KHITTAH.CO, JAKARTA — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi membuka Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 bertema “Penguatan Media AfiliasiMu di Era Digital” di Auditorium dr. Syafri Guricci FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu, 12 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung hingga Kamis, 13 Agustus 2026, menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas, kualitas konten, dan kolaborasi media-media yang berafiliasi dengan Muhammadiyah di tengah perubahan ekosistem informasi digital.
Jambore tersebut diikuti lebih dari 60 peserta dari berbagai daerah, meskipun panitia sebelumnya membatasi jumlah peserta sebanyak 50 orang. Peserta datang dari sejumlah wilayah, antara lain Padang, Lampung, Metro, Makassar, Tangerang Selatan, dan daerah lainnya.
Wakil Rektor IV UMJ, Dr. Septa Candra, S.H., M.H., saat menyampaikan sambutan sebagai tuan rumah, menilai keberadaan media afiliasi Muhammadiyah memiliki posisi strategis di tengah derasnya arus informasi digital.
Menurut Septa, perubahan teknologi menuntut media Muhammadiyah untuk mampu beradaptasi. Sebagai organisasi yang modern dan progresif, Muhammadiyah dinilai tidak boleh tertinggal dalam memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi.
“Media afiliasi Muhammadiyah harus mampu dan mau menyesuaikan dengan era digital saat sekarang ini,” ujarnya.
Ia menekankan, tantangan media saat ini bukan sekadar bagaimana menyampaikan informasi dengan cepat, tetapi juga memastikan informasi tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, masyarakat kini menerima informasi dari berbagai kanal digital dengan sangat cepat. Dalam kondisi tersebut, informasi yang belum diverifikasi berpotensi diterima masyarakat begitu saja.
Karena itu, media afiliasi Muhammadiyah diharapkan dapat berperan sebagai penyaring informasi dengan mengedepankan verifikasi dan klarifikasi.
Prinsip tersebut, kata Septa, sejalan dengan pesan Al-Quran tentang pentingnya tabayyun ketika menerima informasi, khususnya informasi yang berasal dari sumber yang tidak dapat dipercaya.
“Media afiliasi Muhammadiyah menjadi salah satu solusi bagaimana memberikan informasi yang benar,” katanya.
Jambore Jadi Momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah
Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Roni Tabroni, M.Si., mengatakan Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 memiliki arti khusus karena bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah yang jatuh pada 13 Agustus.
Menurut Roni, tanggal tersebut merujuk pada terbitnya edisi pertama Suara Muhammadiyah pada 13 Agustus 1915.
MPI PP Muhammadiyah sebelumnya telah mengusulkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar terdapat momentum khusus untuk memperingati Hari Pers Muhammadiyah. Dalam prosesnya, nomenklatur tersebut berkembang menjadi Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah karena literasi dinilai merupakan bagian penting dari tradisi Muhammadiyah.
“Literasi adalah DNA Muhammadiyah. Produknya media salah satunya,” kata Roni.
Karena itu, penyelenggaraan Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah pada 12–13 Agustus sengaja ditempatkan berdekatan dengan momentum tersebut.
Selain menjadi ruang konsolidasi media, jambore tahun ini juga dirancang sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran sejarah pers Muhammadiyah sekaligus menegaskan kembali peran media dalam gerakan Persyarikatan.
Momentum Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah tahun ini juga akan ditandai dengan pemberian Kartu Wartawan Utama Khusus kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.
Roni menjelaskan, proses pengajuan kartu tersebut berlangsung hampir tiga tahun dan melibatkan berbagai pihak, termasuk Dewan Pers serta sejumlah organisasi dan institusi media.
Kartu tersebut telah tercatat dalam sistem Dewan Pers sejak Maret 2026. Namun, MPI PP Muhammadiyah sengaja menunggu momentum khusus untuk menyerahkannya secara langsung.
Penyerahan kartu dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
Momentum tersebut juga akan diisi dengan orasi kebangsaan Ketua Umum PP Muhammadiyah yang mengangkat relasi antara Muhammadiyah, dunia pers, dan kebangsaan.
Roni mengatakan, pemberian kartu tersebut bukan semata-mata penghargaan personal kepada Haedar Nashir. Menurutnya, momentum itu juga menjadi pengingat mengenai panjangnya keterlibatan Muhammadiyah dalam tradisi pers dan literasi.
Ia menyebut Haedar telah memiliki pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik sejak menjadi mahasiswa dan hingga kini masih aktif menulis.
“Beliau bukan hanya jurnalis, tetapi juga sangat lama sebagai jurnalisnya,” ujar Roni.
Media Muhammadiyah Didorong Tidak Sekadar Mengejar Viral
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Dadang Kahmad, M.Si., ketika membuka kegiatan menegaskan bahwa Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah bukan sekadar forum pertemuan pengelola media.
Menurut Dadang, kegiatan tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa media merupakan bagian penting dari gerakan Muhammadiyah dalam menghadapi perubahan zaman.
