
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Menjadi calon ulama pada era kecerdasan artifisial tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu agama. Mahasantri juga dituntut memahami teknologi, terus memperbarui pengetahuan, sekaligus menjaga ruang yang tidak dimiliki mesin: nurani, spiritualitas, dan kebijaksanaan.
Pesan itu disampaikan Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah) Prof. Ahmad Muttaqin, M.Ag., M.A., Ph.D., kepada mahasiswa baru Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ahmad berbicara dalam Orientasi Akademik dan Ta’aruf Mahasiswa Baru Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Unismuh Tahun Ajaran 2026/2027 di Mini Hall Pesmadina Unismuh Makassar, Jumat, 25 September 2026.
Kegiatan tersebut mempertemukan mahasiswa baru dengan gagasan tentang pendidikan, masa depan, perkembangan teknologi, serta peran calon ulama di tengah masyarakat digital.
Di hadapan para mahasantri, Ahmad memulai pesannya bukan dari teknologi, melainkan dari cita-cita. Ia meminta mahasiswa sejak awal menentukan ke mana hidup mereka akan diarahkan.
“Kalau masih punya buku diari, tuliskan proposal hidup Anda,” katanya.
Ia lalu menceritakan pengalamannya sebagai mahasiswa pada 1990-an. Saat itu, ia menuliskan target-target hidupnya, mulai dari pendidikan, studi lanjut, pernikahan, menjadi guru besar, hingga berhaji. Catatan tersebut tidak disimpan di dalam laci. Ia justru menempelkannya di dinding kamar kos agar selalu terlihat.
Setiap kali melihat daftar itu, kata Ahmad, ia seperti diingatkan kembali bahwa ada tujuan yang harus diperjuangkan.
“Ketika saya membaca proposal hidup saya itu, bikin saya semangat lagi. Oh iya, saya punya target ini, target ini,” ujarnya.
Tidak semua target tercapai tepat pada tahun yang dituliskan. Namun, menurut Ahmad, satu per satu keinginannya akhirnya dapat diraih. Ia bahkan sengaja membiarkan proposal tersebut dapat dibaca teman-temannya dengan harapan cita-citanya memperoleh dukungan dan doa dari lingkungan sekitarnya.
Cita-cita yang sempat terhenti
Ahmad tidak menggambarkan perjalanan itu sebagai jalan lurus tanpa hambatan. Dalam sesi tanya jawab, ia berkisah bahwa rencana melanjutkan pendidikan pernah hampir terhenti setelah ayahnya meninggal dunia.
Orientasinya kemudian berubah. Ia sempat masuk ke dunia usaha dan memusatkan perhatian pada upaya menopang kehidupan keluarga.
“Cita-cita untuk kuliah terus itu sempat terhenti,” katanya.
Namun, keinginan melanjutkan pendidikan tidak ia lepaskan. Kesempatan datang ketika seorang dosen menghubunginya dan memberi informasi mengenai peluang kembali berkuliah sekaligus menjadi dosen. Dari titik itu, rencana pendidikan yang sempat terhenti kembali berjalan.
Pengalaman tersebut menjadi dasar pesan Ahmad kepada mahasiswa bahwa cita-cita harus dipelihara, bahkan ketika keadaan tidak berlangsung sesuai rencana.
Menurut dia, motivasi juga harus dibangun dari dalam diri. Pertanyaan paling sederhana yang mesti dijawab mahasiswa adalah: What do you want to be? Hendak menjadi apa?
Belajar, lanjutnya, merupakan proses yang tidak pernah selesai. Ia mengutip pengalaman keluarganya untuk menekankan bahwa seseorang dapat menjadikan pencapaian pendidikan bukan hanya sebagai keberhasilan pribadi, melainkan juga sebagai jalan membuka kemungkinan baru bagi keluarga, kampung, atau masyarakatnya.
Memasuki zaman “homo digitalis”
Dari persoalan cita-cita, Ahmad membawa mahasiswa melihat perubahan yang sedang berlangsung akibat perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Ia menggunakan istilah homo digitalis untuk menggambarkan manusia yang kehidupan dan proses belajarnya semakin tidak terpisahkan dari teknologi digital.
Ahmad menjelaskan, salah satu kekuatan manusia selama ini adalah kemampuan belajar bersama. Bahasa memungkinkan pengalaman seseorang diteruskan kepada orang lain. Setelah manusia mengenal tulisan, pertukaran pengetahuan berlangsung dalam skala jauh lebih besar.
Pada zaman digital, menurut dia, proses itu berkembang lebih jauh menjadi co-learning. Sebuah sistem bukan hanya menerima pengalaman, melainkan dapat memproses dan menyebarkan hasil pembelajaran itu kepada sistem lain yang terhubung.
Ia memberi ilustrasi kendaraan otomatis. Ketika satu kendaraan menghadapi objek baru di jalan dan berhasil mengenalinya, pengalaman tersebut dapat dikirim ke pusat data. Kendaraan lain yang berada dalam jaringan kemudian dapat memperoleh pengetahuan serupa tanpa harus terlebih dahulu mengalami kejadian yang sama.
Kecepatan belajar seperti inilah yang, menurut Ahmad, akan mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan memperoleh pengetahuan.
Namun, ia tidak melihat perubahan tersebut semata-mata sebagai ancaman.
