
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar bersama Forum Guru Besar Muhammadiyah (FGBM) menggelar lokakarya untuk mendorong percepatan kelahiran guru besar baru di lingkungan kampus. Kegiatan bertajuk Lokakarya Percepatan Jabatan Akademik Dosen Lektor Kepala ke Guru Besar ini dilaksanakan di Ruang Rapat Senat, Lantai 17, Unismuh Makassar, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Acara ini secara khusus menyasar para dosen yang telah menduduki jabatan fungsional Lektor Kepala agar segera meraih gelar profesor. Langkah taktis ini dinilai strategis untuk memperkuat kualitas akademik Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Saat ini, dari 164 kampus PTMA di Indonesia, baru 45 kampus yang memiliki guru besar. Hal ini berarti masih terdapat sekitar 120 kampus Muhammadiyah yang hingga saat ini belum memiliki guru besar sama sekali.
Presiden FGBM, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., menjelaskan bahwa salah satu program utama forumnya adalah membantu percepatan kenaikan jabatan guru besar di lingkungan PTMA. Pihaknya menargetkan kampus-kampus yang masih mengalami krisis kepakaran tingkat tinggi tersebut dapat segera terbebas dari status tanpa profesor.
“Kalau setiap tahun kita 10 kampus saja, itu berarti perlu 12 tahun dan tentu bukan pekerjaan mudah,” Ujar Guru Besar Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia menambahkan bahwa dari 45 kampus yang sudah memiliki guru besar, hanya 16 kampus yang jumlah profesornya melebihi 20 orang.
Dalam lokakarya tersebut, para dosen diajak untuk memetakan jalur akademik mereka dengan menggambar “pohon ilmu”. Langkah mendasar ini dimulai dari pemahaman filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan, hingga mengerucut pada rumpun, cabang, dan ranting keilmuan yang dikuasai masing-masing dosen.
Sidik memaparkan bahwa kejelasan ranting ilmu sangat esensial bagi seorang calon profesor agar kepakarannya memiliki fokus yang terpetakan secara rinci. Ia meminta setiap dosen untuk menentukan setidaknya lima mata kuliah atau spesialisasi yang pernah diajarkan sebagai dasar penetapan keahlian utama mereka.
“Jadi profesor itu basisnya adalah cabang. Nah, di situ nanti ada rantingnya,” tegas Sidik di hadapan puluhan dosen yang hadir. Ia mencontohkan, dalam ilmu pendidikan sains, seorang calon guru besar harus mampu mengerucutkan target keahliannya, seperti pada bidang spesifik pengembangan perangkat pembelajaran.
Selain pemetaan manual, pemateri juga mendemonstrasikan pemanfaatan kecerdasan buatan berbasis teks, seperti ChatGPT, untuk merangkai peta jalan karier menuju kursi guru besar. Para peserta dipandu untuk langsung mempraktikkan penyusunan infografis karier berdasarkan program studi dan ranting keilmuan yang selama ini ditekuninya.
Baca Juga: Tampil di Forum Internasional, Guru Besar Unismuh Bahas Digitalisasi Bahasa Daerah
Menurut Sidik, penggunaan teknologi ini dapat secara drastis mempercepat pembuatan naskah perencanaan akademik komprehensif dalam waktu yang sangat singkat. Ia juga mengingatkan peserta untuk memastikan rekam jejak publikasi mereka, seperti buku cetak yang telah terbit, tetap mencantumkan nama penulis pada daftar pustaka untuk mengamankan kesinambungan rekam jejak keilmuan.
“Tolong nanti semua ya, Bapak Ibu, tolong di-print empat kali. Yang satu dipasang di ruang kerja, mungkin ya, di mana saja, di ruang makan, karena yang paling menderita itu kan istri dan anak-anak,” ucap Sidik memberikan dorongan semangat.
Kegiatan lokakarya ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah profesor PTMA secara nasional yang saat ini baru berkisar pada angka 490 orang. Ke depannya, para guru besar baru yang lahir dari program ini diproyeksikan dapat berkolaborasi antar-kampus sebagai dosen tamu, penguji, hingga konsultan akademik untuk memeratakan mutu pendidikan tinggi Muhammadiyah.






















