Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

PW Aisyiyah Gorontalo Rawat Karawo, Dorong Lahirnya Wirausaha Perempuan

×

PW Aisyiyah Gorontalo Rawat Karawo, Dorong Lahirnya Wirausaha Perempuan

Share this article

KHITTAH.CO, GORONTALO — Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Gorontalo mendorong sulam Karawo tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi sumber kemandirian ekonomi perempuan.

Upaya tersebut dilakukan melalui Pelatihan Sulam Karawo bertema “Melestarikan Budaya, Menciptakan Karya” yang digelar Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan PWA Gorontalo di Auditorium Darul Arqam Tower, Kota Gorontalo, 29 Agustus–1 September 2026.

Pelatihan tersebut diarahkan tidak sekadar mengajarkan teknik menyulam. PWA Gorontalo menargetkan lahirnya kelompok-kelompok usaha Karawo di lingkungan ‘Aisyiyah yang selanjutnya dapat berkembang menjadi bagian dari Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA).

Ketua PWA Gorontalo Ir. Hj. Nikma Paneo, M.Si. mengatakan, keterampilan yang diperoleh peserta tidak boleh berhenti setelah pelatihan. Peserta diharapkan meneruskan pengetahuan tersebut kepada anggota ‘Aisyiyah maupun masyarakat di daerah dan cabang masing-masing.

“Setelah mengikuti pelatihan ini, kita berharap bisa membentuk kelompok-kelompok dan mengajarkan kepada yang belum tahu. Karena belajar Karawo dari nol membutuhkan waktu yang cukup lama,” ujarnya.

Menurut Nikma, menyulam Karawo membutuhkan ketelitian, ketekunan, dan kesabaran. Karena itu, peserta perlu belajar langsung dan memperoleh pendampingan dari pengrajin yang telah berpengalaman.

Ia berharap pelatihan tersebut menjadi pintu masuk bagi terbentuknya Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah Sulaman Karawo di Gorontalo.

“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti di ruang ini. Bentuklah kelompok di setiap daerah dan cabang agar manfaatnya semakin luas,” pesannya.

Karawo sebagai Kekuatan Ekonomi

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Gorontalo Dr. Sabara Karim Ngou menilai Karawo merupakan salah satu identitas budaya Gorontalo yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi yang besar.

Kerajinan khas tersebut, kata dia, telah dikenal luas hingga tingkat internasional. Tantangannya kini adalah memastikan tradisi itu tetap hidup sekaligus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Karawo telah menjadi kebanggaan Gorontalo di tingkat internasional. Dibutuhkan kreativitas, ketekunan, dan kesabaran untuk menghasilkan karya yang bernilai tinggi,” ungkapnya.

Sabara juga mengingatkan pentingnya melibatkan generasi muda dalam proses pelestarian Karawo. Regenerasi pengrajin dinilai penting agar keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun itu tidak terputus.

Selain itu, pengembangan Karawo membutuhkan kolaborasi antara organisasi masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan komunitas pengrajin agar mampu berkembang sebagai bagian dari ekonomi kreatif Gorontalo.

Menuju Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah

Ketua Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Dr. Utik Bidayati, M.M. mengatakan, penguatan ekonomi perempuan merupakan bagian penting dari ikhtiar ‘Aisyiyah mewujudkan keluarga yang sejahtera dan sakinah.

Selama lebih dari 15 tahun, kata Utik, ‘Aisyiyah mengembangkan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) untuk mendorong lahirnya pelaku usaha perempuan di berbagai daerah.

Gorontalo memiliki modal budaya yang kuat untuk mengembangkan model tersebut melalui Karawo.

“Kita ingin mewujudkan keluarga sejahtera dan keluarga sakinah melalui lahirnya pelaku-pelaku usaha baru. Karena itu, Sekolah Wirausaha menjadi salah satu fokus utama ‘Aisyiyah,” jelasnya.

Menurut Utik, Karawo memiliki dua kekuatan sekaligus. Di satu sisi, pengembangannya menjadi jalan menjaga warisan budaya Gorontalo. Di sisi lain, Karawo dapat menjadi basis usaha yang membuka ruang bagi perempuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Karena itu, keterampilan menyulam perlu diikuti dengan penguatan kemampuan kewirausahaan agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada proses produksi, tetapi dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Perkuat Kolaborasi

Pembukaan Pelatihan Sulam Karawo turut dihadiri unsur Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan ‘Aisyiyah, jajaran PWA Gorontalo, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, serta Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) Dr. Arfan A. Tilome.

Ketua Majelis Ekonomi PWA Gorontalo Hj. Ramlah Al Katiri, M.Si., yang juga Kepala Biro UMGO, hadir mewakili Rektor UMGO. Kehadiran perguruan tinggi Muhammadiyah tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan budaya lokal sekaligus pemberdayaan ekonomi perempuan.

Melalui pelatihan ini, ‘Aisyiyah Gorontalo ingin membawa Karawo melangkah lebih jauh: dari keterampilan tradisional menjadi gerakan ekonomi perempuan.

Karawo tidak hanya dirawat agar tetap menjadi identitas budaya Gorontalo, tetapi juga dikembangkan sebagai jalan melahirkan perempuan-perempuan yang terampil, mandiri, dan mampu menggerakkan ekonomi keluarga maupun masyarakat.

Kontributor: Zainuddin
Editor: Hadisaputra

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply