KHITTAH.CO, Makassar — Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Makassar menggelar Pendidikan IMMawati, Jumat-Ahad, 22–24 Mei 2026 di Pusat Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (Pusdam) Sulawesi Selatan (Sulsel), Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Mengusung tema “Resilient IMMawati: Creating Impact”, kegiatan ini menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif mengenai keadilan gender, ruang aman perempuan, dan kolaborasi laki-laki serta perempuan dalam menghadirkan perubahan sosial yang inklusif dan berkemajuan.
Ketua Panitia Pendidikan IMMawati, Safira Almay Tiara, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar forum pembahasan isu perempuan, melainkan ruang penguatan kesadaran sosial bersama bagi seluruh kader IMM.
“Pendidikan IMMawati ini kami hadirkan sebagai ruang refleksi dan penguatan kesadaran bahwa perjuangan menghadirkan keadilan dan ruang yang aman bagi perempuan bukan hanya tugas perempuan semata. Laki-laki dan perempuan harus menjadi mitra gerakan untuk menciptakan perubahan sosial yang lebih adil dan berkemajuan,” ujar Safira.
Menurutnya, tema “Resilient IMMawati: Creating Impact” dipilih untuk menegaskan pentingnya melahirkan kader IMMawati yang memiliki ketahanan dalam berpikir, bersikap, dan bergerak di tengah tantangan sosial yang terus berkembang.
“Kami ingin melahirkan IMMawati yang tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, organisasi, dan lingkungan sosialnya,” katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti sejumlah materi yang membahas persoalan perempuan, relasi sosial, hingga penguatan nilai-nilai keislaman. Pada materi Sejarah Islam dan Keberpihakan terhadap Perempuan, peserta diajak memahami bagaimana Islam hadir membawa misi keadilan dan pembebasan, termasuk mengangkat posisi perempuan dari berbagai bentuk marginalisasi pada masa awal peradaban Arab.
Peserta juga mengikuti pembahasan Tafsir Feminisme dan Misoginis yang menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya memahami teks agama secara kontekstual agar tidak melahirkan tafsir yang bias maupun pandangan yang merendahkan perempuan.
Sementara itu, pada sesi Dialektika Perempuan Berkemajuan, peserta mendiskusikan posisi perempuan sebagai subjek perubahan sosial yang memiliki peran strategis dalam pendidikan, organisasi, hingga kehidupan masyarakat.
Pendalaman nilai keislaman dilakukan melalui tadabbur Surah At-Taubah dan Surah An-Nisa. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami relasi laki-laki dan perempuan sebagai hubungan yang saling melengkapi, bukan relasi dominasi.
Forum ini juga membahas berbagai bentuk ketidakadilan gender yang masih terjadi di masyarakat, mulai dari stereotip, subordinasi, marginalisasi, hingga kekerasan berbasis gender. Diskusi diarahkan untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya relasi yang adil, aman, dan saling menghormati.
Pada sesi Dialog Keperempuanan, peserta mendiskusikan sejumlah isu aktual melalui tiga tema utama. Tema pertama membahas problematika perempuan di Kota Makassar, termasuk kasus kekerasan terhadap perempuan, pelecehan, perlindungan hukum, serta tantangan sosial yang masih membatasi ruang aman perempuan.
Tema kedua mengangkat dinamika kesetaraan gender dalam politik, khususnya tantangan perempuan dalam representasi politik, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan publik. Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam politik bukan sekadar memenuhi kuota, tetapi menghadirkan perspektif yang lebih inklusif dalam pembangunan sosial.
Adapun tema ketiga membahas Peran Strategis Perempuan Berkemajuan sebagai aktor perubahan dalam kehidupan sosial, pendidikan, organisasi, dan kebangsaan. Pada sesi ini peserta turut mendalami tujuh karakteristik perempuan berkemajuan serta implementasi Risalah Perempuan Muhammadiyah dalam mencerahkan kehidupan bangsa.
Melalui Pendidikan IMMawati ini, PC IMM Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga memiliki keberanian berpikir kritis, kepedulian terhadap isu sosial, dan komitmen menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Kontributor: Raihan Syawaluddin
Editor: Asywid




















