KHITTAH.CO, GOWA — Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) mendampingi UMKM Camilan Mamak di Desa Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, untuk mengubah proses produksi keripik pisang dari yang sebelumnya banyak mengandalkan kebiasaan menjadi sistem yang lebih terukur dan terstandar. Pendampingan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026 ini difokuskan pada peningkatan konsistensi mutu, mulai dari ketebalan irisan, suhu penggorengan, kadar minyak, berat bersih, hingga kerapatan kemasan.
Program tersebut dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula. Tim Unismuh Makassar diketuai Edy Kurniawan, dengan anggota Muh. Al Amin dan Muhammad Amin Said, serta melibatkan mahasiswa dalam proses pendampingan.
Kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun pendanaan 2026.
Ketua pelaksana, Edy Kurniawan, mengatakan persoalan utama yang dihadapi mitra bukan semata-mata keterbatasan peralatan, tetapi belum terstandarnya proses produksi sehingga kualitas produk berpotensi berubah dari satu produksi ke produksi berikutnya.
“Kami ingin membantu mitra beralih dari produksi yang berbasis kebiasaan menuju proses yang memiliki standar. Peralatan yang digunakan harus berjalan bersama SOP, pencatatan, dan kontrol mutu sehingga hasil produksi bisa lebih konsisten,” kata Edy Kurniawan, Kamis (20/8/2026).
Dalam pendampingan tersebut, tim Unismuh Makassar memetakan lima titik kritis produksi yang perlu dikendalikan, yakni keseragaman irisan pisang, kestabilan suhu penggorengan, minyak yang tersisa pada produk, keseragaman berat bersih, dan kerapatan kemasan.
Untuk mendukung pengendalian proses, UMKM Camilan Mamak mulai menggunakan sejumlah teknologi tepat guna, seperti slicer pisang, termometer minyak, spinner atau alat peniris minyak, timbangan digital, serta alat sealer.
Penggunaan peralatan tersebut tidak berdiri sendiri. Tim mengintegrasikannya dengan standar operasional prosedur (SOP), pencatatan produksi, dan kontrol mutu. Dengan demikian, mitra tidak hanya bekerja lebih cepat, tetapi juga memiliki parameter untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas setiap batch produksi.
Pendampingan diawali dengan koordinasi, sosialisasi, dan asesmen kondisi awal. Selanjutnya, tim bersama mitra menyusun SOP produksi dan instrumen kontrol mutu, memberikan pelatihan higiene dan sanitasi, melakukan praktik penggunaan teknologi tepat guna, uji produksi, serta monitoring dan evaluasi.
Dua varian utama produk, yakni keripik pisang original dan cokelat, menjadi objek uji standardisasi awal.
Perubahan proses mulai terlihat pada sejumlah tahapan produksi. Pengirisan pisang yang sebelumnya banyak mengandalkan keterampilan operator kini dibantu slicer agar ketebalannya lebih seragam. Suhu minyak dipantau menggunakan termometer, sedangkan proses penirisan minyak dibantu spinner.
Berat bersih produk juga mulai dikendalikan menggunakan timbangan digital. Sementara itu, kerapatan kemasan ditingkatkan dengan alat sealer. Mitra juga mulai menggunakan log produksi untuk mencatat proses dan hasil setiap batch.
Pada tahap laporan kemajuan, kedua varian produk telah melalui uji standardisasi awal. Penerapan SOP dan kontrol mutu juga menunjukkan perkembangan dibandingkan kondisi awal.
Kapasitas produksi yang sebelumnya berada pada kisaran 150 kemasan per minggu menunjukkan kecenderungan meningkat menuju sekitar 200 kemasan per minggu. Namun, angka tersebut masih merupakan capaian sementara dan akan diverifikasi melalui audit akhir, rekap produksi, serta catatan kontrol mutu sebelum ditetapkan sebagai capaian akhir program.
Selain memperbaiki proses produksi, Unismuh Makassar juga mendampingi mitra dalam penyempurnaan kemasan dan label untuk dua varian keripik pisang. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat identitas produk, meningkatkan kepercayaan konsumen, dan memperluas peluang pemasaran.
Menurut Edy, keberlanjutan menjadi bagian penting dari pendampingan agar perubahan yang dilakukan tidak berhenti ketika program pengabdian selesai.
“Yang kami harapkan bukan hanya peralatan yang digunakan selama program, tetapi adanya sistem kerja yang bisa dilanjutkan oleh mitra. Karena itu, penanggung jawab mutu, SOP, pencatatan produksi, evaluasi berkala, dan perawatan alat menjadi bagian dari pendampingan,” ujarnya.
Program pengabdian Unismuh Makassar tersebut menunjukkan bahwa peningkatan daya saing UMKM pangan tidak selalu membutuhkan teknologi yang kompleks. Peralatan yang sesuai kebutuhan, prosedur kerja yang jelas, serta pencatatan produksi dapat menjadi fondasi untuk membangun mutu produk yang lebih konsisten.
Melalui pendampingan ini, UMKM Camilan Mamak diharapkan semakin mampu menjaga kualitas keripik pisang antarproduksi, meningkatkan kapasitas secara bertahap, memperkuat tampilan produk, dan memperluas pasar. Bagi Unismuh Makassar, program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan hasil perguruan tinggi secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat daya saing usaha mikro.






















