Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Spirit Nabi Ibrahim Diuji oleh Individualisme Modern

×

Ketika Spirit Nabi Ibrahim Diuji oleh Individualisme Modern

Share this article

Oleh: Siti Suwadah Rimang*

Hari Raya Iduladha selalu datang membawa pesan yang tidak sederhana. Ia bukan hanya tentang gema takbir, hewan kurban, atau tradisi tahunan yang berulang. Di balik itu semua, Iduladha menghadirkan satu pertanyaan besar bagi kehidupan manusia modern: masihkah kita memiliki hati yang rela berkorban untuk orang lain?

Kisah Nabi Ibrahim a.s. sesungguhnya adalah kisah tentang cinta, keikhlasan, dan kepatuhan yang melampaui logika manusia. Ketika Allah memerintahkan beliau untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail a.s., yang diuji bukan sekadar perasaan seorang ayah, melainkan kualitas iman dan kemanusiaannya. Nabi Ibrahim tidak sedang kehilangan cinta kepada anaknya. Sebaliknya, beliau sedang membuktikan bahwa cinta kepada Allah melahirkan ketulusan, pengorbanan, dan keikhlasan yang sempurna.

Namun hari ini, spirit besar itu seperti sedang diuji kembali oleh kehidupan modern yang perlahan menjauhkan manusia dari empati. Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kepedulian. Media sosial dipenuhi pencapaian, kemewahan, dan pengakuan diri. Semua orang ingin terlihat bahagia, sukses, dan sempurna. Tetapi di tengah keramaian itu, ada sesuatu yang perlahan hilang dari kehidupan kita: kemampuan untuk benar-benar peduli kepada sesama.

Ironisnya, semakin modern kehidupan manusia, semakin banyak pula orang yang merasa sendiri. Tetangga tidak lagi saling mengenal. Banyak orang lebih akrab dengan layar telepon genggam dibanding suara orang tuanya sendiri. Kita mudah memberikan “like” pada unggahan orang lain, tetapi sulit meluangkan waktu untuk mendengar kesedihan mereka. Kita cepat tersentuh oleh video viral, tetapi sering menutup mata terhadap penderitaan yang ada di sekitar kita.

Di sinilah Iduladha menjadi sangat penting untuk direnungkan kembali. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kurban adalah latihan untuk menyembelih ego, keserakahan, dan rasa memiliki yang berlebihan. Kurban mengajarkan bahwa hidup tidak hanya tentang “aku”, tetapi juga tentang “kita”. Bahwa sebagian dari rezeki yang kita miliki sesungguhnya ada hak orang lain di dalamnya.

Spirit Nabi Ibrahim mengajarkan keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling dicintai demi kebaikan yang lebih besar. Sedangkan individualisme modern sering kali mengajarkan hal sebaliknya: simpan semuanya untuk diri sendiri. Hari ini, banyak orang takut berbagi karena khawatir kekurangan. Banyak yang enggan menolong karena merasa bukan urusannya. Bahkan tidak sedikit yang mulai kehilangan kepekaan terhadap penderitaan sesama. Kita hidup berdampingan, tetapi hati kita saling berjauhan.

Padahal, kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin mudah menebar kebaikan, bukan semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Kita mungkin tidak menyadari bahwa dunia modern sedang menciptakan manusia-manusia yang lelah secara emosional. Banyak orang memiliki ribuan pengikut di media sosial, tetapi tidak memiliki tempat bercerita ketika hatinya terluka. Banyak yang terlihat tertawa di depan kamera, tetapi diam-diam menangis dalam kesepian. Banyak yang tampak kuat, padahal sebenarnya sedang kehilangan arah hidup.

Karena itulah, dunia hari ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan manusia yang memiliki empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan luka orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Empati membuat manusia mampu berbagi, menolong, mendengar, dan memahami. Dan semua itu adalah nilai yang sangat kuat dalam spirit Iduladha.

Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan bahwa pengorbanan terbesar lahir dari hati yang penuh cinta. Bukan cinta yang egois, tetapi cinta yang memberi kehidupan kepada orang lain. Maka sesungguhnya, Iduladha adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita menjadi manusia yang lebih peduli? Sudahkah kita hadir untuk orang-orang yang membutuhkan? Sudahkah kita menggunakan hidup ini untuk meringankan beban sesama? Barangkali, yang perlu dikurbankan hari ini bukan hanya harta atau hewan ternak. Bisa jadi yang perlu dikurbankan adalah kesombongan kita, rasa acuh kita, atau kebiasaan kita yang terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.

Sebab dunia tidak sedang kekurangan orang kaya. Dunia sedang kekurangan orang yang tulus. Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang rela mendengar tanpa menghakimi, membantu tanpa dipuji, dan berbagi tanpa harus dipamerkan. Kita membutuhkan hati-hati yang lembut, yang tidak tega melihat orang lain menderita sendirian. Spirit Nabi Ibrahim adalah spirit tentang keteguhan iman sekaligus kelembutan hati. Dan nilai itulah yang seharusnya hidup kembali di tengah masyarakat modern hari ini.

Iduladha mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari apa yang berhasil kita berikan kepada orang lain. Mungkin dunia modern telah mengajarkan manusia untuk berlomba menjadi paling sukses. Tetapi Iduladha mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama. Pada akhirnya, kurban bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggilan kemanusiaan. Sebuah ajakan untuk kembali menjadi manusia yang memiliki hati. Dan di tengah dunia yang semakin individualis ini, barangkali bentuk ibadah paling sederhana namun paling dibutuhkan adalah: menjadi manusia yang peduli.

*Anggota Majelis Pembina Kader-Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar Sul-Sel

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UNISMUH MAKASSAR

Leave a Reply