
Oleh: Irwan Akib (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
KHITTAH CO – Kiai Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah pernah berpesan kepada murid-muridnya untuk menimbah ilmu dalam berbagai bidang dan kembali ke Muhammadiyah setelah berhasil. Isi pesannya adalah “Muhammadiyah sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan lain-lain kembalilah kepada Muhammadiyah.”
Pesan tersebut menggambarkan bahwa Kiai Dahlan seorang pemimpin yang visioner. Pandangannya jauh ke depan, melintasi dimensi ruang dan waktu, melampaui batas cakrawala alam pikiran awam pada saat itu. Pikiran dan Tindakan Kiai Dahlan yang melampaui zamannya kadang dinilai aneh oleh orang awam, pikiran mereka tidak mampu menjangkau apa yang dipikirkan oleh Kiai Dahlan, bahkan tindakan Kiai Dahlan belum pernah terpikirkan oleh mereka.
Salah satu pikiran dan Tindakan visioner beliau seiring perjalanan waktu keberadaan Muhammadiyah di era beliau berbeda dengan era ke depan, sehingga dengan demikian membutuhkan sumber daya manusia (SDM) atau sumber daya kader (SDK) yang sesuai dengan kondisi zaman. Oleh karena itu sangat dibutuhkan SDM/SDK yang akan mengantar dakwah persyarikatan Muhammadiyah ke depan. Kiai Dahlan memahami bahwa di masa depan kader-kader pelanjut gerak dakwah persyarikatan membutuhkan kader dari berbagai bidang keilmuan dan berbagai profesi.
Terinspirasi dari pesan Kiai Dahlan untuk menghadirkan kader-kader dari berbagai bidang keilmuan dan profesi, sudah saatnya lembaga pendidikan dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah untuk menyiapkan kader sesuai harapan Kiai Dahlan. Hal ini salah satunya dapat dilakukan dengan lembaga-lembaga pendidikan khususnya sekolah Muhammadiyah berkualitas yang mampu menghadirkan kader dengan berbagai keahlian tertentu.
Kiai Dahlan sendiri sebelum mendirikan Muhammadiyah, telah merintis hadirnya sekolah yang berbeda dengan sekolah pada saat itu, beliau menghadirkan sekolah yang mengintegrasikan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama. Beliau mengadopsi model pendidikan kolonial dengan memasukkan pendidikan agama menjadi bagian penting dalam aktivitas pembelajaran. Sehingga murid-murid dari sekolah tersebut tidak hanya memahami pengetahuan umum tetapi juga paham agama, sebagaimana motto nya ulama intelek- intelek ulama.
Salah satu faktor yang mendorong Kiai Dahlan mendirikan sekolah adalah ketidakpuasan Kiai Dahlan dengan model-model persekolahan atau model pendidikan yang ada saat itu, yaitu (1) pendidikan Islam dalam bentuk home schooling dalam istilah pendidikan modern, di mana orang tua khususnya para ulama saat itu mengajar langsung anaknya sesuai ilmu yang mereka tekuni, dan pesantren di Jawa, Surau di Sumatera, dan (2) sekolah kolonial yang fokus pada pengajaran pengetahuan umum tanpa pengetahuan agama walaupun dikelola secara modern tertib dengan kurikulum yang tertata. .
Kedua model pendidikan ini, membuat Kiai Dahlan tidak puas. Dalam pandangan Kiai Dahlan seorang anak harus menguasai ilmu agama dan juga ilmu pengetahuan umum. Hal ini tercermin dari pernyataan Kiai Dahlan bahwa “ulama-intelek dan intelek -ulama”. Sekolah yang dibangun Kiai Dahlan mencoba memadukan dua model pendidikan yang telah ada dengan mengadopsi sistem pendidikan kolonial dan memasukkan pelajaran agama di sekolah. Bila ditelusuri lebih jauh dalam konteks kekinian, sekolah ini lebih cenderung pada sekolah umum (SD/SMP/SMA) yang diberi pelajaran agama, para siswa dibekali pengetahuan umum yang dipadukan dengan pengetahuan agama.
Perkembangan pendidikan Muhammadiyah hingga saat ini dapat dikategorikan ke dalam dua model, model pendidikan umum yang dipadukan dengan pendidikan agama dan model pendidikan agama yang dipadukan dengan pendidikan umum. Untuk model kedua ini juga masih dapat dikategorikan dalam dua kelompok sekolah tanpa asrama dan sekolah berasrama yang kemudian lebih dikenal dengan pesantren atau ada juga Muhammadiyah Boarding School (MBS). Model-model pendidikan tersebut dalam konteks kekinian hampir tidak ada lagi perbedaan dengan sekolah yang dikelola oleh pemerintah maupun lembaga pendidikan swasta lainnya.
Dalam konteks kekinian dimana perkembangan ilmu dan teknologi semakin pesat diperlukan model pendidikan yang mampu melahirkan kader-kader persyarikatan yang ahli dalam bidang tertentu yang sekaligus memahami agama dengan baik dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan keseharian serta dapat menjadi pemberi solusi permasalahan ummat dan bangsa. Model sekolah yang dikembangkan mengambil inspirasi dari Kiai Dahlan, dengan menyesuaikan kondisi kekinian dan masa depan. Jika Model Kiai Dahlan dibangun 100 tahun yang lalu dan telah menjadi model publik saat ini, seharusnya Muhammadiyah membangun model kekinian yang memiliki daya jangkau jauh ke depan.
Model yang dikembangkan bisa bervariasi namun tetap ada pola yang umum dan berlaku untuk semua model. Salah satu yang dapat jadi model SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, di mana fokusnya pada ilmu kealaman terintegrasi dengan ilmu agama, sehingga diharapkan lahir intelektual saintis yang ulama. Demikian juga model SMA Taruna Muhammadiyah di Gunung Pring Magelang yang menyiapkan kader-kader untuk menjadi kader ulama militer dan ahli dalam bidang pertahanan.
Bagaimana melahirkan calon ulama yang ahli dalam ilmu-ilmu sosial, tentu perlu model yang berbeda dengan trensains. Mungkin juga ada model yang akan melahirkan ulama entrepreneur, ulama yang politisi, atau mungkin kita butuh kader ulama militer. Dan berbagai kebutuhan kader masa depan sesuai dengan perkembangan zaman dan masa depan. Sehingga hadirnya kader-kader tersebut menjadikan Muhammadiyah tetap eksis dan terus hadir mencerahkan, memajukan dan mampu memberi solusi permasalahan ummat dan bangsa, serta permasalahan kemanusiaan dengan berbagai fenomenanya.





















