Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Menteri UMKM di Unismuh: Mahasiswa Harus Berani Jadi Pendobrak Masa Depan

×

Menteri UMKM di Unismuh: Mahasiswa Harus Berani Jadi Pendobrak Masa Depan

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia Maman Abdurrahman mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) berani menghadapi ketidakpastian dan menjadi generasi pendobrak masa depan.

Menurutnya, keberanian tersebut harus ditopang iman, ilmu, ideologi, organisasi, strategi, serta kemampuan teknis agar generasi muda tidak sekadar menjadi penonton perubahan.

Pesan itu disampaikan Maman saat memberikan kuliah umum bertema “Penguatan UMKM untuk Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan” di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Unismuh Makassar, Selasa, 15 September 2026.

Kuliah umum tersebut merupakan bagian dari rangkaian Ta’aruf Mahasiswa Baru Fakultas Agama Islam (FAI) Unismuh Makassar.

Rangkaian kuliah umum diawali dengan sambutan Dekan FAI Unismuh Dr Amirah Mawardi, S.Ag., M.Si., kemudian sambutan Pelaksana Harian Rektor Unismuh yang juga Wakil Rektor I, Prof Andi Sukri Syamsuri.

Dalam kuliah tersebut, Maman tidak hanya berbicara mengenai UMKM dan kewirausahaan. Ia membawa mahasiswa pada pembicaraan yang lebih luas mengenai keberanian memulai, kegagalan, kepemimpinan, iman, ilmu, organisasi, hingga tanggung jawab sosial generasi muda.

Masa Depan Tidak Pernah Ramah

“Masa depan itu tidak akan pernah ramah,” kata Maman.

Menurutnya, masa depan tidak datang dengan sendirinya. Anak muda harus memiliki keberanian mencoba, termasuk ketika keputusan yang diambil mengandung risiko kegagalan.

Ketakutan terhadap perubahan dan sikap terlalu pesimistis, kata dia, justru dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.

Maman kemudian mengajak mahasiswa tidak melihat keberhasilan seseorang hanya dari posisi yang sedang ditempatinya hari ini.

Ia menceritakan bahwa sekitar 20 hingga 25 tahun lalu dirinya juga berada pada fase sebagai anak muda yang menjalani proses pendidikan dan organisasi.

Maman berasal dari Kalimantan Barat. Dari proses yang panjang, ia menempuh pendidikan, aktif dalam organisasi kemahasiswaan, memasuki dunia profesional dan politik, menjadi anggota DPR RI, hingga mendapat amanah sebagai Menteri UMKM.

“Orang kampung itu punya keberanian dan tekad untuk menjadi inspirasi bagi adik-adiknya,” ujarnya.

Baginya, kampung tidak boleh dimaknai sebagai simbol keterbatasan. Dari tempat sederhana sekalipun, seseorang dapat membangun kapasitas, mengumpulkan pengalaman, dan mengambil peran yang lebih besar.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak terlalu sibuk mempersoalkan dari mana mereka berasal. Yang lebih menentukan adalah bagaimana kesempatan belajar digunakan untuk membangun kapasitas dan mempersiapkan masa depan.

Pemimpin Bukan Sekadar Menang

Maman juga memberikan pesan khusus mengenai kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada persoalan menang atau kalah dalam pemilihan organisasi. Jabatan, menurutnya, hanyalah awal dari sebuah tanggung jawab.

“Menjadi pemimpin itu adalah bagaimana dia bisa memberikan contoh dan penyemangat kepada adik-adiknya ke depan,” kata Maman.

Karena itu, pengalaman berorganisasi di kampus tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai jalan mendapatkan jabatan.

Organisasi merupakan ruang belajar untuk membangun karakter, mengambil keputusan, bekerja bersama, membangun jejaring, serta memahami bagaimana sebuah tanggung jawab dijalankan.

Pesan tersebut memiliki konteks tersendiri bagi mahasiswa. Sebelum menjadi menteri, Maman pernah menjadi aktivis kampus dan menjabat Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Trisakti periode 2004–2006.

Perjalanan dari aktivis mahasiswa hingga masuk dalam pemerintahan itu menjadi salah satu pesan penting dalam kuliah umum: masa mahasiswa merupakan fase membangun kapasitas, bukan sekadar mengejar gelar akademik.

Jangan Takut Gagal

Maman kemudian mengajak mahasiswa mengubah cara pandang terhadap kegagalan.

Menurutnya, anak muda tidak perlu menjadikan kesalahan sebagai sesuatu yang selalu harus ditakuti. Pengalaman salah justru dapat menjadi jalan untuk memahami apa yang benar.

“Kalau kalian tidak pernah melakukan kesalahan, mungkinkah kalian tahu apa itu benar?” ujarnya.

Hal yang sama berlaku pada keberhasilan. Tanpa mengalami kegagalan, seseorang akan kesulitan memahami arti keberhasilan secara utuh.

Karena itu, kegagalan tidak semestinya membuat seseorang berhenti. Ia harus ditempatkan sebagai bagian dari proses belajar, melakukan evaluasi, dan memperbaiki langkah.

Maman juga meminta mahasiswa tidak merendahkan orang lain yang sedang mengalami kegagalan.

“Mereka adalah orang-orang yang sedang dipersiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi orang-orang yang nanti akan berhasil,” tuturnya.

Islam Harus Terlihat dalam Laku

Di hadapan mahasiswa Fakultas Agama Islam, Maman juga berbicara mengenai makna keberagamaan.

Ia mengajak mahasiswa memahami Islam tidak sebatas simbol dan atribut, tetapi sebagai nilai yang tercermin dalam tindakan serta kontribusi kepada masyarakat.

“Islam itu tentang laku. Islam itu tentang seberapa kuat kalian memberikan sesuatu kepada masyarakat,” katanya.

Karena itu, keimanan dan pengetahuan agama menurutnya harus mempunyai dampak sosial.

Ia juga mendorong mahasiswa terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan realitas masyarakat yang majemuk. Keterbukaan untuk belajar tidak berarti kehilangan keyakinan, tetapi dapat memperluas pemahaman terhadap kehidupan sosial.

Muhammadiyah Harus Terus Berdampak

Maman turut menyinggung peran Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat.

Ia mengapresiasi gerakan Muhammadiyah yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam ke dalam kerja sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Bagi Maman, keberagamaan tidak cukup berhenti pada simbol, tetapi harus menghasilkan sesuatu yang memberi manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Karena itu, mahasiswa Unismuh didorong meneruskan tradisi tersebut.

Ilmu dan nilai keislaman yang diperoleh di kampus tidak cukup dipahami secara teoritis. Keduanya harus diterjemahkan menjadi tindakan dan kemanfaatan yang dapat dirasakan masyarakat.

Enam Bekal Pendobrak Masa Depan

Menjelang akhir kuliah umum, Maman merumuskan enam bekal yang menurutnya perlu dimiliki generasi muda untuk menjadi pendobrak masa depan.

Keenam bekal tersebut ialah iman dan keyakinan yang teguh, ilmu yang memadai, ideologi yang jelas, organisasi yang tertata, strategi dan taktik yang tepat, serta kemampuan teknis yang mumpuni.

Pesan itu memperlihatkan bahwa keberanian saja tidak cukup. Anak muda perlu berani memulai, tetapi keberanian harus ditopang ilmu dan nilai. Organisasi dibutuhkan agar kekuatan dapat dihimpun, sedangkan strategi dan kemampuan teknis diperlukan agar sebuah gagasan dapat diwujudkan menjadi tindakan.

Maman juga menekankan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kuliah.

“Dalam setiap proses perjalanan hidup kalian, hari ini, kemarin, dan seterusnya, itu adalah bagian dari sebuah proses pembelajaran,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan kembali mahasiswa bahwa masa depan selalu mengandung ketidakpastian.

“Masa depan itu adalah misteri. Masa depan itu adalah ketidakpastian.”

Namun, ketidakpastian itu justru menjadi alasan mahasiswa harus mempersiapkan diri. Generasi muda, katanya, tidak cukup menjadi penonton perubahan, tetapi harus memiliki kapasitas untuk ikut menentukan arah perubahan.

Menutup kuliah umumnya, Maman mengingatkan pentingnya keberanian dan keteguhan ketika menghadapi keadaan yang sulit.

“Sesungguhnya gampang dan susah itu tidak ada kalau kalian semua anak-anak Unismuh ini hanya berani yang gampang dan takut pada yang susah. Namun, jika jiwanya kokoh, itu keyakinan. Karena kalian akan taklukkan itu,” tutupnya.

Kehadiran Menteri UMKM melanjutkan rangkaian pembekalan mahasiswa baru Unismuh oleh tokoh nasional. Pada pembukaan Ta’aruf Mahasiswa Baru tingkat universitas, Sabtu, 12 September 2026, Menteri Pertanian RI Dr Andi Amran Sulaiman juga memberikan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa baru.

Jika Amran membekali mahasiswa dengan perspektif mengenai pertanian dan ketahanan pangan, Maman membawa pesan tentang kewirausahaan, kepemimpinan, keberanian mengambil risiko, dan kesiapan menghadapi perubahan.

Kuliah umum tersebut sekaligus sejalan dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam penguatan kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja, kemandirian generasi muda, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply