
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Pendidikan akidah Islam tidak cukup berhenti pada penguasaan konsep keimanan. Keyakinan kepada Allah, malaikat, rasul, dan kitab-kitab suci perlu membentuk kesadaran moral yang memengaruhi cara seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan antara keimanan dan perilaku tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan Prof. Dr. Abu Zaid bin Muhammad Makki Al-Qubbi, akademisi Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi, dalam Seminar Internasional Ma’had Al-Birr Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Rabu, 4 November 2026.
Seminar bertema “Peran Akidah Islam dalam Pendidikan Generasi Unggul: Fondasi, Metode, dan Tujuan” itu berlangsung di Masjid Subulussalam Al-Khoory, Kampus Unismuh Makassar. Sekitar 500 peserta dari kalangan mahasiswa dan akademisi mengikuti kegiatan tersebut.
Dalam pemaparannya, Abu Zaid mengajak peserta memahami akidah secara menyeluruh, mulai dari konsep tauhid hingga konsekuensi keimanan terhadap perilaku manusia. Ia menggunakan pendekatan dialogis dengan mengajukan pertanyaan, meminta peserta menjelaskan jawaban, serta memberikan penilaian atas pemahaman mereka.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran akidah tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menghafal pokok-pokok ajaran Islam. Pemahaman terhadap keyakinan juga perlu dibangun melalui penalaran agar peserta didik dapat menghubungkannya dengan kehidupan nyata.
Tauhid sebagai Fondasi Pemahaman
Dalam pembahasan mengenai tauhid, Abu Zaid mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar tentang keesaan Allah dan sifat-sifat-Nya. Peserta diajak membedakan kedudukan Allah sebagai pencipta dengan seluruh makhluk sebagai ciptaan.
“Allah tidak seperti sesuatu,” ujar Abu Zaid dalam penjelasannya mengenai sifat-sifat Allah.
Ia menerangkan bahwa Allah memiliki sifat mendengar dan melihat, tetapi sifat tersebut tidak dapat disamakan dengan kemampuan manusia. Penglihatan dan pendengaran manusia memiliki keterbatasan, sedangkan sifat-sifat Allah tidak dapat diukur berdasarkan keterbatasan makhluk.
Penjelasan tersebut menjadi dasar bagi peserta untuk memahami perbedaan antara Tuhan dan ciptaan-Nya. Abu Zaid kemudian menguji pemahaman mereka melalui sejumlah pertanyaan yang menuntut jawaban beserta alasannya.
Dalam proses itu, peserta tidak hanya mendengarkan uraian narasumber. Mereka turut terlibat dalam diskusi yang menempatkan pemahaman dan kemampuan menjelaskan konsep sebagai bagian penting pembelajaran.
Iman kepada Malaikat dan Pengendalian Diri
Salah satu pembahasan yang mendapat penekanan khusus adalah hubungan antara iman kepada malaikat dan perilaku manusia. Abu Zaid mengajak peserta memikirkan dampak keyakinan terhadap keberadaan malaikat yang mencatat perbuatan manusia.
Ia memberikan contoh bagaimana kesadaran tersebut semestinya memengaruhi seseorang ketika berbicara, berinteraksi dengan orang lain, atau berada di lingkungan masjid. Keyakinan terhadap malaikat tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan mengenai keberadaan mereka, tetapi juga menjadi pengingat untuk menjaga perilaku.
Abu Zaid menjelaskan bahwa seseorang yang menyadari adanya pencatatan terhadap perbuatannya akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak. Kesadaran itu diharapkan tumbuh dari keyakinan pribadi, bukan semata-mata karena adanya pengawasan dari orang lain.
Dalam perspektif pendidikan karakter, pembahasan tersebut memperlihatkan pentingnya pengendalian diri yang bersumber dari kesadaran internal. Perilaku baik tidak hanya dilakukan ketika seseorang berada dalam pengawasan, tetapi juga ketika ia memahami tanggung jawab moral atas setiap tindakannya.
Bagi mahasiswa, pemahaman itu memiliki relevansi dengan kehidupan akademik. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama membutuhkan kesadaran pribadi agar dapat diterapkan secara konsisten.
Memahami Hubungan Antarrukun Iman
Pembahasan kemudian berlanjut pada keterkaitan iman kepada malaikat dengan rukun iman lainnya. Abu Zaid menjelaskan kedudukan malaikat dalam penyampaian wahyu serta hubungan antara keimanan kepada Allah, kitab-kitab suci, dan para rasul.
Ia mengajak peserta menjawab pertanyaan mengenai lima rasul Ulul Azmi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad. Melalui pertanyaan tersebut, peserta diuji mengenai pengetahuan mereka terhadap sejarah kenabian dan kedudukan para rasul dalam Islam.
Abu Zaid juga membahas kitab-kitab yang diturunkan Allah dan menempatkan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Ia menghubungkan kedudukan Al-Qur’an dengan kenabian Muhammad serta kandungan wahyu yang menjadi pedoman bagi umat Islam.
Rangkaian pembahasan itu memperlihatkan bahwa unsur-unsur keimanan tidak dipelajari sebagai konsep yang berdiri sendiri. Masing-masing memiliki keterkaitan dalam membangun pemahaman terhadap ajaran Islam secara utuh.
Pendidikan Akidah Melalui Dialog
Selain substansi keimanan, cara Abu Zaid menyampaikan materi menjadi bagian menarik dari seminar tersebut. Ia berulang kali mengajukan pertanyaan, mengundang peserta memberikan jawaban, dan memberikan penilaian secara langsung.
Pertanyaan yang diajukan tidak hanya menuntut peserta mengingat informasi, tetapi juga menjelaskan alasan atas jawaban yang disampaikan. Dalam beberapa kesempatan, peserta diminta menghubungkan pengetahuan keagamaan dengan situasi yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan dialogis itu membuka ruang bagi mahasiswa untuk menguji pemahaman mereka sekaligus mengetahui bagian-bagian ajaran Islam yang masih perlu dipelajari lebih lanjut.
Abu Zaid merupakan profesor madya bidang Akidah pada Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Ummul Qura, Makkah. Selain mengajar di perguruan tinggi, ia juga terlibat dalam kegiatan pendidikan Islam dan forum-forum keilmuan.
Melalui seminar tersebut, pemahaman akidah ditempatkan sebagai dasar yang berkaitan dengan pembentukan karakter. Keunggulan generasi muda, dalam kerangka pendidikan yang dibahas, tidak cukup diukur melalui keluasan pengetahuan, tetapi juga melalui kemampuan menerjemahkan keyakinan menjadi perilaku yang bertanggung jawab.
Kontributor: Qotadah/Ilmia Nabila/Nur Wahyuni






















