Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Etika Akademik di Era Generative AI: Berpikir with AI, Bukan by AI

×

Etika Akademik di Era Generative AI: Berpikir with AI, Bukan by AI

Share this article

Penulis: Dr. Kiki Henra, S.Pd., M.Pd.
(Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Bone)

KHITTAH.CO — Beberapa tahun terakhir, kemunculan Generative AI benar-benar mengguncang dunia akademik. Sekarang, mesin bisa menghasilkan teks, solusi, atau analisis dalam hitungan detik. Esai otomatis jadi hal biasa, ringkasan bacaan muncul seketika, dan langkah-langkah soal matematika bisa keluar tanpa perlu berpikir panjang. Di kelas, baik di sekolah maupun kampus, mulai ada gejala tugas-tugas yang tampak “sempurna,” tapi tidak benar-benar mencerminkan kemampuan berpikir siswa. Ini memancing pertanyaan besar, apakah siswa, mahasiswa, guru, dan dosen masih benar-benar berpikir, atau mereka sudah menyerahkan proses berpikir sepenuhnya ke mesin?

Di tengah laju perubahan ini, etika akademik kembali ramai dibahas. Tapi sekarang, tantangannya beda. Dulu, isu utama soal etika berkutat di plagiarisme dan keaslian karya. Sekarang, masalahnya lebih mendalam, bagaimana memastikan proses berpikir manusia tetap jadi inti aktivitas akademik, walaupun AI semakin mendominasi, saya percaya, Generative AI tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi integritas akademik. Justru, ia menuntut cara berpikir baru yakni berpikir with AI, bukan by AI.

Generative AI sudah mengubah cara belajar dan bekerja di lingkungan akademik. Mahasiswa bisa menulis lebih cepat, guru bisa bikin rancangan pembelajaran otomatis, dosen bisa memeriksa literatur lebih efisien. Semua jadi lebih mudah. Tapi kemudahan ini juga membawa risiko, proses pemahaman jadi kabur. Banyak yang sekadar menyalin hasil dari AI tanpa mengecek kebenaran atau logika dasarnya. Dalam situasi seperti ini, AI bukan lagi alat bantu, tapi berubah jadi pengganti. Inilah yang saya maksud dengan penggunaan “by AI”, tugas selesai bukan karena seseorang benar-benar memikirkan materinya, tapi karena mesin mengambil alih seluruh prosesnya.

Dalam pendidikan terutama matematika, yang benar-benar penting bukan jawaban akhirnya, tapi proses berpikir yang dilalui untuk sampai ke solusi akhir. Inti pendidikan terletak pada pemahaman konsep, kemampuan mengkritisi, dan keterampilan menyelesaikan masalah. Kalau siswa atau mahasiswa cuma menyalin jawaban dari AI tanpa benar-benar menelaah dan mengolahnya, mereka kehilangan inti dari belajar itu sendiri. Guru dan dosen juga menghadapi dilema serupa, bagaimana mereka memastikan materi, soal, atau evaluasi yang dibuat bukan sekadar hasil instan dari AI, melainkan lahir dari pengetahuan dan intuisi pedagogis mereka. Tantangan etika akademik sekarang bukan hanya soal orisinalitas, tapi juga tentang memudarnya proses berpikir yang seharusnya terjadi secara mendalam.

Tapi menganggap AI hanya sebagai ancaman jelas keliru. Justru Generative AI bisa jadi mitra intelektual yang sangat berguna. Ia bisa membantu memberi contoh penulisan, meluruskan miskonsepsi, atau menawarkan sudut pandang baru. Kuncinya, manusia harus tetap memegang kendali sepenuhnya. Misalnya, menggunakan AI untuk bertanya, membandingkan, menganalisis, dan memverifikasi. AI seharusnya menjadi katalis dalam proses berpikir kritis, bukan pengganti.

Agar pola pikir ini berjalan, lembaga pendidikan perlu merumuskan pedoman etika yang realistis dan fleksibel. Larangan total penggunaan AI malah akan kontraproduktif. Biasanya justru mendorong penggunaan secara diam-diam yang akhirnya memicu ketidakjujuran. Pedoman yang baik menekankan transparansi dan tahapan proses. Misalnya, siswa dan pendidik diwajibkan mencantumkan bagaimana AI digunakan, menyertakan contoh prompt, menjelaskan bagian mana yang mereka perbaiki sendiri, dan menulis refleksi singkat apakah hasil AI memang sudah tepat atau perlu disempurnakan. Dengan cara ini, AI menjadi bagian dari proses akademik yang jujur dan bertanggung jawab, bukan jalan pintas yang menyingkirkan proses belajar.

Sudah saatnya penilaian di Sekolah dan Perguruan Tinggi perlu berubah. Kalau tugas hanya menilai hasil akhir, AI bisa dengan mudah mengambil alih. Guru dan Dosen sekarang harus menciptakan assesment yang menggali proses berpikir mulai dari presentasi, jurnal refleksi yang mendorong metakognisi, analisis kesalahan, sampai penjelasan langkah-langkah menyelesaikan masalah.

Jenis assesment seperti ini jauh lebih sulit digantikan AI, karena butuh interpretasi pribadi, penalaran orisinal, dan alasan yang jelas. Di sisi lain, literasi AI dan literasi etika wajib jadi bagian penting pendidikan. Siswa, mahasiswa, guru, dan dosen perlu paham batasan AI, potensi bias, dan risiko kesalahan yang bisa terjadi. Mereka juga harus sadar bahwa tanggung jawab akhir tetap ada pada manusia. Kemampuan menilai hasil dari AI dan mengerti cara kerjanya sekarang jadi kompetensi utama di dunia akademik.

Tantangan etika akademik di era Generative AI tidak sesederhana melarang atau menerima teknologi begitu saja. Terpenting, jangan biarkan proses berpikir manusia mati begitu saja gara-gara kemudahan mesin. Berpikir with AI artinya menggunakan teknologi untuk memperkaya kapasitas intelektual. Kalau menyerahkan semuanya ke AI, proses itu justru hilang. Sebagai akademisi; siswa, mahasiswa, guru, dan dosen harus memastikan teknologi memperkuat integritas, bukan sebaliknya. Di era AI, integritas akademik akan selalu tetap ada. Bentuknya saja yang berubah. Tugas kita sekarang, merumuskan, menegakkan, dan menjalankan bentuk baru itu secara bersama-sama, sebelum proses berpikir kita benar-benar digantikan oleh sistem otomatisasi.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply