Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Studi Tiru ke Masjid Jogokariyan dan Sragen Terbuka untuk Umum, Muhammadiyah Makassar Ajak Warga Mendaftar

×

Studi Tiru ke Masjid Jogokariyan dan Sragen Terbuka untuk Umum, Muhammadiyah Makassar Ajak Warga Mendaftar

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Makassar membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengikuti studi tiru manajemen masjid ke Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, dan Masjid Raya Al-Falah, Sragen, Jawa Tengah, pada 18–23 Desember 2026. Kegiatan yang digagas Majelis Tabligh bersama Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) PDM Kota Makassar ini dirancang untuk memperkuat tata kelola masjid agar lebih profesional, modern, dan berorientasi pada pelayanan umat.

Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Makassar, Munir Abd Rahman, mengatakan persiapan kegiatan terus dimatangkan. Antusiasme pengurus masjid terhadap agenda tersebut juga mulai terlihat dari jumlah pendaftar.

“Sudah banyak yang mendaftar. Kegiatan ini terbuka bagi siapa saja, baik pengurus masjid umum, masjid binaan, masjid Muhammadiyah, maupun warga Kota Makassar yang ingin ikut belajar bersama,” kata Munir seusai rapat panitia, Senin, 26 Oktober 2026.

Menurut Munir, kedua masjid tujuan dipilih karena memiliki pengalaman pengelolaan dan inovasi pelayanan yang dapat menjadi referensi bagi masjid-masjid di Makassar.

Belajar tata kelola dan pelayanan masjid

Munir menjelaskan, Masjid Jogokariyan dikenal dengan pendekatan pengelolaan berbasis pendataan jemaah, pemetaan dakwah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta transparansi keuangan. Sementara itu, Masjid Raya Al-Falah Sragen menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan kader muda, dakwah kreatif, dan pelayanan jemaah sepanjang waktu.

“Masjid Jogokariyan dipilih karena keunggulannya dalam pemetaan dakwah, pelayanan jemaah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta transparansi keuangan. Sementara Masjid Raya Al-Falah Sragen menjadi rujukan dalam kaderisasi generasi muda, dakwah kreatif, dan pelayanan jemaah 24 jam,” ujarnya.

Menurut Munir, masjid tidak semestinya hanya dipahami sebagai tempat melaksanakan salat. Masjid juga perlu berperan sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan sosial, penguatan persaudaraan, dan pelayanan kebutuhan masyarakat.

“Menjadi pengurus masjid adalah amanah besar. Kita tidak cukup hanya menjaga kebersihan dan membuka pintu masjid, tetapi juga perlu terus belajar menjadikan masjid semakin hidup, makmur, tertata, dan dirasakan manfaatnya oleh jemaah,” kata Munir.

Ia berharap studi tiru tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk mengamati secara langsung sistem administrasi, program pembinaan jemaah, pelibatan generasi muda, serta pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi berbasis masjid.

“Masjid yang ingin maju adalah masjid yang pengurusnya tidak pernah berhenti belajar. Bisa jadi, dari kunjungan ini kita menemukan gagasan atau program yang kemudian membawa perubahan bagi masjid kita,” tuturnya.

Peserta akan pelajari praktik Masjid Al-Falah dan Jogokariyan

Selama berada di Sragen, peserta dijadwalkan mengikuti diskusi bersama takmir Masjid Raya Al-Falah mengenai pelayanan ramah musafir, pengelolaan ATM beras, dan Badan Usaha Milik Masjid (BUMM).

Peserta juga akan meninjau sejumlah fasilitas, seperti ruang istirahat musafir, posko kesehatan, dan minimarket masjid. Program ini diharapkan memberi gambaran mengenai pengembangan layanan sosial dan ekonomi yang terintegrasi dengan aktivitas masjid.

Adapun di Masjid Jogokariyan, peserta akan mengikuti sesi pembelajaran manajemen bersama takmir yang membahas sejarah perkembangan masjid, pendataan jemaah, dan strategi pengelolaan kas nol rupiah.

Rombongan juga dijadwalkan mengunjungi unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) warga di sekitar masjid serta mengikuti focus group discussion (FGD) untuk merumuskan hasil pembelajaran yang dapat diterapkan di masjid masing-masing.

Munir menyebutkan, rombongan direncanakan berangkat dari Makassar menuju Surabaya menggunakan kapal laut, kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Sragen dan Yogyakarta.

PDM Makassar ajak warga manfaatkan kesempatan

Wakil Ketua PDM Kota Makassar, KH. Sudirman, S.Ag., mengapresiasi pelaksanaan studi tiru tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pengurus masjid dan masyarakat untuk menambah wawasan sekaligus memperkuat komitmen memakmurkan masjid.

“Insyaallah, studi tiru ini bukan sekadar perjalanan, tetapi perjalanan mencari ilmu dan inspirasi untuk memakmurkan rumah Allah SWT,” ujar Sudirman.

Ia mengajak pengurus masjid dan warga Muhammadiyah memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengelolaan masjid.

Melalui kegiatan ini, PDM Kota Makassar berharap masjid-masjid di Makassar dapat mengembangkan tata kelola yang lebih profesional, meningkatkan kualitas pelayanan jemaah, serta memperluas peran masjid dalam pemberdayaan masyarakat.

Panitia mengundang pengurus masjid Muhammadiyah, pengurus masjid umum, pengelola masjid binaan, dan masyarakat yang berminat untuk mengikuti kegiatan tersebut. Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dapat diperoleh melalui panitia penyelenggara.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply