
KHITTAH.JENEPONTO— Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mendampingi Kelompok Tani Sapiri di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, mengembangkan produk olahan ubi jalar sekaligus memperkuat pengelolaan keuangan usaha.
Program bertema “Pemberdayaan Kelompok Tani melalui Diversifikasi Olahan Ubi Jalar Menjadi Produk Pangan Bernilai Tambah” tersebut memperoleh dukungan pendanaan melalui Program BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan dikoordinasikan melalui Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Publikasi (LP3M) Unismuh Makassar.
Program melibatkan dosen, mahasiswa, penyuluh pertanian lapangan, serta pengurus dan anggota Kelompok Tani Sapiri.
Ketua Tim PKM Unismuh Makassar, Dr. Ir. Akbar, S.P., M.Si., IPM., QPOA., mengatakan pendampingan diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian yang selama ini lebih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.
Menurutnya, pengolahan pascapanen menjadi salah satu langkah penting agar hasil pertanian masyarakat memiliki daya simpan lebih panjang, bentuk produk lebih beragam, dan peluang pasar yang lebih luas.
Potensi 165 Hektare Ubi Jalar
Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Sapanang, Rina Ramli, S.P., menjelaskan Desa Sapanang memiliki sekitar 165 hektare lahan aktif penghasil ubi jalar.
Potensi tersebut menjadi salah satu dasar tim Unismuh mengembangkan program diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal.
Produksi ubi jalar yang cukup besar membutuhkan penguatan pada sisi pascapanen agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan komoditas segar.
Melalui pengolahan menjadi produk pangan, komoditas tersebut diharapkan memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi sekaligus membuka peluang pengembangan usaha rumah tangga dan UMKM berbasis pertanian.
Dari Keripik hingga Brownies
Salah satu fokus kegiatan adalah pelatihan diversifikasi olahan ubi jalar yang dipandu Dr. Ir. Jumiati, S.P., M.M.
Peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga mengikuti praktik pengolahan ubi jalar menjadi sejumlah produk pangan.
Produk yang diperkenalkan antara lain keripik ubi jalar, stik ubi ungu, dan brownies berbahan ubi jalar.
Pendekatan tersebut diarahkan agar anggota kelompok melihat ubi jalar bukan semata sebagai komoditas yang dijual setelah panen, melainkan bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dengan nilai jual berbeda.
Diversifikasi produk juga dapat menjadi alternatif ketika harga komoditas segar mengalami perubahan atau ketika hasil panen tidak seluruhnya dapat segera terserap pasar.
Belajar Menghitung HPP dan Harga Jual
Pendampingan tidak berhenti pada keterampilan memproduksi makanan olahan.
Tim PKM juga memberikan penguatan manajemen usaha dan pencatatan keuangan yang dibawakan Dr. Siti Aisyah, S.E., M.M.
Anggota Kelompok Tani Sapiri diperkenalkan pada pencatatan keuangan usaha secara sederhana, perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), penentuan harga jual, serta dasar-dasar pengelolaan usaha tani.
Materi tersebut penting agar kelompok mampu mengetahui biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk menghasilkan produk.
Dengan memahami HPP, anggota kelompok dapat menentukan harga jual secara lebih rasional, memperhitungkan keuntungan, serta memisahkan keuangan usaha dari pengeluaran rumah tangga.
Pendampingan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan kelompok dalam merencanakan keberlanjutan usaha setelah program pengabdian selesai.
Kelompok Tani Harapkan Pendampingan Berlanjut
Ketua Kelompok Tani Sapiri, Ansar Hamzah, menyambut baik program yang dilaksanakan tim Unismuh Makassar.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak hanya meningkatkan keterampilan anggota kelompok, tetapi juga berdampak pada pengembangan ekonomi keluarga petani.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap pelatihan teknis serta pendampingan yang diberikan dapat membawa dampak positif yang nyata bagi peningkatan ekonomi kelompok kami,” ujarnya.
Ansar juga berharap kolaborasi dengan Unismuh tidak berhenti setelah pelatihan.
“Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut melalui program pendampingan dan keberlanjutan usaha ke depannya,” katanya.
Tim PKM Unismuh Makassar diketuai Akbar dengan anggota Dr. Siti Aisyah, S.E., M.M., dan Muh. Ikmal Saleh, S.P., M.Si. Kegiatan juga melibatkan Jumiati sebagai narasumber serta mahasiswa Muhammad Naufal dan Aggi Jafar.
Melalui pendampingan tersebut, Kelompok Tani Sapiri diarahkan secara bertahap untuk bergerak dari produksi bahan mentah menuju pengembangan produk olahan berbasis ubi jalar.
Bagi Unismuh Makassar, program tersebut menjadi bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu pengetahuan untuk memperkuat kapasitas masyarakat, mengembangkan potensi pertanian lokal, dan mendorong tumbuhnya usaha produktif di perdesaan.
Program ini sekaligus memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1: Tanpa Kemiskinan melalui penguatan kapasitas ekonomi petani, SDG 2: Tanpa Kelaparan melalui diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan usaha produktif dan kewirausahaan perdesaan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui optimalisasi hasil panen menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi Unismuh Makassar, Kemdiktisaintek, penyuluh pertanian, dan Kelompok Tani Sapiri.






















