
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Workshop Penulisan Artikel untuk Submit ke Jurnal Internasional Q1 yang digelar Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) resmi ditutup di Aula Teater I-Gift Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Kamis, 8 Oktober 2026.
Penutupan menandai berakhirnya pendampingan intensif selama dua hari terhadap sekitar 70 dosen dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejumlah peserta berhasil membawa artikelnya hingga tahap submit ke jurnal internasional.
Ketua Tim Kerja Ekosistem Peneliti Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Yoga Dwi Arianda, S.T., M.Pd., mengapresiasi progres peserta selama workshop. Ketika ia meminta peserta yang telah melakukan submit untuk mengangkat tangan, sejumlah peserta merespons. Bahkan, menurut Yoga, terdapat satu kelompok dengan 10 peserta yang telah mencapai tahap submit.
“Yang penting Bapak-Ibu sudah submit. Kemudian yang belum, tentu kami tunggu progresnya,” kata Yoga.
Menurutnya, ukuran keberhasilan program bukan sekadar selesainya kegiatan selama dua hari, melainkan sejauh mana peserta melanjutkan revisi dan benar-benar mengirimkan artikelnya ke jurnal yang dituju.
Peserta diminta melaporkan perkembangan artikel melalui platform yang telah disiapkan. Bagi peserta yang sudah submit, bukti pengiriman artikel juga diminta dilampirkan bersama naskah hasil revisi.
Diberi Waktu Sebulan
Direktorat Bina Talenta memberi waktu satu bulan kepada peserta untuk menuntaskan revisi dan memperbarui perkembangan artikelnya.
“Kami berikan Bapak-Ibu satu bulan untuk melakukan perbaikan, revisi, dan melakukan progres di platform kami. Syukur-syukur yang sudah submit,” ujar Yoga.
Ia menjelaskan, pendampingan publikasi tersebut dirancang sebagai proses berkelanjutan. Peserta yang kemudian berhasil memublikasikan artikelnya juga akan diperjuangkan untuk memperoleh prioritas dalam program insentif publikasi.
“Ini kan program berkesinambungan. Bapak-Ibu sudah susah payah datang ke Makassar. Ada yang sampai begadang, bahkan dalam kondisi sakit untuk melakukan revisi. Tetap semangat, tetap submit,” pesannya.
Yoga juga meminta para peserta menyebarkan pengetahuan yang diperoleh selama workshop kepada kolega di perguruan tinggi masing-masing.
“Mohon teman-teman peserta agar ilmu yang diperoleh selama dua hari ini disampaikan kepada rekan-rekan yang lain. Bantu rekan-rekan yang lain karena kami terus terang tidak bisa menjangkau 300 ribu orang dosen,” ujarnya.
Ia sekaligus menyampaikan terima kasih kepada Unismuh Makassar atas kerja sama sebagai tuan rumah pelaksanaan workshop.
Menulis hingga Tengah Malam demi Submit
Muhammad Ihsan Alif dari Institut Teknologi Kalimantan, yang mewakili peserta menyampaikan kesan dan pesan, menceritakan proses intensif yang dialaminya selama pendampingan.
Meski kondisi kesehatannya kurang fit, ia tetap mengerjakan artikelnya hingga tengah malam. Pada hari terakhir workshop, artikelnya akhirnya berhasil disubmit.
“Alhamdulillah, detik-detik terakhir pada saat saya mau selesai berkegiatan, saya sudah submit,” ujarnya.
Ihsan mengatakan artikel tersebut dikirim ke jurnal internasional terbitan Emerald. Ia berharap proses pendampingan yang diperolehnya dapat bermuara pada publikasi.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Direktorat Bina Talenta serta keramahan Unismuh sebagai tuan rumah.
“Alhamdulillah kami sangat nyaman di sini. Mudah-mudahan dari aktivitas ini kita semua mendapatkan ilmu dan keberkahan, juga bisa publish,” katanya.
Tantangan Terbesar: Klik Submit
Perwakilan fasilitator, Anton Timur Jaelani dari Institut Teknologi Bandung, menilai banyak peserta sebenarnya telah memiliki riset yang baik dan unik.
Persoalannya, sebagian peneliti masih menghadapi hambatan psikologis ketika harus mengambil keputusan untuk mengirimkan artikelnya.
“Riset Bapak-Ibu memiliki keunikan. Hanya saja beberapa di antaranya adalah mendobrak ketakutan untuk submit. Klik submit itu ternyata lebih berat,” ujar Anton.
Menurut Anton, keberanian melakukan submit merupakan bottleneck awal yang perlu ditembus.
“Insyaallah itu merupakan bottleneck di awal. Saya harapkan setelah itu kerannya terbuka dengan deras untuk Bapak-Ibu di kemudian hari,” katanya.
Pengalaman berhadapan dengan sistem jurnal, editor, dan reviewer, menurutnya, akan menjadi bekal berharga bagi dosen. Pengalaman tersebut juga dapat ditransfer kepada mahasiswa dalam proses penelitian dan publikasi ilmiah.
Ia mencontohkan salah seorang peserta dampingannya yang memperoleh respons dari jurnal kurang dari satu jam setelah submit. Meskipun respons itu ternyata berkaitan dengan tahapan administrasi yang terlewat, pengalaman tersebut dianggap penting dalam membangun keberanian dan pemahaman terhadap proses publikasi.
Anton juga mengingatkan bahwa publikasi internasional menuntut ketekunan. Ia mengaku baru pada artikelnya yang ke-37 memperoleh pengalaman sebuah artikel diterima tanpa revisi.
Ia berharap workshop menjadi momentum bagi para peserta untuk melewati hambatan awal menuju publikasi Q1.
