KHITTAH.CO, Makassar — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan (Sulsel) mengutus empat delegasi untuk mengikuti Pelatihan Instruktur Muballigh dan Tata Kelola Masjid yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Tabligh Institute Muhammadiyah, Rabu-Sabtu, 20–23 Mei 2026.
Pelatihan nasional tersebut menjadi bagian dari agenda strategis Muhammadiyah dalam memperkuat kualitas dakwah, standarisasi muballigh, serta pengembangan tata kelola masjid Muhammadiyah berbasis manajemen modern dan berkemajuan.
Empat delegasi yang diutus PWM Sulsel yakni Muh. Husain Kamaruddin, S.Th.I., M.Pd.I selaku Ketua PDM Enrekang, Andi Junaede, S.Pd., M.Pd selaku Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Sulsel, Arinal Hidayah, S.Sos., M.Sos, Ketua Bidang Sistem Informasi Dakwah dan Digitalisasi Tabligh, serta Fajaruddin , S.Pd.I., M.Pd dari PDM Sinjai.
Kegiatan tersebut diikuti utusan Majelis Tabligh dari berbagai wilayah di Indonesia dan berlangsung selama empat hari dengan fokus pembahasan mengenai penguatan instruktur muballigh, tata kelola masjid Muhammadiyah, pengembangan Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM), hingga penguatan sistem dakwah berbasis digital.
Wakil Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Waluyo, Lc., MA dalam sambutannya menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari strategi besar Muhammadiyah dalam memperkuat gerakan dakwah Islam berkemajuan.
Menurutnya, dakwah Muhammadiyah ke depan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional, tetapi harus ditopang sistem manajemen dakwah yang terstruktur, profesional, dan terstandarisasi.
“Tidak bisa kita berbicara dakwah besar tanpa manajemen yang kuat. Dakwah membutuhkan sistem, standardisasi, dan sumber daya manusia yang terus dilatih,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelatihan instruktur tersebut diharapkan mampu melahirkan kader-kader pelatih dakwah di tingkat wilayah dan daerah yang nantinya dapat menindaklanjuti pelatihan serupa di daerah masing-masing.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi implementasi amanat Muktamar Muhammadiyah ke-48 terkait standarisasi manajemen tabligh, penguatan tata kelola masjid, dan integrasi Korps Muballigh Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Waluyo turut menekankan pentingnya pengembangan dakwah Muhammadiyah berbasis kemasjidan. Menurutnya, masjid Muhammadiyah harus berkembang menjadi pusat pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan umat.
“Masjid Muhammadiyah ke depan bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pengembangan umat dan peradaban,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah, Dr. Ikhwan Ahada, menegaskan bahwa tabligh merupakan jantung gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri.
Menurutnya, kemajuan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, hingga ekonomi merupakan hasil dari dakwah yang dilakukan secara sistematis dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Tabligh Muhammadiyah bukan hanya ceramah, tetapi bagaimana menghadirkan Islam yang menjadi solusi di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Muhammadiyah memiliki kekuatan dalam menghadirkan Islam yang moderat, berkemajuan, dan kontekstual tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Qur’an dan Sunnah.
Pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas para peserta sebagai instruktur muballigh yang nantinya menjadi penggerak dakwah Muhammadiyah di wilayah masing-masing, termasuk dalam penguatan tata kelola masjid dan transformasi dakwah digital di era modern.




















