Scroll untuk baca artikel
Berita

Darul Arqam Unismuh Makassar, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Serukan Lahirnya Intelektual Organik, Bukan Menara Gading

×

Darul Arqam Unismuh Makassar, Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Serukan Lahirnya Intelektual Organik, Bukan Menara Gading

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Bachtiar Dwi Kurniawan, menyampaikan pesan kuat kepada sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Makassar agar tidak berhenti menjadi kaum terdidik yang sibuk dengan capaian akademik pribadi. Dalam Darul Arqam Angkatan IV Unismuh Makassar, ia menyerukan pentingnya melahirkan intelektual organik, yakni intelektual yang membumi, kritis, solutif, dan berpihak pada masyarakat.

Di hadapan peserta pembukaan Darul Arqam yang berlangsung di Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Kamis, 21 Mei 2026, Bachtiar mengingatkan bahwa kemajuan Muhammadiyah tidak boleh hanya tampak pada gedung, amal usaha, infrastruktur, dan capaian institusional. Kemajuan itu, katanya, harus diisi dengan jiwa, spirit, dan ideologi agar tidak kehilangan arah.

“Kemajuan itu jangan sampai kropos. Kemajuan itu harus diisi dengan jiwa. Diisi dengan spirit. Diisi dengan ideologi,” kata Bachtiar.

Menurut Bachtiar, Darul Arqam menjadi ruang penting untuk menyamakan gelombang bermuhammadiyah. Ia menyebut penguatan ideologi, paham keislaman, dan kemuhammadiyahan tidak boleh berhenti di ruang normatif, tetapi harus turun ke amal usaha, organisasi otonom, jamaah, dan kehidupan sosial warga Muhammadiyah.

Dalam konteks perguruan tinggi, Bachtiar menyoroti posisi dosen sebagai kader terdidik Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa dosen Muhammadiyah tidak cukup hanya pandai meneliti, menulis jurnal, mengejar angka kredit, atau memenuhi jabatan fungsional. Semua capaian itu penting, tetapi menjadi hampa apabila tidak memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia lalu mengutip gagasan Antonio Gramsci tentang intelektual tradisional dan intelektual organik. Menurut Bachtiar, Muhammadiyah tidak menghendaki lahirnya intelektual tradisional yang hanya berdiri di menara gading dan abai terhadap penderitaan masyarakat.

“Masyarakat mau bodoh, nggak peduli. Masyarakat susah, nggak peduli. Pemerintah ugal-ugalan, nggak peduli. Yang penting publikasi saya jalan. Yang penting kum saya meningkat. Yang penting jabatan fungsional saya tercapai,” ujarnya.

Bachtiar menegaskan, sikap seperti itu bertentangan dengan watak dakwah Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah, ilmu harus menjadi jalan keberpihakan. Riset harus melahirkan solusi. Intelektualisme harus menjadi energi perubahan sosial.

“Nah Muhammadiyah nggak ingin kader-kadernya, termasuk kader-kadernya dosen ini, hanya menjadi intelektual tradisional. Tapi intelektual organik seperti yang digambarkan oleh Antonio Gramsci,” kata Bachtiar.

Ia kemudian merumuskan watak intelektual organik Muhammadiyah sebagai intelektual yang kritis, solutif, problem solver, dan down to earth. Intelektual seperti ini tidak hanya membaca persoalan dari ruang kelas, tetapi hadir dalam denyut kehidupan masyarakat.

“Jadilah intelektual kritis, intelektual yang solutif, intelektual yang problem solver, intelektual yang down to earth, yang melakukan gerak-gerak dakwah memberikan solusi kepada masyarakat,” ujarnya.

Bachtiar juga mengingatkan agar hasil penelitian dosen tidak jatuh ke dalam “valley of death” atau lembah kematian. Istilah itu ia gunakan untuk menggambarkan banyaknya riset dan inovasi yang berhenti di laboratorium, laporan, gudang, atau dokumen visitasi tanpa pernah menyentuh kebutuhan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong sinergi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Dalam pandangannya, ilmu yang diproduksi kampus Muhammadiyah harus bergerak keluar, menjawab persoalan umat, dan menjadi bagian dari dakwah berkemajuan.

“Ilmu Bapak Ibu itu menjadi bermanfaat, solutif bagi kehidupan,” katanya.

Selain kompetensi intelektual akademik, Bachtiar menegaskan pentingnya kompetensi ideologis. Dosen Muhammadiyah, katanya, perlu memahami untuk apa ilmu digunakan, kepada siapa ilmu berpihak, dan melalui jalan apa ilmu itu diabdikan.

Baca juga: Darul Arqam Unismuh Makassar, Agung Danarto: Muhammadiyah Hadir untuk Membangun Rahmat dan Keadilan Sosial

Ia mendorong peserta Darul Arqam agar tidak berhenti sebagai pegawai amal usaha. Mereka diminta aktif dalam Muhammadiyah, baik di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, maupun pusat. Amal usaha, menurut Bachtiar, adalah sarana dakwah dan alat perjuangan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Pesan Bachtiar dalam Darul Arqam IV Unismuh menjadi kritik sekaligus panggilan moral bagi dunia akademik Muhammadiyah. Di tengah kampus yang terus mengejar akreditasi, publikasi, dan reputasi, ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tidak boleh hanya administratif dan akademik.

Perguruan tinggi Muhammadiyah, dalam pesan itu, ditantang untuk melahirkan sarjana, dosen, dan peneliti yang bukan hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara ideologis, peka terhadap ketidakadilan, dan berani turun menyelesaikan masalah umat.

“Jadilah intelektual organik” bukan sekadar seruan akademik. Ia adalah panggilan dakwah: agar ilmu tidak mati di rak laporan, agar kampus tidak terpisah dari masyarakat, dan agar kader Muhammadiyah menjadikan pengetahuan sebagai jalan ibadah, keberpihakan, dan kemaslahatan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply