
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ruang Pertemuan Smart Class Lantai 1 Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Selasa, 30 Juni 2026, tampak hening tetapi penuh perhatian. Di bawah cahaya lampu putih dan garis lampu biru pada plafon ruangan, sejumlah penguji duduk menghadap meja ujian yang tertata rapi.
Di sisi depan ruangan, Ardi Rumallang duduk dengan mikrofon di tangan. Sesekali ia menatap layar tablet di mejanya, lalu mengangkat tangan untuk menjelaskan argumen disertasinya. Pada layar besar di belakangnya, sebagian peserta ujian tampak mengikuti secara daring. Ujian akhir disertasi itu berlangsung dalam suasana akademik yang serius, tetapi tetap hangat.
Hari itu, dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar tersebut mempertahankan disertasi berjudul “Analisis Alokasi Penggunaan Input, Efisiensi dan Inefisiensi Usahatani Kentang.” Melalui ujian tersebut, Ardi meraih gelar doktor pada Program Doktor Ilmu Pertanian, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin.
“Penelitian ini berangkat dari persoalan yang sangat dekat dengan petani. Biaya input makin tinggi, sementara petani harus tetap menjaga produksi dan pendapatan,” kata Ardi dalam pemaparan disertasinya.
Menurut Ardi, kentang bukan sekadar komoditas hortikultura biasa. Di daerah dataran tinggi seperti Kabupaten Gowa, kentang menjadi sumber pendapatan penting bagi petani. Namun, keberhasilan usahatani kentang sangat ditentukan oleh kemampuan petani mengatur benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja, air, dan biaya produksi.
“Yang saya ingin lihat bukan hanya apakah usahatani kentang menguntungkan, tetapi juga apakah input yang digunakan petani sudah efisien atau justru masih menyisakan pemborosan,” ujar Ardi.
Teliti Sentra Kentang di Gowa
Penelitian Ardi berfokus pada usahatani kentang di Kabupaten Gowa, khususnya Kecamatan Tinggimoncong dan Kecamatan Tombolopao. Dua wilayah ini dikenal sebagai sentra produksi kentang di Sulawesi Selatan.
Dalam disertasinya, Ardi menempatkan kentang sebagai komoditas pangan strategis, bernilai ekonomi, sekaligus berperan dalam diversifikasi pangan masyarakat. Kentang juga dipandang sebagai komoditas yang menjanjikan, terutama di wilayah dataran tinggi yang memiliki kesesuaian agroklimat untuk budidaya.
Penelitian tersebut dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama menganalisis biaya produksi, margin kotor, indeks profitabilitas, dan kelayakan finansial usahatani kentang. Tahap kedua menganalisis pengaruh penggunaan input terhadap produksi kentang dengan regresi logistik biner. Tahap ketiga menganalisis efisiensi dan inefisiensi penggunaan input dengan Stochastic Frontier Analysis.
Data penelitian diperoleh melalui wawancara terstruktur. Pada tahap pertama, penelitian melibatkan 131 petani kentang. Pada tahap kedua dan ketiga, jumlah responden bertambah menjadi 223 petani dengan teknik simple random sampling.
Di hadapan promotor dan penguji, Ardi menjelaskan bahwa masalah petani kentang tidak bisa dipahami hanya dari jumlah produksi. Produksi tinggi belum tentu berarti efisien. Sebaliknya, produksi yang terlihat baik bisa saja dicapai dengan biaya yang terlalu besar.
“Petani sering bekerja keras, tetapi belum tentu kombinasi input yang digunakan sudah paling menguntungkan. Di sinilah pentingnya membaca efisiensi,” kata Ardi.
Ardi dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Muslim Salam, M.Ec. sebagai promotor, Dr. Letty Fudjaja, S.P., M.Si. sebagai ko-promotor I, dan Pipi Diansari, S.E., M.Si., Ph.D. sebagai ko-promotor II. Adapun tim penguji terdiri atas penguji eksternal Dr. Andi Yulyani Fadwiwati, S.Pt., M.Si., serta penguji internal Prof. Dr. Ir. Baharuddin, Dipl.Ing., Prof. Dr. Ir. Rahim Darma, M.S., Prof. Dr. A. Nixia Tenriawaru, S.P., M.Si., dan Dr. Ir. Heliawaty, M.Si. Tim promotor juga bertindak sebagai penguji.
Masih Ada Ruang Meningkatkan Produksi
Hasil penelitian Ardi menunjukkan bahwa usahatani kentang di lokasi penelitian secara finansial menguntungkan dan layak dikembangkan. Namun, keuntungan itu belum sepenuhnya menunjukkan bahwa penggunaan input sudah berada pada titik paling efisien.
Nilai efisiensi teknis rata-rata sebesar 0,89 menunjukkan masih terdapat potensi peningkatan produksi sekitar 11 persen melalui pengelolaan input yang lebih optimal. Sementara nilai efisiensi ekonomi sebesar 1,54 menunjukkan bahwa usahatani kentang belum sepenuhnya efisien secara ekonomi karena kombinasi penggunaan input belum berada pada tingkat paling menguntungkan.
Temuan Ardi juga menunjukkan bahwa sejumlah input berpengaruh terhadap produksi kentang. Variabel benih kentang, pupuk kandang, pupuk NPK Ponska, pupuk urea, insektisida, dan frekuensi penyiraman berpengaruh positif terhadap produksi. Sebaliknya, penggunaan herbisida dan jarak rumah dari kebun berpengaruh negatif terhadap produksi.
“Benih, pupuk, penyiraman, dan pengendalian hama memang penting. Tetapi penggunaannya harus tepat. Kalau tidak tepat, input yang seharusnya membantu produksi justru bisa menambah biaya dan menurunkan efisiensi,” ujar Ardi.
Ia mencontohkan, jarak rumah petani dari kebun dapat memengaruhi intensitas pengelolaan tanaman. Semakin jauh kebun dari rumah, semakin besar tantangan petani untuk melakukan pemantauan rutin, penyiraman, dan pengendalian hama secara cepat.
Dalam ruangan ujian, paparan Ardi beberapa kali disambut catatan dan pertanyaan penguji. Meja-meja yang tersusun mengelilingi ruang membuat diskusi berlangsung terbuka. Di satu sisi, promotor dan ko-promotor mencermati dokumen. Di sisi lain, penguji mencatat poin-poin metodologis dan implikasi kebijakan dari penelitian tersebut.
Ardi menegaskan, hasil penelitiannya tidak dimaksudkan hanya untuk menambah literatur akademik. Ia berharap temuan itu dapat membantu petani dan pemangku kebijakan memahami pentingnya manajemen input dalam usahatani kentang.
“Petani membutuhkan dukungan, bukan hanya dalam bentuk sarana produksi, tetapi juga pengetahuan, penyuluhan, dan kelembagaan yang kuat,” kata Ardi.
Tumbuh dari Agribisnis Unismuh
Capaian doktor ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Ardi dalam dunia agribisnis. Ia lahir di Biringpanting, Kabupaten Gowa, 10 Agustus 1987. Ardi merupakan suami dari Marwah, S.P., dan ayah dari dua anak, yakni Fuqaih Aziz Fatahillah dan Fuqayah Azizah Fatahillah.
Dalam naskah disertasinya, Ardi menyampaikan terima kasih kepada ayahandanya, H. Rumallang, dan ibundanya, Hj. Najang, serta kepada mertuanya, M. Sabar dan Kartini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada istrinya dan kedua anaknya atas kesabaran dan dukungan selama menjalani pendidikan doktoral.
Perjalanan pendidikan Ardi dimulai dari SDI Biringpanting, Kabupaten Gowa. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke MTsM Datarang dan SMA Negeri 1 Tinggimoncong. Setelah itu, ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Unismuh Makassar tahun 2010, lalu meraih magister pada Program Studi Manajemen Agribisnis Pascasarjana Unismuh Makassar tahun 2012.
Karier akademiknya berlanjut sebagai Dosen Tetap Persyarikatan pada Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Unismuh Makassar. Ia tercatat memiliki NIDN 0910088702 dengan jabatan fungsional Lektor.
Di luar ruang kuliah, Ardi memiliki pengalaman lapangan yang panjang. Ia pernah menjadi Koordinator Pendamping Lapangan Dirjen Perkebunan yang ditempatkan di Kabupaten Bantaeng pada 2011–2020. Di lingkungan Unismuh Makassar, ia pernah menjabat Wakil Dekan IV Fakultas Pertanian pada 2017–2025. Sejak 2025, ia mendapat amanah sebagai Ketua Divisi Pembinaan Bakat Kepemimpinan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar periode 2025–2029.
Rekam jejak publikasi Ardi juga menunjukkan konsistensinya pada isu pertanian, agribisnis, dan usahatani di Kabupaten Gowa. Sejumlah artikelnya membahas sistem bagi hasil dan pendapatan petani berbasis komoditas di Desa Erelembang, struktur dan kinerja pemasaran kentang di Tombolopao, serta pola usahatani sayur di wilayah yang sama.
Sebagian isi disertasinya telah dipresentasikan dalam The 4th International Conference on Environmental Ecology of Food Security (ICEFS) di Merauke, Papua Selatan, dengan judul “Gross margin, profitability index, and financial feasibility analyses of potato farming: Empirical facts from Gowa Regency, Indonesia.” Artikel tersebut telah terbit di IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. Bagian lain dari disertasi juga dikembangkan menjadi artikel berjudul “Examining the effect of farm and farmers’ characteristics and input allocation on potato production.”
Menjelang akhir ujian, suasana ruang Smart Class tetap tertib. Ardi kembali mencermati catatan di hadapannya, lalu menjawab pertanyaan penguji dengan nada tenang. Di layar besar, peserta daring masih terlihat mengikuti jalannya ujian. Di meja penguji, dokumen disertasi, laptop, dan catatan berserakan rapi, menandai proses akademik yang berlangsung serius.
Bagi Unismuh Makassar, capaian Ardi menambah daftar dosen bergelar doktor di Fakultas Pertanian. Lebih dari sekadar capaian pribadi, gelar doktor ini memperkuat kapasitas kampus dalam bidang agribisnis, riset pertanian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Harapan saya, penelitian ini bisa kembali kepada petani. Ilmu pertanian harus memberi manfaat bagi mereka yang bekerja di lahan,” ujar Ardi.
Dari ruang ujian itu, satu pesan terasa kuat. Riset pertanian tidak berhenti pada angka, model, dan tabel. Ia harus kembali ke kebun, menyentuh kehidupan petani, dan memberi arah bagi kebijakan pertanian yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.




















