KHITTAH.CO, MAKASSAR – Di bawah langit Makassar yang terik, tiga kader dari kaki pegunungan Tana Toraja berdiri tegak di depan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Sulawesi Selatan. Mereka bukan sekadar datang untuk menggugurkan kewajiban organisasi, melainkan membawa misi besar: menjaga marwah persyarikatan di tanah di mana suara azan berkelindan dengan harmoni keberagaman.
Muhammadiyah (PDM) Tana Toraja hadir memenuhi panggilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan untuk mengikuti Pelatihan Manajemen Reputasi Digital, yang berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad 1-3 Mei 2026.
Bagi kader Muhammadiyah di Tondok Lepongan Bulan (julukan Tana Toraja), dakwah digital bukan sekadar tren, melainkan benteng pertahanan. Di daerah di mana Muslim merupakan minoritas, setiap unggahan media sosial dan narasi digital adalah representasi wajah Islam yang moderat, sejuk, dan berkemajuan.
Langkah strategis diambil oleh PDM Tana Toraja dengan mengombinasikan kebijakan pimpinan dan kreativitas kaum muda. Delegasi kali ini dipimpin langsung oleh Imran, S.Ag., M.Pd.I. (Sekretaris PDM Tana Toraja), serta didampingi oleh dua srikandi muda dari Tim Media dan Komunikasi (Medkom) PDM Tana Toraja, Intan Nurul Nubuwati dan Muliati Rizkiyah Arsyad.
Kolaborasi Senior dan Angkatan Muda
Kehadiran Sekretaris PDM menunjukkan betapa krusialnya manajemen reputasi di mata organisasi, sementara pelibatan Intan dan Rizkiyah sebagai representasi golongan muda adalah upaya transformasi digital agar konten dakwah lebih adaptif terhadap karakteristik Generasi Z dan Milenial.
“Misi kita ke sini untuk belajar cara merawat dan mengembangkan reputasi organisasi. Kita mau Muhammadiyah di Toraja terlihat keren di digital, tetap mencerahkan, tapi nuansa budayanya tetap terasa,” tutur Intan, di sela-sela pelatihan
Selama pelatihan, para utusan ini digembleng dengan berbagai disiplin ilmu komunikasi digital, mulai dari strategi branding institusi hingga teknik mitigasi krisis di ruang publik. Perjuangan menempuh perjalanan jauh dari Tana Toraja ke Makassar harus dibayar tuntas dengan ilmu yang mumpuni.
Targetnya jelas: sekembalinya ke daerah, mereka akan menjadi motor penggerak digital yang tangguh. Transformasi ini diharapkan mampu mengamplifikasi setiap program kemanusiaan, pendidikan, dan kesehatan yang dijalankan Muhammadiyah di Tana Toraja agar terdengar hingga ke pelosok semesta digital.
Melalui pelatihan ini, Muhammadiyah Tana Toraja ingin menegaskan bahwa meski berada di wilayah minoritas, semangat syiar-nya tidak akan pernah surut. Dari Tondok Lepongan Bulan, mereka siap mewarnai jagat siber dengan narasi Islam yang damai, mencerahkan, dan bermartabat.




















