
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Gelar akademik dan jabatan tidak cukup menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Seorang sarjana perlu membuktikan nilai dirinya melalui kontribusi nyata sehingga kehadirannya benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Koordinator Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua, Prof Hamdan Juhannis, dalam Wisuda Ke-89 Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Balai Sidang Muktamar Ke-47, Rabu, 21 Oktober 2026.
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu mengajak para wisudawan merenungkan empat hal sebelum memasuki kehidupan baru setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Pesan pertama, lulusan perlu menjadi sarjana yang pintar merasa, bukan merasa pintar. Menurut Hamdan, perbedaan keduanya terlihat dari kesediaan seseorang mendengar, menerima kritik, dan memahami keadaan orang lain.
“Jadilah kalian sebagai sarjana yang pintar merasa, bukan sarjana yang selalu merasa pintar,” ujar Hamdan.
Ia menjelaskan, sarjana yang pintar merasa cenderung memiliki empati sosial dan terbuka terhadap masukan. Sebaliknya, mereka yang merasa pintar sering kali hanya ingin didengar, mudah tersinggung, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi.
“Sarjana yang pintar merasa itu sarjana yang selalu mau mendengar. Sementara yang merasa pintar hanya selalu mau didengar,” katanya.
Pandai Menjelaskan dan Berintrospeksi
Pesan kedua, Hamdan meminta lulusan mengembangkan kemampuan menjelaskan persoalan, bukan sekadar kepandaian berbicara.
Menurut dia, kemampuan berkomunikasi yang baik tercermin dari kesanggupan menyampaikan gagasan secara jelas dan sederhana. Orang yang pandai menjelaskan dapat membantu orang lain memahami persoalan rumit tanpa membuatnya semakin membingungkan.
“Sarjana yang pandai menjelaskan itu mempermudah hal yang rumit. Sementara sarjana yang pandai bicara merumitkan hal yang mudah,” ujarnya.
Hamdan mengingatkan bahwa kemampuan menjelaskan dapat menjadikan seseorang sebagai inspirator. Sebaliknya, kemampuan berbicara yang tidak disertai kejelasan gagasan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Baca Juga: Prof Hamdan: Sarjana Unlimited Tidak Habis Ide dan Selalu Bicara Gagasan
Pesan ketiga berkaitan dengan kemampuan mengevaluasi diri. Ia mengajak lulusan lebih rajin berintrospeksi dan berefleksi daripada hanya sibuk mengoreksi orang lain.
Menurut Hamdan, seseorang yang terbiasa mengevaluasi diri akan lebih mudah mengenali kekurangan dan memperbaiki perilakunya. Sebaliknya, kebiasaan mengoreksi orang lain tanpa refleksi dapat membuat seseorang terlalu menonjolkan kelebihan dirinya sendiri.
Menjadi Sarjana yang Dibutuhkan
Pesan keempat menjadi penekanan utama sambutan Hamdan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak cukup dijalani dengan mengejar penghormatan, kedudukan, atau pengakuan sosial.
“Jadilah sarjana yang dibutuhkan, bukan sarjana yang dihormati semata,” katanya.
Menurut dia, penghormatan sering kali melekat pada jabatan atau posisi seseorang. Sementara itu, kebutuhan masyarakat terhadap seseorang lahir dari manfaat dan kontribusi yang diberikan.
Hamdan menggambarkan perbedaan tersebut melalui perumpamaan sederhana.
“Orang yang dihormati itu kalau tidak hadir kursinya kosong. Sementara orang yang dibutuhkan dalam hidup kalau tidak hadir suasananya yang kosong,” ujarnya.
Ia menambahkan, orang yang dihormati dapat menimbulkan kekaguman, sedangkan orang yang dibutuhkan akan meninggalkan kerinduan ketika tidak lagi hadir.
“Yang dihormati itu adalah bungkus, sementara yang dibutuhkan itu adalah isi,” katanya.
Melalui perumpamaan tersebut, Hamdan berharap para lulusan tidak hanya mengejar pengakuan atas gelar akademik, tetapi juga membangun kemampuan dan kepedulian yang memberi manfaat bagi orang lain.
Kagumi Kemajuan Unismuh
Sebelum menyampaikan empat pesan tersebut, Hamdan mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Unismuh Makassar.
Ia mengapresiasi berbagai capaian universitas, terutama percepatan pengembangan kelembagaan, perluasan kerja sama, dan kontribusi Fakultas Agama Islam dalam pendidikan tinggi Islam.
“Saya salut sekaligus iri. Saya kagum sekaligus cemburu,” ujar Hamdan, yang disambut tepuk tangan hadirin.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kekagumannya muncul karena melihat capaian Unismuh yang terus berkembang. Sementara itu, ungkapan iri disampaikannya dalam suasana akrab ketika membandingkan percepatan pengembangan kampus.
“Kagum dengan pencapaian, iri dengan akselerasinya,” katanya.
Hamdan bahkan berseloroh ketika menyinggung kemampuan Unismuh memperluas kerja sama dengan berbagai pemerintah daerah.
“Saya bilang, jago mentong ini Unismu ini. Kencang memang,” ujarnya.
Ia juga memuji fasilitas Balai Sidang Muktamar Ke-47 yang digunakan untuk penyelenggaraan wisuda. Menurut Hamdan, UIN Alauddin yang memiliki sekitar 35.000 mahasiswa belum mempunyai gedung wisuda sebesar fasilitas yang dimiliki Unismuh.
Hamdan turut menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Agama Islam Unismuh atas berbagai capaian akademiknya. Ia mengajak para lulusan berbangga menjadi bagian dari keluarga besar universitas tersebut.
Wisuda Ke-89 Unismuh Makassar berlangsung selama dua hari, 20–21 Oktober 2026, dengan jumlah keseluruhan 1.598 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan.
Bagi Hamdan, kebanggaan menjadi sarjana perlu diikuti tanggung jawab untuk terus mengembangkan diri. Empati, kemampuan menjelaskan, kebiasaan berefleksi, dan kesediaan memberi manfaat menjadi bekal penting agar lulusan tidak hanya memperoleh penghormatan, tetapi juga memiliki peran yang dibutuhkan masyarakat.






















