Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Menata Ulang Kelas Tahfidz di Sekolah Muhammadiyah

×

Menata Ulang Kelas Tahfidz di Sekolah Muhammadiyah

Share this article

Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

KHITTAH. CO – Sudah menjadi jamak kita ketahui bahwa Kiai Dahlan mengajar surah Al-Maun dan Surah Al-Ashr hingga berulang kali. Surat Al-Ma’un sampai sekitar tiga bulan dan surat Al-Ashr sampai sekitar tujuh bulan. Hal ini dilakukan oleh Kiai Dahlan karena dalam pandangan beliau memahami Al Qur’an tidak cukup dengan sekadar hafalan tetapi harus dapat dimaknai dan diimplementasikan dalam kehidupan keseharian. Islam bukan agama yang hanya melangit tetapi Islam adalah agama yang membumi dan Al Qur’an petunjuk untuk membumikan Islam.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, bermunculan kelas-kelas tahfidz di sekolah-sekolah berlabel Islam, tidak terkecuali sekolah-sekolah Muhammadiyah. Bahkan cenderung menjadi jualan untuk menarik calon peserta didik, dengan berbagai target hafalan. Tentu hal ini bukan sesuatu yang tidak bagus, program tentu menarik dan menjadi ajang mendekatkan peserta didik kepada Al-Qur’an. Namun , bila mencermati metode Kiai Dahlan, tentu hal ini belum cukup, diperlukan suatu metode yang tidak hanya mengantar peserta didik untuk menghafal tetapi perlu dilanjutkan dengan pemahaman dan pengamalan isi Al-Qur’an yang telah dihafal oleh peserta didik, sehingga peserta didik betul-betul memahami dan memaknai isi Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah, perlu menangkap api pembaruan cara mengajar Islam Kiai Dahlan kepada murid-muridnya. Bila selama ini kita menangkap makna teologi Al-Ma’un dengan peduli kepada anak yatim dan fakir miskin yang kemudian berlanjut dengan mendirikan panti-panti asuhan rumah sakit dan sekolah. Sekolah dan Madrasah  Muhammadiyah, perlu juga menangkap api pembaruan cara mengajar Kiai Dahlan, salah satunya metode aksi.

Isi pelajaran tidak cukup dihafal tetapi diamalkan dalam bentuk aksi. Al-Ma.un yang memerintahkan peduli kepada anak yatim yang oleh Kiai Dahlan meminta muridnya melakukan aksi, setelah itu baru dinilai memahami ayat tersebut.

Untuk menangkap api pembaruan tersebut, perlu dilakukan transformasi dari sekadar menghafal ke membedah ayat-ayat yang sedang dihafal. Peserta didik diberi kesempatan untuk membedah ayat-ayat sedang dihafal, memaknai isinya dan mengamalkan dalam interaksi keseharian. Hal ini bisa dilakukan dalam bentuk kelompok diskusi untuk membedah masalah yang terkait dengan kehidupan keseharian siswa, masalah terkait dengan lingkungan sekitarnya, dan berbagai masalah yang ada di sekitar peserta didik.

Kajian Tematik, misalnya siswa dikelompokkan untuk membedah masalah di sekitar mereka, tentang kemiskinan, tentang perundungan, atau tentang kebersihan  atau tema lain. Diskusi diarahkan untuk mencari solusinya berdasarkan ayat yang mereka hafal.

Lebih lanjut bisa dilakukan dengan gerakan “Satu Ayat, Satu Aksi”. Ini adalah bentuk konkret dari cara Kiai Dahlan mengajarkan muridnya memaknai isi Al-qur’an. Hal ini dapat dilakukan di sekolah misalnya ketika menghafal ayat tentang kebersihan, maka bisa dilakukan aksi  “memungut sampah setiap pagi sebelum masuk kelas, atau aksi lihat sampah pungut, atau aksi lain yang memberi ruang kepada siswa mengamalkan hidup bersih”.

Untuk menghindari terjadinya perundungan di sekolah dapat dilakukan dengan pembentukan sistem PeerSuppot di lingkungan sekolah sebagai aksi dari ayat yang berkaitan dengan persaudaraan, sebagai implementasi surat Al-Hujurat: 10). Saat siswa menghafal ayat tentang pelestarian alam (QS. Ar-Rum: 41), mereka langsung diterjunkan dalam proyek lingkungan (seperti zero waste di sekolah).

Implementasi lainnya terhadap hafalan Al-Qur’an, dapat dilakukan dengan pelembagaan amal, sebagaimana Kiai Dahlan yang tidak hanya memberi makan satu orang miskin, beliau mendirikan panti asuhan dan rumah sakit. Dalam skala sekolah, implementasinya adalah: Zakat, Infaq, dan Sedekah Learning Center, di mana kelas tahfidz dapat membentuk dan  mengelola “Bank Infaq” sendiri. Peserta didik belajar manajemen keuangan sosial, dari pengumpulan hingga distribusi kepada teman sejawat yang membutuhkan, termasuk kepada peserta didik yang tidak mampu

Di era digital ini, kesadaran pentingnya keshalehan digital sangat perlu bagi peserta didik, tidak sedikit terjadi masalah di antara peserta didik akibat penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab.  Ketika peserta didik menghafal ayat terkait tabayyun, ayat tentang hoaks  atau berita bohong, maka aksi yang dapat dilakukan adalah mengajak peserta didik untuk membentuk kelompok media sosial sehat tanpa hoaks.  Di samping itu juga aksi dakwah digital, peserta didik diajak membuat konten kreatif (video pendek/infografis) yang menjelaskan makna ayat dan ajakan berbuat baik. Ini memastikan nilai Al-Qur’an tersebar luas, bukan hanya tersimpan di memori mereka sendiri.

Selain itu para guru mata pelajaran lain, dapat mengintegrasikan pokok bahasan mereka dengan ayat-ayat terkait yang menjadi bahan hafalan peserta didik.

Program tahfidz berbasis kinerja, berbasis amal nyata sehingga peserta didik tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Qur’an tetapi dapat mengimplementasikan dalam kehidupan keseharian. Evaluasi dilakukan berbasis dampak (Impact-Based Evaluation). Keberhasilan kelas tahfidz tidak diukur dari berapa banyak “Juz” yang diselesaikan, melainkan seberapa besar penurunan angka pelanggaran kedisiplinan, seberapa aktif keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial. Munculnya inisiatif-inisiatif kreatif dari siswa untuk menyelesaikan masalah di lingkungan mereka.

Hadirnya kelas tahfidz berbasis kinerja di samping semakin menguatkan hafalan peserta didik, peserta didik paham bagaimana mengamalkan ayat-ayat yang mereka hafal, dan tentu berbagai dampak yang terkait dapat teratasi di sekolah, misalnya kebersihan menjadi pola hidup peserta didik, tidak terjadi lagi perundungan, penyebaran informasi hoaks di kalangan peserta didik akan berkurang, dan berbagai dampak positif lainnya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

  • Klik Banner PMB UNIMEN

Leave a Reply