
Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030)
KHITTAH. CO – Kini Ramadan 1447 H telah dimulai, meskipun ada yang mengawalinya pada tanggal 18 Februari 2026 dan sebagian muslim Indonesia lainnya bersepakat dimulai pada tanggal 19 Februari 2026. Perbedaan adalah sebuah keindahan dan rahmat, ibarat bunga di taman hanya akan tampak indah jika memiliki banyak warna, bukan satu warna. Apatah lagi jika hati dan pikiran kita glowing.
Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin menegaskan bahwa pilihan diksi “Glow Up hati dan pikiran” sebagaimana judul di atas, sebenarnya kurang tepat. Namun, tetap dipilih karena secara algoritmik diri ini selalu bermuara bahwa hidup itu harus indah.
Jadi pilihan di atas berkiblat pada keindahan. Tepatnya jika menggunakan kata “Hati” maka semestinya disandingkan dengan “Otak”, begitupun kata “Pikiran (akal)” harus disandingkan dengan “Perasaan (rasa)”. Tetapi, dalam percakapan keseharian itu tetap dibenarkan karena merujuk pada pandangan umum bahwa “Hati” sering dibedakan menjadi dua, ada yang bersifat hardware dan di sini tepatnya jantung dan ada yang bersifat software (tepatnya disebut perasaan).
Berbicara tentang esensi manusia, maka itu ada dua: akal dan rasa. Berarti jika merujuk istilah dalam tulisan ini adalah hati dan pikiran. Bisa pula disebut pikiran dan perasaan. Sama halnya ketika kita melihat manusia dalam perspektif eksistensinya, maka dua di antara tiga itu adalah akal dan rasa, bisa pula disebut pikiran dan perasaan. Satu lagi bagian penting dari eksistensi manusia adalah jasad.
Secara esensial dan eksistensial, hati dan pikiran adalah dua hal penting dalam mengarungi setiap episode kehidupan. Bahkan, karakter (bisa juga disebut akhlak) dan takdir itu berawal dari keduanya ini. Dalam relasi sosial-politik pun sejatinya dipandu oleh hati dan pikiran yang glowing, supaya hidup senantiasa indah dan memancarkan spirit kerahmatan.
Hanya saja, kita dalam mengarungi setiap episode kehidupan ini perhatian lebih difokuskan pada sesuatu yang bersifat outer (dimensi luar), mempercantik diri atau fisik sampai seluruh kulit wajah dan tubuh lainnya semakin glowing. Kita pun rela mengeluarkan banyak uang membeli skincare supaya tubuh fisik semakin glowing. Bahkan, sebagian di antara kita rela menunda kebutuhan primernya demi skincare dan orientasi glowing tubuh-fisik tersebut.
Padahal menjalani kehidupan untuk menciptakan keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan, terutama secara kolektif dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara glowing-nya tubuh-fisik itu tidak menjamin. Yang bisa menjamin kehidupan seperti yang diharapkan ini adalah ketika hati dan pikiran yang glowing.
Dalam kehidupan ini, kita harus mampu membedakan benar-salah, kemudian seharusnya kita memilih yang benar. Di sinilah akal atau pikiran memerankan fungsinya, mengaktivasi logikanya berdasarkan ilmu-ilmu yang telah dimiliki, dikuasai, dan dipahami. Itulah pula yang menegaskan bahwa Islam itu juga termasuk di dalamnya adalah ilmu. Ilmu adalah nutrisi terbaik pikiran atau akal agar glowing.
Tidak hanya itu, kita pun harus mampu membedakan baik-buruk, kemudian kita harus memilih yang baik. Untuk hal ini, rasa, hati, atau yang diistilahkan dengan perasaan harus hadir berselancar dalam etika menyusuri baik-buruk dan keimanan atau iman menjadi pemandu utama, agar diri kita senantiasa berjalan di atas rel kebaikan. Ternyata pilar Islam bukan hanya ilmu, termasuk iman.
Manusia pun diharapkan tidak hanya fokus pada benar-salah dan baik-buruk sebab manusia tidak hanya mengalami proses dan mekanisme dalam dimensi esensial, namun dalam dimensi eksistensial pun terasa sangat penting. Oleh karena itu, kita pun harus mampu membedakan indah-jelek dan kita fokus pada sesuatu yang indah. Di sinilah jasad terintegrasi dalam dimensi estetika untuk menghadirkan amal yang bermanfaat.
Berdasarkan pilar Islam yang terdiri dari ilmu, iman, dan amal telah membawa kita pada pemahaman dan kesadaran bahwa unsur ketiga dalam eksistensi manusia (baca: jasad atau tubuh-fisik) itu tetap penting, tubuh-fisik tetap harus glowing. Namun, yang terpenting dalam hal ini adalah jasad menghadirkan amal yang indah dan memberikan banyak manfaat dalam kehidupan. Amal tentu saja, itu adalah kristalisasi dari paduan indah antara hati dan pikiran, pikiran dan perasaan, atau akal dan rasa. Yang terakhir ini, hanya menunjukkan istilah-istilah yang relevan dan bisa digunakan. Jadi hati dan pikiran tetap memegang peranan penting, utama, dan mendasar.
Kita sudah menyadari betapa penting dan strategis peran hati dan pikiran baik secara esensial maupun secara eksistensial. Jika sudah seperti ini, kita tidak boleh berhenti dan hanya memanfaatkan kondisi hati dan pikiran yang ada dan seadanya saja. Keduanya pun harus diperlakukan secara adil bahkan semestinya lebih maksimal ketimbang menghabiskan banyak uang hanya untuk tubuh-fisik bisa glowing.
Nah, tentu saja, kita harus meng-glow-up hati dan pikiran agar bisa juga glowing. Mengalami transformasi, perubahan, menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Tentu saja momentum Ramadan 1447 H ini tidak boleh terlewatkan begitu saja. Ini adalah momentum terbaik untuk meng-glow-up hati dan pikiran.
Ramadan bisa menjadi memontum glow-up hati dan pikiran. Sebab, Ramadan adalah bulan tarbiyah sehingga bukan hanya untuk memenuhi kewajiban untuk menuju surgaNya Allah di akhirat kelak, tetapi menjadi ruang membangun karakter rabbani yang berdampak dalam kehidupan sosial, bangsa, dan negara.
Selama Ramadan ada banyak aktivitas kehidupan yang sesungguhnya mampu mengisi ruang pikiran untuk semakin menambah ilmu yang bernutrisi tinggi bagi pikiran itu sendiri. Bukan hanya untuk pikiran, termasuk pula menyirami kalbu dan menata perasaan agar mampu membedakan baik-buruk dan sentuhan keimanan memandu diri kita untuk memilih yang baik dan berkomitmen senantiasa berjalan di atas rel kebaikan tersebut.
Salah satu amalan terbaik yang paling banyak dilakukan seorang muslim pada bulan Ramadan di belahan bumi manapun adalah membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bukan hanya menyejukkan hati yang bermuara pada kebaikan dan tata kelola hati, tetapi akan selalu menghadirkan makna, pengertian, dan pemahaman baru darinya. M. Quraish Shihab meng-spill (membocorkan) kedahsyatan Al-Qur’an, bahwa al-Qur’an jika dibaca berulang-ulang, itu akan senantiasa memantik lahirnya ilmu, wawasan, nilai, makna, dan pemahaman baru, bahkan kesadaran baru. Inilah pula mukjizat Al-Qur’an.
Di bulan Ramadan pun seluruh amalan dan ibadah yang dilakukan, nilai dan maknanya itu berlipat ganda. Berlipat ganda di sini, tentu saja tidak bersifat material tetap menyentuh dimensi psikologi-spiritual. Sangat jelas bahwa Ramadan adalah momentum glow-up hati dan pikiran yang tepat dan terbaik.
Kita pun harus sampai pada pemahaman dan kesadaran bahwa hati dan pikiran harus glowing karena sebagaimana pandangan Dr. Joe Dispenza yang bisa dibaca dalam buku karyanya Breaking The Habit of Being Yourself, diri kita punya kemampuan dahsyat untuk memengaruhi dimensi luar, realitas luar, fisik, material, dan takdir ketika pikiran dan perasaan terintegrasi, seirama, dan selaras menjadi gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik ini berasal dari sinyal elektro (listrik) bersumber dari pikiran dan daya magnetis bersumber dari perasaan (hati/kalbu).
Ketika pencerahan bertebaran dan lantunan bacaan Al-Qur’an menggema di mana-mana di bulan Ramadan itu menjadi nutrisi terbaik bagi pikiran dan ketika aliran dan luapan rasa syukur membanjiri hati dan perasaan miliaran muslim di dunia, itu adalah nutrisi terbaik bagi perasaan, maka inilah yang akan membuat pikiran dan perasaan semakin glowing.



















