakyat Sulawesi Selatan 2026 yang digelar di panggung DKSS Kota Makassar, Jumat-Ahad, 8-10 Mei 2026.
Festival ini menjadi ruang apresiasi sekaligus upaya menghidupkan kembali cerita rakyat lokal melalui pertunjukan panggung yang lebih dekat dengan generasi muda.
Seluruh peserta merupakan kelompok terpilih hasil kurasi Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) bersama tim kurator independen yang terdiri atas Dr. Asia Ramli Prapanca, Moch Hasymi Ibrahim, Chairuddin Hakim, Alif Anggara, dan Djamal Dilaga.
Adapun enam kelompok yang tampil dalam festival tersebut yakni Teater Kampong Bulukumba, Bengkel Sastra UNM Makassar, Dewan Kesenian Kota Palopo, Teater Ruang Kelima, Lembaga Salokoa, dan B-Merdhu Production.
Pada malam pertama pertunjukan, Teater Kampong Bulukumba membuka festival melalui pementasan naskah “Pallaha Tuka”. Cerita rakyat itu diolah dengan pendekatan dramatik kontemporer tanpa meninggalkan nuansa lokal masyarakat Bulukumba.
Sementara itu, Bengkel Sastra UNM Makassar menampilkan pertunjukan “Songka Bala” yang memadukan unsur ritual, musikalitas tradisional, dan pembacaan sosial terhadap kehidupan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan.
Festival ini menghadirkan beragam pendekatan artistik. Sejumlah kelompok mengusung pola teater realis, sementara lainnya mengeksplorasi teater tubuh, simbolisme tradisional, hingga perpaduan musik etnik dan multimedia dalam pertunjukan mereka.
Panitia festival menyebut kegiatan tersebut diarahkan untuk menggali kembali kekayaan cerita rakyat Sulawesi Selatan agar tetap hidup dan dapat diterima generasi muda melalui bahasa pertunjukan modern.
Selain menjadi ruang presentasi karya, festival ini juga menjadi momentum konsolidasi bagi kelompok-kelompok teater daerah yang selama ini berkembang secara mandiri di berbagai kota dan kabupaten di Sulawesi Selatan.
Festival Teater Cerita Rakyat Sulawesi Selatan 2026 mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Dana Indonesiana dan LPDP. Dukungan itu dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan ruang kebudayaan dan ekosistem seni pertunjukan di daerah.
Sejumlah seniman dan tokoh budaya turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Firman Djamil, Yudistira Sukatanya, Moch Hasymi Ibrahim, Mahrus Andis, Andi Wanua Tangke, Bahar Merdhu, Asia Ramli Prapanca, Rusdin Tompo, Ah Rimba, Is Hakim, Ahmadi Haruna, dan Armin Mustamin Toputiri.
Hadir pula legislator Makassar Andi Makmur Burhanuddin, Ketua Jurusan Sendratasik UNM, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulawesi Selatan, serta tokoh budaya dan adat Gowa, YM Andi Muhammad Imam Daeng Situju Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaenta Lembang Parang Sultan Malikul Said Batara Gowa III selaku putra mahkota Kerajaan Gowa.




















