Scroll untuk baca artikel
Berita

DAM Nasional IX IMM Gowa Bahas Bahaya Era Post-Truth dan Penguatan Nalar Kritis Kader

×

DAM Nasional IX IMM Gowa Bahas Bahaya Era Post-Truth dan Penguatan Nalar Kritis Kader

Share this article

KHITTAH.CO, GOWA — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Gowa menggelar Darul Arqam Madya (DAM) Nasional IX di Pusat Dakwah Muhammadiyah Gowa, Kamis, 14 Mei 2026. Forum pengkaderan bertema “Digital Intellectualism: Rebranding Gerakan IMM di Era Post-Truth” itu menekankan pentingnya penguatan nalar kritis dan literasi digital kader dalam menghadapi maraknya hoaks, manipulasi opini, dan polarisasi informasi di media sosial.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulawesi Selatan, Dr Hadisaputra, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia membahas posisi manusia di tengah pusaran era post-truth, ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih dominan dibandingkan fakta objektif.

“Post-truth itu adalah iklim sosial-politik ketika objektivitas dan rasionalitas dikesampingkan oleh emosi dan hasrat memiliki keyakinan tertentu meskipun fakta menunjukkan sebaliknya,” ujar Hadi di hadapan peserta DAM Nasional IX.

Forum tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai komisariat dan daerah. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan intelektual kader IMM agar lebih siap menghadapi tantangan era digital yang ditandai derasnya arus informasi dan meningkatnya penyebaran kabar tidak terverifikasi.

Menurut Hadi, perkembangan media sosial telah membuka ruang bagi setiap orang untuk menjadi penyebar informasi. Namun, kondisi itu juga memunculkan persoalan baru berupa membanjirnya narasi alternatif dan informasi manipulatif di ruang digital.

Ia menjelaskan, fenomena post-truth tidak sekadar berkaitan dengan kebohongan, tetapi juga cara memengaruhi publik melalui permainan bahasa dan pengaburan fakta. Akibatnya, masyarakat kerap kesulitan membedakan informasi valid dengan opini yang dibangun untuk menggiring persepsi publik.

“Di era post-truth, orang tidak mau disebut berbohong. Yang muncul adalah istilah kebenaran alternatif,” katanya.

Hadi juga menyoroti pengaruh algoritma media sosial yang dinilai memperkuat ruang gema (echo chamber). Menurut dia, algoritma membuat pengguna lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi sehingga mempersempit ruang dialog dan memperbesar potensi polarisasi.

Ia menilai budaya sensasionalitas dan viralitas di media sosial turut mempercepat penyebaran hoaks. Dalam situasi tersebut, kualitas informasi sering kali kalah oleh kecepatan distribusi konten.

“Hoaks memang menjadi anak kandung era post-truth karena orang berlomba mengejar sensasi dan viralitas,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta menanyakan dampak era post-truth terhadap kemampuan berpikir kritis generasi muda. Menanggapi hal itu, Hadi menekankan pentingnya membangun budaya membaca dan memperkuat tradisi akademik sebagai upaya menjaga nalar kritis di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.

“Satu-satunya instrumen untuk melawan era post-truth dan hoaks adalah keterampilan berpikir kritis,” kata dia.

Ketua panitia DAM Nasional IX IMM Gowa, A. Aidil Fitri, mengapresiasi seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Ia menyebut forum DAM menjadi sarana penguatan intelektual kader IMM dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan itu, IMM Gowa berharap kader mampu memperkuat tradisi intelektual, literasi digital, dan kesadaran kritis dalam menjalankan gerakan dakwah di tengah perkembangan teknologi informasi.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner UIAD

Leave a Reply