AI tak punya nurani
Ahmad justru meminta mahasantri memahami batas teknologi. “AI itu memungkinkan kita bekerja cepat dalam skala yang besar. Tapi AI itu punya kelemahan. AI itu tidak punya nurani,” katanya.
Menurut Ahmad, AI dapat mengolah informasi dan membantu pekerjaan dalam skala besar, tetapi tidak mempunyai pengalaman spiritual, religiositas, ataupun kebijaksanaan dalam pengertian manusiawi.
Ruang inilah yang, menurut dia, harus diisi oleh para mahasiswa yang mendalami agama.
Teknologi dapat menghasilkan uraian mengenai suatu tema agama. Namun, kemampuan mengolah informasi tersebut tidak serta-merta sama dengan pengalaman spiritual dan kebijaksanaan yang tumbuh dari kehidupan manusia.
“Bagaimana agar cara belajar agama kita itu tidak ketinggalan zaman,” kata Ahmad.
Karena itu, ia tidak ingin mahasiswa agama mengambil posisi berhadap-hadapan dengan teknologi. Calon ulama justru harus mampu menggunakannya.
“Maka saya yakin universitas sudah menyiapkan seperangkat kurikulum, jadi santri, mahasantri, jadi ustaz, jadi kiai, tapi yang melek teknologi,” ujarnya.
Kolaborasi calon ahli agama pada masa depan, lanjut Ahmad, tidak cukup hanya dengan sesama pengkaji agama. Mereka juga perlu bekerja bersama ahli algoritma, data, dan AI.
Salah satu kemungkinan yang ia bayangkan adalah pengembangan aplikasi keagamaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Aplikasi itu tidak sekadar memuat informasi agama, tetapi mampu membuat masyarakat secara sukarela tertarik belajar, mengaji, dan menjalankan praktik keberagamaan.
“Bisa enggak kita transformasikan agar orang itu nanti rajin ngaji, rajin beribadah melalui aplikasi-aplikasi yang tanpa harus dipaksa,” katanya.
Jangan menjadi “dinosaurus modern”
Ahmad kemudian memakai metafora yang mengundang perhatian peserta: “dinosaurus modern”.
Istilah itu ia gunakan untuk orang yang secara fisik telah berada di zaman digital, mempunyai telepon pintar dan akun media sosial, tetapi tertinggal dalam mengikuti informasi dan perkembangan pengetahuan.
Ia memberi contoh orang yang terlambat membaca percakapan dalam grup WhatsApp sehingga baru merespons sebuah informasi ketika peristiwa yang dibicarakan telah lama berlalu.
“Maksud saya, kalau kita tidak ingin jadi dinosaurus modern, maka update terus pengetahuan kita itu,” katanya.
Mahasiswa boleh berkonsentrasi pada satu disiplin, termasuk agama dan bahasa Arab. Namun, spesialisasi tersebut tidak boleh membuat mereka buta terhadap perkembangan teknologi ataupun bidang ilmu lainnya.
Pesan itu memperoleh konteks yang lebih konkret ketika seorang mahasiswa mempertanyakan bagaimana penghuni asrama dapat mengikuti perkembangan AI sementara penggunaan telepon seluler dibatasi.
Ahmad menilai teknologi tetap dapat dimanfaatkan dengan pengaturan yang tepat. Menurut dia, persoalannya bukan semata-mata boleh atau tidak boleh menggunakan gawai, melainkan bagaimana memastikan perangkat tersebut sungguh-sungguh digunakan untuk belajar.
Ia mencontohkan kemungkinan penggunaan sistem pembatasan atau firewall agar mahasiswa hanya dapat mengakses situs dan platform tertentu untuk kepentingan pendidikan. Teknologi, dengan demikian, tidak harus dilepaskan tanpa kendali, tetapi dapat diatur sesuai kebutuhan pembelajaran.
Belajar setinggi-tingginya
Ahmad menutup pesannya dengan meminta mahasiswa terus memelihara cita-cita dan mencari kesempatan belajar seluas mungkin.
“Pelihara terus cita-citanya. Gapai kesempatan belajar seluas-luasnya, setinggi-tingginya,” ujarnya.
Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Dr. Burhanuddin kemudian memperkuat pesan tersebut. Ia menceritakan perjalanan akademik Ahmad yang berangkat dari pendidikan pesantren, melanjutkan studi sarjana di dalam negeri, menempuh pendidikan magister di Amerika Serikat, dan menyelesaikan program doktor di University of Western Sydney, Australia.
Burhanuddin meminta mahasiswa tidak berhenti pada kekaguman terhadap perjalanan orang lain. Mereka harus berani menetapkan cita-cita sendiri dan bekerja untuk mencapainya.
“Jangan cuma mimpi, tapi mimpi itu harus menjadi kenyataan,” katanya.
Ia bahkan mengajak para mahasiswa membayangkan diri mereka kelak melanjutkan studi ke luar negeri dan mengambil peran di berbagai bidang kehidupan. Untuk sampai ke sana, Burhanuddin menekankan satu syarat: belajar dengan sungguh-sungguh.
Orientasi itu pada akhirnya mempertemukan dua pesan yang saling berkaitan. Mahasantri perlu mempunyai arah hidup yang jelas, tetapi mereka juga harus memahami dunia yang terus berubah.






















