Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

EMT Unismuh Siapkan Puskesmas Lapangan, Perluas Layanan Kesehatan Korban Gempa NTT

×

EMT Unismuh Siapkan Puskesmas Lapangan, Perluas Layanan Kesehatan Korban Gempa NTT

Share this article

KHITTAH.CO, MANGGARAI TIMUR — Emergency Medical Team (EMT) Universitas Muhammadiyah Makassar mulai menyiapkan Puskesmas Lapangan EMT MDMC Type 1 untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Pada saat yang sama, tim memperluas pelayanan kesehatan hingga ke Kampung Bawe dan Haju Wangi, dua titik pengungsian yang dilaporkan belum pernah memperoleh pelayanan kesehatan sejak gempa terjadi.

Koordinator Tim Medis Unismuh dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP menjelaskan, personel EMT dibagi menjadi tiga kelompok agar penyiapan fasilitas kesehatan, pelayanan pasien di posko, dan pelayanan kesehatan bergerak dapat dilakukan secara bersamaan.

Tim pertama mengoordinasikan pembersihan dan penyiapan calon lokasi Puskesmas Lapangan bersama warga dan anggota SAMAPTA Polda NTT. Tim kedua membantu pelayanan kesehatan di Posko Damer yang menjadi posko pengganti Puskesmas Dampek. Tim ketiga bergerak memberikan pelayanan kesehatan secara mobile di Kampung Bawe dan Haju Wangi.

Netty mengatakan pembagian personel tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan respons kesehatan di sejumlah titik sekaligus. Kehadiran tim tidak hanya diarahkan pada pelayanan medis langsung kepada warga, tetapi juga mendukung penguatan sistem pelayanan kesehatan setempat.

Layani 96 Warga

Di Posko Damer, tim melakukan pemeriksaan dan visite terhadap 16 pasien yang sedang dirawat.

Sementara itu, pelayanan kesehatan mobile di Kampung Bawe berlangsung pukul 11.30 hingga 13.00 WITA dan melayani 33 pasien. Tim kemudian bergerak ke Haju Wangi dan memberikan pelayanan kepada 47 pasien pada pukul 13.00 hingga 14.30 WITA.

Total 96 warga memperoleh layanan kesehatan EMT Unismuh pada hari tersebut.

Kampung Bawe dihuni sekitar 60 pengungsi, sedangkan Haju Wangi sekitar 70 pengungsi. Menurut Netty, perhatian khusus diberikan kepada dua lokasi tersebut karena sejak gempa terjadi belum pernah mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kedua lokasi juga belum memiliki aliran listrik. Selain itu, fasilitas MCK yang memadai, kelambu, dan obat antinyamuk masih menjadi kebutuhan masyarakat pengungsi.

Pelayanan yang diberikan tim meliputi pemeriksaan oleh dokter, pengukuran tekanan darah, pemberian obat, hingga penilaian terhadap pasien yang membutuhkan tindak lanjut.

Dari pelayanan terhadap 96 warga di Posko Damer, Kampung Bawe, dan Haju Wangi, tim mencatat 166 kasus gangguan kesehatan.

Keluhan paling dominan adalah myalgia atau nyeri otot sebanyak 25 kasus. Gastritis dan tension type headache masing-masing ditemukan sebanyak 16 kasus.

Tim juga menangani berbagai keluhan lain, antara lain gangguan pernapasan, hipertensi, nyeri pinggang, serta sejumlah penyakit tidak menular. Secara umum, pola masalah kesehatan yang ditemukan didominasi gangguan muskuloskeletal, pencernaan, pernapasan, sakit kepala, dan penyakit tidak menular.

Temukan Pasien Diduga Cedera Kepala

Dalam pelayanan di Kampung Bawe, EMT Unismuh menemukan seorang pasien dengan kecurigaan traumatic brain injury (TBI) dan suspek fraktur basis cranii atau patah tulang dasar tengkorak.

Tim telah mengarahkan pasien tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lanjutan di Puskesmas Dampek. Namun, pasien menolak dirujuk pada saat pelayanan sehingga kondisinya masih membutuhkan pemantauan dan tindak lanjut.

Selain pemeriksaan dan pengobatan, tim memberikan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada warga. Edukasi menekankan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan menjaga kebersihan tenda sebagai langkah mencegah munculnya penyakit di lingkungan pengungsian.

Puskesmas Lapangan Diperkuat Kolaborasi

Penyiapan Puskesmas Lapangan dilakukan bersama masyarakat dan anggota SAMAPTA Polda NTT. Tim juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur dalam penataan sistem posko dan pelayanan kesehatan di daerah terdampak.

Netty menilai Puskesmas Lapangan diperlukan untuk memperkuat kapasitas layanan di tengah kondisi fasilitas kesehatan yang terdampak sekaligus mendekatkan akses pelayanan kepada masyarakat.

Sebanyak sembilan personel EMT Unismuh Makassar bertugas dalam pelayanan tersebut, terdiri atas tiga dokter, dua perawat, seorang bidan, seorang tenaga teknis kefarmasian, dan dua tenaga bantuan medis. Mereka berasal dari Universitas Muhammadiyah Makassar, RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar, dan MDMC PWM Sulawesi Selatan.

Dalam laporan penugasan, dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP, yang berasal dari RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar, menjadi salah satu dokter spesialis yang memperkuat tim medis di Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Kegiatan tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui perluasan akses layanan kesehatan bagi korban bencana; SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, melalui perhatian terhadap kebutuhan sanitasi masyarakat pengungsi; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi Unismuh, MDMC, pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, aparat kepolisian, dan masyarakat dalam penanganan dampak gempa NTT.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner ITKESMU SIDRAP

Leave a Reply