
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, mengajak Aisyiyah memperluas dakwah kemanusiaan hingga menyentuh masyarakat luas. Dakwah, menurut dia, tidak boleh berhenti pada kegiatan internal organisasi, tetapi harus menjadi gerakan kebaikan yang dirasakan langsung oleh umat.
Pesan itu disampaikan Ambo Asse saat membawakan Tabligh Akbar pada Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah tingkat Kota Makassar di Gedung Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar, Sabtu, 27 Juni 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”.
Dalam ceramahnya, Ambo Asse mengawali pesan dengan ajakan bersyukur. Ia mengutip firman Allah, la in syakartum la azidannakum, bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Menurut dia, perjalanan panjang Muhammadiyah dan Aisyiyah hingga lebih dari satu abad merupakan nikmat yang harus disyukuri dengan kerja nyata.
“Kita bersyukur bahwa Aisyiyah Kota Makassar memperlihatkan kemajuan-kemajuan, dengan amal usaha dan berbagai kegiatan,” ujar Ambo Asse.
Ia mengatakan, Muhammadiyah dan Aisyiyah merupakan gerakan Islam, gerakan dakwah, dan gerakan amar makruf nahi mungkar. Karena itu, tema Milad ke-109 Aisyiyah tentang dakwah kemanusiaan dan perdamaian sangat sejalan dengan misi utama persyarikatan.
Menurut Ambo Asse, dakwah kemanusiaan harus dimaknai sebagai ajakan kepada kebaikan, seruan kepada hal-hal yang makruf, serta upaya mencegah kemungkaran. Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an tentang perlunya umat yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.
“Kalau Aisyiyah melakukan pengajian, jangan terbatas pada Aisyiyah saja. Libatkan masyarakat secara umum. Itulah dakwah kemanusiaan,” katanya.
Dakwah Menyentuh Masyarakat
Ambo Asse menekankan, dakwah tidak boleh menjadi kegiatan tertutup. Pengajian ranting, misalnya, perlu melibatkan warga sekitar agar nilai-nilai kebaikan dapat menyebar lebih luas di tengah masyarakat.
Menurut dia, dakwah kemanusiaan bukan hanya menyampaikan nasihat keagamaan, melainkan mengajak masyarakat hidup dalam kebaikan. Kebaikan itu dapat berupa pendidikan, kepedulian sosial, penguatan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan akhlak.
Ia juga mengingatkan pentingnya menghargai kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan akidah dan nilai moral. Dalam kehidupan masyarakat, kata dia, banyak praktik baik yang dapat dirawat dan dijadikan sarana memperkuat kebersamaan.
“Tidak ada yang didakwahkan kecuali kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama,” ujarnya.
Dalam konteks perdamaian, Ambo Asse menegaskan bahwa setiap aktivitas Muhammadiyah dan Aisyiyah harus menjadi jalan untuk menghadirkan kebaikan. Dakwah yang benar, menurut dia, akan melahirkan masyarakat yang saling menghargai, hidup rukun, dan menjauhi kerusakan.
Ia juga mengapresiasi berbagai capaian Aisyiyah Kota Makassar dalam bidang amal usaha dan kegiatan sosial. Menurut dia, kemajuan tersebut perlu terus dijaga sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah.
Akhlak sebagai Inti Pendidikan
Selain menekankan dakwah kemanusiaan, Ambo Asse memberi perhatian khusus pada pendidikan karakter anak. Ia menyebut pembinaan karakter sebagai pembinaan akhlak. Menurut dia, istilah karakter pada dasarnya harus dikembalikan pada fondasi akhlak mulia dalam Islam.
“Pembinaan karakter itu adalah pembinaan akhlak yang harus dilakukan,” katanya.
Ia mengapresiasi pernyataan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin yang sebelumnya menekankan pentingnya penambahan pelajaran agama dan akhlak di sekolah. Menurut Ambo Asse, pendidikan agama yang kuat dibutuhkan untuk membentuk pribadi anak yang beriman, jujur, dan memiliki rasa malu.
Ia mengatakan, banyak persoalan sosial, termasuk korupsi dan tindakan tidak benar, berakar dari lemahnya akhlak. Orang yang tidak memiliki rasa malu, kata dia, akan mudah melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang dilarang agama.
“Kalau kamu tidak punya rasa malu, kerjakan apa saja yang kamu mau,” ujar Ambo Asse, mengutip pesan hadis.
Dalam ceramahnya, ia memberi contoh sederhana tentang pendidikan kejujuran. Anak-anak, kata dia, perlu dibiasakan untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya, meskipun barang itu ditemukan di jalan.
Menurut dia, orang tua tidak boleh gembira ketika anak membawa pulang sesuatu dengan alasan memungut. Sikap orang tua seperti itu dapat membentuk kebiasaan buruk dan merusak kejujuran anak.
“Kalau ada uang yang kamu lihat di jalanan, biarkan saja. Nanti juga ada yang punya kembali mencari,” katanya.
Ambo Asse menegaskan, pendidikan akhlak harus dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Anak perlu diajari menggunakan tangan kanan ketika memberi dan menerima sesuatu, menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, dan berkata benar.
Keluarga Sakinah dan Generasi Kuat
Dalam bagian lain ceramahnya, Ambo Asse menyoroti pentingnya keluarga sebagai pusat pendidikan anak. Ia mengatakan, ibu memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak karena lebih banyak berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, ia menegaskan, pendidikan anak tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu. Ayah juga harus hadir melakukan pengawasan dan memberi keteladanan. Menurut dia, ayah dan ibu harus memiliki arah yang sama dalam mendidik anak.
“Kalau mau mengader anak, tidak boleh berbeda ibu dengan bapak. Harus searah,” ujarnya.
Ambo Asse mengingatkan, keluarga memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan generasi yang kuat, bukan generasi yang lemah. Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an agar orang beriman tidak meninggalkan keturunan yang lemah dan harus berkata dengan perkataan yang benar serta tegas.
Menurut dia, ketegasan dalam mendidik anak diperlukan selama berada dalam koridor ketakwaan kepada Allah. Ketegasan itu bukan kekerasan, tetapi keberanian untuk membimbing anak pada nilai yang benar.
Ia juga menyinggung isu perceraian yang sebelumnya disampaikan dalam pidato Milad Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar. Menurut Ambo Asse, keluarga sakinah hanya dapat dibangun jika suami dan istri saling mengenal, memahami, menghargai, dan menjaga.
“Rahasia istri tidak boleh dibocorkan oleh suami. Rahasia suami tidak boleh dibocorkan oleh istri. Rahasia bersama apalagi,” katanya.
Ia menilai, banyak rumah tangga rusak karena tidak ada lagi saling pengertian dan saling menghormati. Karena itu, suami dan istri harus menjaga komunikasi, memuliakan satu sama lain, serta tidak membuka aib rumah tangga kepada pihak luar.
Ambo Asse menegaskan, rumah tangga yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat. Sebaliknya, jika rumah tangga runtuh, anak-anak dapat ikut menghadapi masalah dalam pertumbuhan dan masa depannya.
“Kita harus memperkokoh rumah tangga untuk melahirkan generasi yang kuat dan berkualitas,” ujarnya.
Islam Kaffah dan Perdamaian
Dalam ceramahnya, Ambo Asse juga menjelaskan makna berislam secara kaffah. Menurut dia, dalam pandangan Muhammadiyah, Islam mencakup empat bagian utama, yakni akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiah.
Akidah, kata dia, harus bertumpu pada tauhid yang murni. Seorang Muslim tidak boleh menggantungkan keyakinan pada hal-hal yang merusak keimanan. Dalam kehidupan sehari-hari, segala bentuk keyakinan yang menyekutukan Allah harus ditinggalkan.
Bagian kedua ialah akhlak mulia. Ambo Asse menekankan bahwa akhlak tidak cukup diajarkan secara teori, tetapi harus dibiasakan dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Bagian ketiga ialah ibadah. Ia menjelaskan, dalam ibadah, umat Islam harus mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Sementara dalam muamalah duniawiah, segala sesuatu pada dasarnya boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan agama.
Ia kemudian mengaitkan pesan itu dengan tema perdamaian. Menurut Ambo Asse, berbuat baik kepada sesama merupakan bagian penting dari dakwah kemanusiaan. Umat Islam harus berdamai dengan semua orang dan tidak membuat kerusakan di muka bumi.
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Artinya, berdamailah dengan semua orang,” katanya.
Di akhir ceramahnya, Ambo Asse mengajak Aisyiyah, Muhammadiyah, dan seluruh organisasi otonom Muhammadiyah untuk terus melakukan aktivitas kebaikan. Menurut dia, tidak ada yang seharusnya dilakukan oleh gerakan Islam kecuali menghadirkan kebaikan dalam kehidupan dunia sebagai bekal akhirat.
Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar dihadiri Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Makassar Alia Mustika Ilham, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan Dr. Mahmudah, M.Hum, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar Dra. Hj. Suryana Yusuf, serta unsur pimpinan cabang dan ranting Aisyiyah se-Kota Makassar.
Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar menjadi ruang refleksi gerakan perempuan berkemajuan. Melalui pesan dakwah kemanusiaan, pembinaan akhlak, dan penguatan keluarga, Aisyiyah diharapkan terus hadir sebagai pelopor kebaikan dan perdamaian di tengah masyarakat.




