Publikasi Menentukan Masa Depan Perguruan Tinggi
Wakil Rektor IV Unismuh Makassar Dr Burhanuddin, M.Si., dalam sambutan sekaligus menutup kegiatan secara resmi, menegaskan pentingnya publikasi ilmiah bagi masa depan perguruan tinggi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan Kemendiktisaintek yang kembali mempercayakan Unismuh sebagai tuan rumah kegiatan nasional.
Menurut Burhanuddin, peserta workshop ternyata tidak hanya berasal dari Sulawesi, melainkan dari perguruan tinggi negeri dan swasta dari berbagai wilayah Indonesia.
“Ini suatu kebanggaan bagi kami diberikan tanggung jawab. Semakin banyak Unismuh Makassar ditunjuk sebagai host, tentu menjadi bagian dari ikhtiar kami membangun jejaring dan meningkatkan kualitas akademik,” ujarnya.
Burhanuddin juga menyampaikan permohonan maaf Rektor Unismuh Makassar Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, S.T., M.T., IPU, yang tidak dapat hadir pada penutupan karena sedang berada di Jepang untuk agenda kerja sama.
Ia kemudian memaparkan perkembangan publikasi internasional Unismuh dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2022, publikasi terindeks Scopus Unismuh tercatat 48 artikel. Jumlah tersebut meningkat menjadi 88 artikel pada 2023, 153 artikel pada 2024, dan 193 artikel pada 2025.
Untuk 2026, Unismuh menargetkan sedikitnya 200 publikasi terindeks Scopus. Hingga Oktober, jumlah yang dicapai disebut telah berada pada angka 151 artikel.
“Hari ini Scopus kami sudah 151 tahun 2026. Kami target pas Desember, insyaallah minimal 200,” kata Burhanuddin.
Guru Besar Bertambah dari Tujuh Menjadi 27
Burhanuddin menilai peningkatan budaya riset dan publikasi berjalan beriringan dengan perkembangan sumber daya akademik Unismuh.
Ia menyebut, sekitar dua tahun sebelumnya Unismuh memiliki tujuh guru besar. Kini jumlah tersebut telah meningkat menjadi 27 orang.
“Dua tahun yang lalu kami punya guru besar tujuh orang. Terhitung hari ini 27 guru besar. Ini loncatan-loncatannya kelihatan,” ujarnya.
Salah satu strategi yang ditempuh Unismuh adalah melakukan pendampingan intensif penulisan artikel.
Pada 2025, Unismuh melakukan karantina penulisan artikel terhadap 150 dosen dalam dua batch. Batch pertama diikuti 50 dosen dan batch kedua 100 dosen.
Burhanuddin menggambarkan keseriusan program tersebut dengan mengatakan peserta tidak diperkenankan meninggalkan lokasi karantina sebelum artikelnya disubmit.
“Tidak bisa keluar kalau tidak submit. Tidak bisa meninggalkan hotel kalau tidak submit,” katanya.
Unismuh Siapkan APC hingga Rp25 Juta
Unismuh juga menyiapkan skema pembiayaan untuk membantu dosen memublikasikan artikel pada jurnal internasional.
Burhanuddin menjelaskan, untuk artikel dengan sumber pembiayaan yang tidak termasuk dalam skema penelitian internal tertentu dan tidak berasal dari pendanaan BIMA, universitas dapat memberikan bantuan biaya publikasi atau Article Processing Charge (APC).
Besarnya dukungan tersebut maksimal Rp25 juta per artikel.
“Unismuh menyiapkan dana Rp25 juta per artikel. Kalau APC-nya Rp30 juta, maka dosen yang bersangkutan menambah Rp5 juta. Kalau APC-nya Rp10 juta, sisanya kembali ke Unismuh Makassar,” jelasnya.
Dukungan itu tidak hanya diberikan kepada dosen. Mahasiswa yang menjadi penulis pertama pada artikel juga dapat memperoleh dukungan APC dan insentif ketika artikel berhasil terbit.
“Itulah ikhtiar kami bagaimana mendorong dosen dan mahasiswa. Mahasiswa juga begitu, sepanjang mahasiswa kami sebagai penulis pertama, dia juga dapat dana,” kata Burhanuddin.
Bidik World University Ranking
Penguatan publikasi tersebut menjadi bagian dari strategi Unismuh meningkatkan daya saing global.
Burhanuddin menyebut Unismuh telah tercatat dalam Asia University Ranking dan THE Impact Rankings. Selanjutnya, kampus menargetkan dapat menembus pemeringkatan universitas dunia.
Karena itu, peningkatan jumlah dan kualitas publikasi menjadi salah satu agenda yang terus didorong melalui pendampingan, pemberian insentif, serta penguatan kultur riset.
“Itulah sebabnya Unismuh Makassar berupaya mendorong para dosen, memberikan insentif, melakukan pendampingan seoptimal mungkin, bagaimana caranya supaya riset dan publikasi bisa semaksimal mungkin,” tegasnya.
Burhanuddin kemudian menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Bina Talenta, para fasilitator, serta seluruh peserta yang telah mengikuti workshop selama dua hari.
Ia secara resmi menutup kegiatan dengan mengajak seluruh peserta membaca hamdalah bersama.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara penutupan workshop telah selesai. Kami menyampaikan permohonan maaf selama dua hari ini jika masih terdapat kekurangan,” ujarnya.
Penutupan juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada peserta terbaik dari masing-masing kelompok dan diakhiri dengan foto bersama peserta, fasilitator, perwakilan Kemendiktisaintek, dan pimpinan Unismuh Makassar.






















