KHITTAH.CO, JAMBI — Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah New South Wales (PRIA NSW), Australia, meluncurkan website organisasi sebagai pusat informasi, komunikasi, dan penguatan jaringan dakwah di lingkungan masyarakat Indonesia di Australia.
Peluncuran website yang digelar secara daring pada Sabtu, 11 Juli 2026, itu merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) kerja sama internasional Universitas Muhammadiyah Jambi, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jambi, dan PRIA NSW.
Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengenalan website. Para pengurus kedua organisasi juga bertukar pengalaman mengenai pengelolaan organisasi dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung kegiatan sosial, pendidikan, serta keagamaan.
Hadir dalam kegiatan itu Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jambi Dr Irmanelly, S.E., M.E., tim PkM Universitas Muhammadiyah Jambi, jajaran PWA Jambi, serta pengurus PRIA NSW. Tim pengabdian diketuai Endah Tri Kurniasih, S.IP., M.M.
Memperluas Jangkauan Organisasi
Website ‘Aisyiyah NSW dirancang sebagai ruang digital yang memuat informasi organisasi, kegiatan, program, serta berbagai bentuk layanan kepada anggota dan masyarakat. Kehadiran laman tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah sekaligus memudahkan komunikasi di tengah kondisi geografis anggota yang tersebar.
Ikhsan, anggota tim yang menangani pengembangan website, memaparkan struktur, fungsi, dan cara pengelolaan laman tersebut. Peserta kemudian memberikan sejumlah masukan agar website dapat dikelola secara berkelanjutan dan menyesuaikan kebutuhan organisasi.
Website itu menjadi salah satu luaran utama program PkM internasional. Namun, keberhasilan pemanfaatannya tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan pengurus menyediakan informasi yang akurat, memperbarui konten secara rutin, dan membangun interaksi dengan masyarakat.
Karena itu, peluncuran website sekaligus menjadi langkah awal dalam membangun budaya kerja organisasi yang lebih terbuka, terdokumentasi, dan berbasis teknologi.
Belajar dari Pengalaman Jambi dan Australia
Sekretaris PWA Jambi Endah Tri Kurniasih memaparkan praktik pengelolaan organisasi yang telah diterapkan di wilayahnya. Ia menjelaskan pentingnya pembagian tugas, koordinasi antarmajelis dan lembaga, dokumentasi kegiatan, serta pemanfaatan media digital dalam menyampaikan program kepada masyarakat.
Ketua PRIA NSW Annie Megarezki Upton kemudian membagikan pengalaman mengelola organisasi ‘Aisyiyah di Australia. Kondisi anggota yang tinggal berjauhan serta kesibukan pekerjaan dan keluarga membuat organisasi perlu mengembangkan pola komunikasi yang lebih fleksibel.
Teknologi digital, menurut Annie, membantu pengurus menjaga hubungan antaranggota, menyelenggarakan pertemuan, dan mengabarkan kegiatan kepada masyarakat Indonesia di New South Wales.
Pertukaran pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tata kelola organisasi tidak dapat diterapkan dengan satu pola yang seragam. Setiap wilayah perlu menyesuaikan cara kerja dengan keadaan sosial, budaya, dan geografis masyarakat yang dilayani.
PWA Jambi dan PRIA NSW sepakat untuk terus memperkuat kerja sama, terutama dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan informasi, serta pengembangan program sosial dan keagamaan.
Digitalisasi Bukan Sekadar Memiliki Website
Kegiatan tersebut juga menegaskan bahwa transformasi digital organisasi tidak cukup dilakukan dengan membuat website atau akun media sosial. Digitalisasi perlu diikuti dengan penguatan kemampuan pengurus, pengelolaan data, penyusunan konten, serta pembagian tanggung jawab yang jelas.
Kerja sama Universitas Muhammadiyah Jambi, PWA Jambi, dan PRIA NSW diarahkan untuk meningkatkan kapasitas digital organisasi, memperluas jaringan kerja sama, serta membuat pengelolaan program menjadi lebih efektif dan efisien.
Semangat ukhuwah atau persaudaraan dan ta’awun atau saling menolong menjadi dasar kolaborasi tersebut. Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki masing-masing lembaga dibagikan agar dapat berkembang bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Melalui kolaborasi lintas negara itu, ‘Aisyiyah diharapkan semakin adaptif dalam menghadapi perubahan, tanpa meninggalkan identitas gerakannya dalam bidang dakwah, pendidikan, pemberdayaan perempuan, dan pelayanan sosial.




