Ia mengatakan perubahan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan memproduksi informasi. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak menerima informasi melalui surat kabar, radio, dan televisi, kini setiap orang dapat menjadi pembuat sekaligus penyebar informasi melalui perangkat digital.
Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi Muhammadiyah.
“Muhammadiyah tidak boleh menjadi konsumen informasi saja. Tapi Muhammadiyah harus menjadi produser informasi yang berkualitas, terpercaya, mencerahkan, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” kata Dadang.
Menurutnya, media Muhammadiyah tidak cukup hanya memberitakan aktivitas rutin Persyarikatan. Media juga perlu menjadi ruang untuk menghadirkan gagasan baru, pengetahuan, dakwah, pendidikan, kebudayaan, serta pembelaan terhadap kepentingan masyarakat.
Dadang menekankan bahwa media Muhammadiyah harus mampu menempatkan kualitas informasi di atas sekadar kecepatan dan popularitas.
“Media yang tidak hanya cepat, tapi juga benar. Tidak hanya ramai, tapi juga berbobot. Tidak hanya mengejar jumlah penonton dan pengikut, tapi juga mampu membangun kepercayaan orang,” ujarnya.
Tabayyun Menjadi Prinsip Pengelolaan Media
Tantangan tersebut semakin besar karena masyarakat saat ini menghadapi banjir informasi.
Setiap hari, publik berhadapan dengan berita, opini, video, gambar, komentar, hingga konten yang diproduksi secara otomatis menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Di tengah situasi tersebut, tidak semua informasi memiliki tingkat kebenaran yang sama.
Dadang mengingatkan agar media Muhammadiyah menjadikan prinsip tabayyun sebagai salah satu fondasi utama pengelolaan informasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami pesan Al-Quran terkait penyebaran berita, khususnya kandungan Surah An-Nur ayat 11–20 yang berbicara mengenai persoalan berita dan penyebaran informasi.
“Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan. Popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap jurnalisme Muhammadiyah dapat berkembang menjadi jurnalisme yang cepat, akurat, beretika, mencerdaskan, dan mencerahkan.
Di sisi lain, Dadang melihat perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), media sosial, video pendek, podcast, live streaming, dan mesin pencari sebagai peluang besar bagi media Muhammadiyah untuk memperluas jangkauan gagasan.
Menurut dia, teknologi memungkinkan gagasan yang lahir dari kader, guru, dosen, peneliti, mahasiswa, maupun warga Muhammadiyah di daerah dapat menjangkau masyarakat yang jauh lebih luas.
Namun, pemanfaatan teknologi tidak cukup hanya ditopang kemampuan teknis.
Insan media Muhammadiyah, kata Dadang, perlu memiliki wawasan keislaman, wawasan Kemuhammadiyahan, kemampuan jurnalistik, literasi digital, integritas, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.
“Jangan hanya berbicara tentang bagaimana membuat konten yang viral, tapi juga bagaimana membuat konten yang bernilai,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tujuan akhir media Muhammadiyah bukan semata-mata viralitas, melainkan menghadirkan kemaslahatan dan mendorong perubahan positif di tengah masyarakat.
Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 juga diarahkan untuk membangun ekosistem media Muhammadiyah yang lebih terintegrasi.
Dadang menyebut jaringan media Muhammadiyah tidak hanya berada di tingkat pusat dan wilayah, tetapi juga mencakup pimpinan daerah, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, amal usaha Muhammadiyah, organisasi otonom, hingga komunitas kader.
Keragaman media tersebut dinilai sebagai kekuatan apabila dapat dikonsolidasikan dalam satu visi gerakan.
“Kita boleh memiliki banyak media, banyak platform, dan banyak gaya komunikasi, tetapi semuanya harus membawa nilai dasar yang sama: Islam berkemajuan,” ujarnya.
Sementara itu, Roni Tabroni mengatakan jambore tahun ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari lembaga yang berkaitan dengan ekosistem pers dan media digital. Selain Dewan Pers, panitia menyiapkan sesi mengenai perkembangan platform digital, strategi pengelolaan media, serta gagasan pengembangan newsroom bersama.
Forum berbagi pengalaman antarpengelola media juga menjadi salah satu agenda utama. Peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan dari narasumber, tetapi juga saling belajar dari pengalaman pengelolaan media di daerah masing-masing.
Roni mengatakan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kapasitas dan kualitas media afiliasi Muhammadiyah secara bersama-sama.
Dengan demikian, Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 tidak berhenti sebagai forum pertemuan dua hari. Kegiatan tersebut diarahkan menjadi ruang konsolidasi untuk menjawab perubahan lanskap media sekaligus memastikan media Muhammadiyah tetap memiliki posisi strategis dalam menyampaikan gagasan Islam berkemajuan di tengah masyarakat digital.






















