
Oleh: Hadi Pajarianto (Pecinta Literasi)
Konya-Indonesia: Kegelisahan Batiniyah
Rumi lahir di Balk Afganistan, dan berpindah ke Nishapur, kemudian Baghdad, dan akhirnya menetap di Konya, Turki sampai akhir hayatnya. Buku yang berjudul Jalan Cinta Sang Sufi: Ajaran-ajaran Spiritual Jalaluddin Rumi adalah terjemahan dari karya William C. Chittick,The Sufi Path of Love: Spiritual Teachings of Rumi. Chittick berhasil melakukan maping secara tematik, dan memberikan ulasan yang mendalam dari syair-syair Rumi yang telah menjadi bahan perbincangan dalam khazanah kesusastraan Barat dan Timur.
Kebenaran tertinggi tidak bisa diketahui dari jarak tapi dari kedekatan, dan pengetahuan tertinggi dalam tasawuf menuntut kedekatan eksistensial, bukan jarak objektif. Begitulah cara William C. Chittick mengurai kedalaman eksistensial dari puisi Rumi yang mengambil cinta sebagai altar perjalanan menuju Tuhan.
Kerinduan terhadap syair-syair bertemakan cinta dan spiritualitas ala Rumi mendapatkan momentumnya pada saat dunia sedang mengalami gejala “kebangkitan agama dan spiritualitas”. Sejak tahun 1990-an, Barat mengobarkan semangat “Spirituality Yes, Religion No” atau sering ditulis “Spiritual but not Religious” bukan berasal dari satu tokoh tertentu, tetapi muncul dalam wacana budaya Barat kontemporer, terutama sejak akhir abad ke-20.
Manusia modern mengalami kerinduan untuk menemukan dirinya yang sejati dan memperoleh makna dalam hidupnya telah membuat mereka kembali merenungkan pesan-pesan moral dan spiritual yang ada dalam setiap agama. Pesan moral dan spiritual yang mampu menyentuh dimensi batin, adalah dengan syair yang memiliki nilai universal. Itulah yang terkandung dalam setiap ajaran dan jalan spiritual pada Sufi.
Berbeda dengan Rumi, Kyai Dahlan lahir dan hidup di Yogyakarta, Indonesia pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang tertinggal dalam pendidikan, miskin dalam pemahaman agama, dan terjebak dalam ritual formalitas. Keprihatinannya mengantarkannya ke Mekkah yang dekat dengan denyut jantung pembaruan, dan berkenalan dengan ide-ide Muhammad Rashid Rida. Kegelisahan ini muncul dari retaknya keluhuran nilai-nilai Al-Qur’an yang mengajarkan kebaikan dan kepedulian pada sesama, dengan praktik sehari-hari umat yang rigid tidak menyentuh persoalan umat dan bangsa yang berada pada titik nadir sejarah.
Selain itu, Kiai Dahlan mengalami pergolakan batin akibat kuatnya kolonialisme Belanda yang menimbulkan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan sosial. Bagi Dahlan, agama tidak hanya sekedar amalan ritualistik semata, tetapi sebagai ideologi perlawanan terhadap penindasan dan mendorong perubahan sosial dan pendidikan umat. Kegelisahan ini menjadi motivasi utama baginya untuk mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, karena didasari semangat “welas” yang berarti iba-kasihan, dan “asih” yang berarti kasih sayang. Iman bukan hanya pada pikiran dan ucapan, tetapi dibuktikan dengan tindakan.
Transformasi Batiniyah Rumi dan Kyai Dahlan
Terdapat beberapa informasi terkait jumlah bait syair Rumi dalam Masnawi, ada yang menyebut 25 ribu dan ada yang menginformasikan 26 ribu, jadi kita ambil 25-26 ribu syair yang termaktub dalam 6 jilid buku. Bagi Rumi, menulis puluhan ribu syair bukan untuk menjadi penyair terkenal. Tetapi ingin menyampaikan satu pesan terdalam dalam kehidupan manusia, yakni cinta. Cinta bagi Rumi adalah jalan yang paling indah dan tercepat menuju kesadaran akan Tuhan.
Sejak Syams Tabriz yang bernama lengkap Shams al-Dīn Muhammad dari Tabriz masuk dalam kehidupan Rumi, maka pergolakan batiniyah Rumi menjadikannya mengubah ekspresi dari ahli fiqih bertransformasi menjadi penyair mistik terbesar abad ini. Syams membuka dimensi cinta dalam diri Rumi dan pengalaman langsung dengan Tuhan, bukan sekadar pengetahuan kitab. Syams Tabriz bagi Rumi adalah cahaya yang membakar ego, membangunkan cinta, dan membuka jalan menuju Tuhan.
Kyai Dahlan, juga mengalami transformasi batiniyah yang luar biasa, kedekatannya dengan keraton Yogyakarta karena letak Kauman yang strategis, kedekatannya bersifat spiritual dan pendidikan, bukan status bangsawan. Ia hanya mengajar, berdakwah, dan memberikan pencerahan agar umat Islam dan bangsa Indonesia bangkit dari kebodohan, keterbelakangan, dan berdiri tegak melawan imperialisme yang disokong oleh tiga propaganda utama, Gold, Glory, dan Gospel. Maka lahirlah
Teologi welas asih Kiai Ahmad Dahlan lahir pada awal abad ke-20 dalam konteks penderitaan umat Islam di Hindia Belanda. Umat Islam menderita kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan pendidikan, dan ketimpangan sosial akibat kolonialisme. Saat itu, agama sering dipraktikkan secara ritualistik taat ibadah, tetapi kurang menyentuh persoalan sosial. Dahlan melihat adanya jarak antara ajaran Al-Qur’an dan realitas hidup umat, khususnya nasib kaum miskin dan tertindas.
Welas asih adalah sikap batin dan tindakan nyata yang lahir dari empati mendalam terhadap penderitaan orang lain, disertai dorongan untuk menolong dan memulihkan.Akar utama teologi welas asih Dahlan bersumber dari Al-Qur’an, terutama Surah Al-Ma’un. Dahlan berulang kali mengajarkan surah ini kepada murid-muridnya, bukan untuk dihafal saja, tetapi diamalkan. Dari sinilah lahir pemahaman bahwa iman sejati harus tampak dalam kepedulian sosial, menolong fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang terpinggirkan. Dalam pandangan Dahlan, agama tanpa welas asih adalah agama yang kehilangan ruh.
Teologi welas asih Dahlan tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Inilah yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah (1912) sebagai gerakan sosial-keagamaan. Sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan pelayanan sosial (Healing, Feeding, Schooling) adalah bentuk praksis teologi welas asih tersebut. Dengan demikian, teologi Dahlan bersifat aksiologis, kebenaran agama diukur dari manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Beda Ekspresi Satu Tujuan: Cinta dan Welas Asih
Syair-syair cinta Jalaluddin Rumi menempatkan cinta sebagai ide dan kekuatan spiritual yang menggerakkan manusia melampaui ego manusia. Cinta dalam puisi Rumi bukan sekadar perasaan personal, melainkan jalan komunal untuk mendekat kepada Tuhan melalui pembukaan hati, kerendahan diri, dan penerimaan terhadap sesama manusia. Dalam pandangan ini, cinta menjadi energi transformatif yang menggerakkan dan mendekatkan.Semakin seseorang mencintai, semakin ia terbebas dari keakuan dan semakin dekat pada kebenaran ilahi.
Sejalan dengan itu, ajaran welas asih Kiai Ahmad Dahlan meskipun disampaikan dalam bahasa sosial dan praksis keagamaan, memiliki inti yang sejalan dengan ide cinta Rumi. Kiai Dahlan menekankan bahwa keimanan harus diwujudkan dalam kepedulian nyata terhadap penderitaan manusia, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Welas asih bukan hanya ucapan dan sikap hati, melainkan tindakan nyata berpihak pada kehidupan. Jika Rumi mengekspresikan cinta melalui simbol dan puisi, Kiai Dahlan menerjemahkannya ke dalam gerakan sosial, pendidikan, dan pelayanan umat.
Dengan kata lain, melalui sejarah, cinta dalam syair Rumi dan welas asih dalam ajaran Kiai Dahlan akan bersatu dalam satu titik, cinta sebagai etika dan inti spiritualitas. Perbedaannya hanyalah pada ruang ekspresi, bukan tujuan. Rumi membawa manusia ke dalam, menuntunnya kepada cinta Ilahi, sementara Kiai Dahlan membawa manusia keluar, menciptakan wadah sosial yang sempurna untuk cinta tersebut melalui gerakan Healing (pelayanan kesehatan), Feeding (Panti asuhan dan pelayanan sosial),dan Schooling (pelayanan pendidikan). Rumi dan Dahlan membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah mewujud pada kata-kata dan perasaan, tetapi melalui transformasi nilai tertinggi dari Tuhan untuk kebaikan untuk kemanusiaan, dan akhirnya semakin mendekatkan manusia dengan Tuhan.





















