Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Dari Limbah Sawit ke Material Konstruksi, Tim PKM-RE Unismuh Kembangkan Mortar Ramah Lingkungan

×

Dari Limbah Sawit ke Material Konstruksi, Tim PKM-RE Unismuh Kembangkan Mortar Ramah Lingkungan

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) bidang Teknik mengembangkan pemanfaatan limbah cangkang sawit sebagai bahan substitusi pasir pada mortar untuk aplikasi plesteran dinding.

Riset tersebut diarahkan untuk menghasilkan alternatif material konstruksi yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai guna limbah perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Cangkang sawit dipilih karena memiliki karakteristik fisik yang memungkinkan untuk diolah menjadi bahan alternatif dalam campuran mortar. Sebelum digunakan, cangkang melalui tahapan pengolahan, pengeringan, dan pengayakan.

Uji Empat Variasi Campuran

Tim menguji penggunaan cangkang sawit dengan empat variasi substitusi, yakni 0 persen, 10 persen, 20 persen, dan 30 persen.

Setiap variasi kemudian diuji untuk melihat pengaruh penggunaan cangkang sawit terhadap sejumlah karakteristik mortar, meliputi densitas, kuat tekan, kuat lentur, serta respons termal pada berbagai kondisi curing.

Hasil penelitian menunjukkan, peningkatan persentase cangkang sawit memberikan pengaruh terhadap karakteristik mortar.

Mortar dengan tambahan cangkang sawit cenderung memiliki densitas yang lebih rendah. Kondisi tersebut menunjukkan potensi pengembangan material konstruksi yang lebih ringan.

Dari sisi respons termal, beberapa perlakuan dengan substitusi cangkang sawit 20 persen menunjukkan perubahan suhu atau ΔT yang lebih rendah dibandingkan variasi lainnya.

Kurangi Ketergantungan pada Pasir Alam

Penelitian tersebut membuka peluang penggunaan limbah cangkang sawit sebagai material alternatif untuk kebutuhan konstruksi nonstruktural, khususnya plesteran dinding.

Pemanfaatan limbah perkebunan juga dapat mengurangi sebagian penggunaan pasir alam dalam campuran mortar. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya memiliki nilai guna terbatas dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi sebagai bahan konstruksi.

Pendekatan tersebut mempertemukan dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan limbah perkebunan dan kebutuhan terhadap material konstruksi yang lebih berkelanjutan.

Tim PKM-RE Teknik Unismuh berharap penelitian tersebut dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan material berbasis limbah yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Mendukung SDGs

Pengembangan material dari limbah cangkang sawit sejalan dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).

Riset ini terutama berkaitan dengan SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure, melalui pengembangan inovasi material konstruksi berbasis sumber daya alternatif.

Pemanfaatan kembali limbah perkebunan juga mendukung SDG 12: Responsible Consumption and Production, terutama melalui pendekatan sirkular yang mengubah limbah menjadi bahan bernilai guna.

Upaya mengurangi penggunaan pasir alam dan mengembangkan material konstruksi yang lebih berkelanjutan turut beririsan dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities serta SDG 13: Climate Action, khususnya dalam mendorong praktik pembangunan yang lebih ramah terhadap sumber daya alam.

Melalui riset tersebut, mahasiswa Unismuh menunjukkan bahwa inovasi konstruksi tidak selalu harus dimulai dari material baru. Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai pun dapat dikembangkan menjadi bagian dari solusi pembangunan yang lebih berkelanjutan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply