KHITTAH.CO, Makassar – Sebanyak 59 peserta dari berbagai wilayah Sulawesi dan kawasan Indonesia Timur mengikuti sesi Konsolidasi Organisasi bertema “Transformasi Kader ‘Aisyiyah” dalam rangkaian Konsolidasi dan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Berkemajuan Regional Sulawesi yang berlangsung di Makassar, Senin, 30 Mei 2026.
Peserta berasal dari unsur PWA se Regional Sulawesi sebanyak 25 orang yang berasal dari 5 Propinsi, Majelis Pembinaan Kader PDA Sulawesi Selatan sebanyak 31 orang yang berasal dari 15 PDA, peserta organisasi otonom putri Muhammadiyah (AMM) sebanyak 3 orang.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.30 hingga 13.15 WITA ini menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Prof. Dr. Mami Hajaroh, M.Pd. dan Dr. Nurlinda Aziz, S.S., M.Si., dengan moderator Dr. Eka Damayanti, S.Psi., M.A.
Dalam pemaparannya, Prof. Mami Hajaroh menegaskan bahwa tantangan terbesar organisasi saat ini bukan sekadar mengisi posisi kepemimpinan, melainkan menghadirkan kader yang mampu menjadi agen perubahan sosial.
Menurutnya, transformasi kader harus dimaknai sebagai proses perubahan substantif yang melahirkan kader dengan tiga karakter utama, yaitu memiliki kesadaran ideologis yang kuat, kapasitas intelektual yang memadai, dan kemampuan praksis sosial yang berdampak bagi masyarakat.
“Keberhasilan kaderisasi tidak diukur dari banyaknya kader yang direkrut atau banyaknya posisi yang terisi, tetapi dari sejauh mana kader mampu menghadirkan perubahan sosial yang berkelanjutan,” tegas Prof. Mami.
Ia kemudian memperkenalkan Model SITDA (Systemic-Ideological-Transformative-Impact Cadre System) sebagai kerangka kaderisasi yang dirancang untuk menjawab tantangan regenerasi organisasi secara sistematis. Model tersebut dimulai dari rekrutmen berbasis multi-pilar, pemetaan talenta kader, penguatan ideologi dan intelektualitas, sistem mentoring, hingga pengukuran dampak sosial dan kebijakan yang dihasilkan kader.
Sementara itu, Dr. Nurlinda Aziz membagikan praktik-praktik baik transformasi kader yang telah diterapkan di Sulawesi Selatan. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan kaderisasi tidak dapat bertumpu pada satu jalur saja, tetapi harus dibangun melalui lima pilar pengkaderan yang saling terhubung.
Kelima pilar tersebut meliputi pengkaderan dalam keluarga, amal usaha, organisasi otonom Muhammadiyah (AMM), komunitas, dan struktur pimpinan organisasi.
“Kaderisasi harus dimulai dari rumah, diperkuat melalui amal usaha dan ortom, diperluas melalui komunitas, lalu diberi ruang bertumbuh dalam struktur kepemimpinan,” jelasnya.
Konsolidasi ini menjadi momentum strategis bagi ‘Aisyiyah untuk memperkuat agenda regenerasi kepemimpinan perempuan di kawasan Sulawesi. Melalui pendekatan kaderisasi yang lebih terstruktur, organisasi diharapkan mampu melahirkan pemimpin perempuan berkemajuan yang tidak hanya kuat secara ideologis, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial, pendidikan, keluarga, dan kemanusiaan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Majelis Pembinaan Kader Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam memperkuat kapasitas kepemimpinan perempuan sekaligus memastikan keberlanjutan gerakan dakwah dan pemberdayaan masyarakat yang menjadi ciri khas ‘Aisyiyah selama lebih dari satu abad.




















