Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Unismuh Makassar dan IFSU Kolaborasi Perkuat Literasi Numerasi Calon Guru

×

Unismuh Makassar dan IFSU Kolaborasi Perkuat Literasi Numerasi Calon Guru

Share this article

KHITTAH.CO, IFUGAO, FILIPINA — Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Erni Ekafitria Bahar, S.Pd., M.Pd., menjadi pemateri dalam kegiatan kuliah tamu dan pelatihan literasi numerasi di Ifugao State University (IFSU), Filipina, Jumat, 23 Oktober 2026. Kegiatan ini mempertemukan akademisi Indonesia dan Filipina untuk memperkuat kemampuan calon guru matematika dalam merancang pembelajaran dan asesmen formatif berbasis kompetensi numerasi.

Pelatihan bertajuk Strengthening Numeracy Literacy and Formative Assessment Redesign Based on the AKM, PISA, and MATATAG Frameworks for Pre-Service Mathematics Teachers tersebut dilaksanakan melalui pemaparan materi dan pertukaran pengalaman mengenai pendekatan pembelajaran matematika di kedua negara. Program ini menjadi bagian dari kerja sama akademik internasional antara Unismuh Makassar dan IFSU.

Dalam kegiatan tersebut, Erni yang merupakan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar membawakan materi tentang penerapan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Programme for International Student Assessment (PISA) dalam pendidikan di Indonesia. Ia memperkenalkan pendekatan pengembangan soal numerasi yang menekankan kemampuan bernalar, memahami informasi kuantitatif, dan menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain Erni, kegiatan ini menghadirkan tiga akademisi IFSU, yakni Myrna T. Baloc, Jean Calingayan, dan Desiree Gume G. Nangpuhan. Ketiganya berbagi perspektif mengenai penerapan Kurikulum MATATAG dan PISA dalam sistem pendidikan Filipina.

Erni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai strategi pembelajaran matematika yang dikembangkan di Indonesia dan Filipina. Menurut dia, perbedaan pendekatan pendidikan di kedua negara dapat menjadi bahan pembelajaran bagi calon guru dalam merancang aktivitas matematika yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Bagi saya, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk berbagi pendekatan numerasi yang berkembang di Indonesia sekaligus mempelajari perspektif pendidikan matematika di Filipina. Pertukaran ini penting agar kami dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan calon guru dan konteks peserta didik,” ujar Erni.

Dalam pemaparannya, Erni menekankan pentingnya mengembangkan asesmen formatif yang tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga mampu menggambarkan proses berpikir peserta didik. Ia menjelaskan bahwa guru perlu mempertimbangkan tujuan pembelajaran, relevansi konteks soal, dan informasi yang dapat diperoleh dari jawaban siswa.

“Ketika merancang soal, kita perlu memikirkan kemampuan apa yang ingin dikembangkan, mengapa konteks tersebut relevan, serta bagaimana jawaban peserta didik dapat membantu guru memahami proses berpikir mereka. Dari situ, asesmen formatif dapat menjadi dasar untuk memberikan umpan balik dan menentukan langkah pembelajaran berikutnya,” jelasnya.

Melalui pelatihan ini, mahasiswa pendidikan matematika IFSU diperkenalkan pada penggunaan tiga kerangka pendidikan, yakni AKM dari Indonesia, PISA sebagai asesmen internasional, dan Kurikulum MATATAG dari Filipina. Ketiga pendekatan tersebut digunakan sebagai bahan diskusi untuk mengembangkan instrumen asesmen yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran matematika.

Erni menilai bahwa kemampuan menyusun soal kontekstual merupakan salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki calon guru matematika. Melalui latihan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan tugas pembelajaran yang mendorong peserta didik menghubungkan konsep matematika dengan persoalan nyata.

“Saya berharap mahasiswa dapat memanfaatkan materi pelatihan untuk berlatih menyusun tugas numerasi yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Ke depan, kerja sama ini dapat membuka kesempatan bagi dosen dan mahasiswa dari kedua kampus untuk saling memberikan masukan terhadap rancangan tugas dan asesmen pembelajaran matematika,” tuturnya.

Sementara itu, akademisi IFSU, Jean Calingayan, menyambut baik pelaksanaan kegiatan yang mempertemukan pendekatan pendidikan matematika Indonesia dan Filipina. Menurut dia, pertukaran pengalaman tersebut memberikan tambahan perspektif bagi mahasiswa dalam mengembangkan tugas numerasi dan instrumen asesmen yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

“Saya menyambut baik kegiatan ini karena memberi kesempatan bagi kami untuk berbagi perspektif tentang MATATAG dan PISA di Filipina sekaligus mengenal pendekatan AKM di Indonesia. Pertukaran tersebut bermanfaat bagi calon guru matematika untuk memperkaya pertimbangan mereka dalam merancang tugas numerasi dan asesmen yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ujar Jean.

Jean juga berharap kolaborasi antara IFSU dan Unismuh Makassar tidak berhenti pada kegiatan kuliah tamu dan pelatihan. Ia menilai keterlibatan berkelanjutan dosen dan mahasiswa kedua perguruan tinggi dapat memperluas kesempatan untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.

“Kolaborasi ini memberikan kesempatan yang baik untuk belajar bersama dan saling memberikan masukan. Saya berharap kerja sama IFSU dan Unismuh Makassar terus berkembang melalui kegiatan yang membantu calon guru menghubungkan konsep matematika dengan situasi kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi akademisi kedua negara untuk membandingkan pendekatan pengukuran kompetensi numerasi dalam sistem pendidikan masing-masing. Pembahasan mengenai AKM, PISA, dan MATATAG memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami bagaimana asesmen dapat digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar alat pengukuran hasil belajar.

Bagi Unismuh Makassar, keterlibatan dosen dalam kegiatan akademik di IFSU merupakan salah satu bentuk pelaksanaan kerja sama internasional di bidang pendidikan. Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran keahlian akademik, peningkatan kompetensi calon pendidik, dan pengembangan praktik pembelajaran matematika.

Ke depan, kedua perguruan tinggi diharapkan dapat memperluas kerja sama melalui pengembangan dan penelaahan bersama soal numerasi kontekstual serta instrumen asesmen formatif. Kelanjutan program ini diharapkan memberikan manfaat bagi peningkatan kompetensi calon guru matematika di Indonesia dan Filipina.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply