
KHITTAH.CO, MAKASSAR — Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr Andi Luhur Prianto, memulai penelitian pascadoktoral di Kuala Lumpur University of Science and Technology (KLUST), Malaysia, Kamis, 22 Oktober 2026. Selama satu tahun, ia akan mengkaji tata kelola pusat data dan persoalan kebutuhan energi di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Penelitian yang berlangsung hingga 21 Oktober 2027 itu berfokus pada negara-negara berkembang atau Global South. Andi Luhur menggunakan pendekatan ilmu politik, tata kelola digital, dan keberlanjutan untuk menelaah hubungan antara perkembangan teknologi, penggunaan sumber daya, dan kebijakan publik.
Pertumbuhan AI, menurut Andi Luhur, membawa persoalan yang melampaui urusan teknologi. Di balik kemajuan layanan digital, terdapat kebutuhan energi dan infrastruktur yang menuntut perhatian pemerintah, terutama dalam pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
“Perkembangan kecerdasan buatan tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga persoalan baru dalam tata kelola sumber daya digital. Melalui penelitian ini, saya ingin mengkaji bagaimana negara-negara berkembang menghadapi kebutuhan energi yang semakin besar akibat pertumbuhan pusat data,” ungkap Andi Luhur yang dikonfirmasi, Jumat, 23 Oktober 2026.
Energi di Balik Kemajuan AI
Penelitian Andi Luhur berjudul Counting the Cost of Digital Resources: The Dynamics of Data Center Governance and the AI Energy Crisis in the Global South. Riset ini menyoroti konsekuensi perkembangan infrastruktur digital, terutama kebutuhan energi pusat data yang menopang layanan berbasis AI.
Pusat data kini menjadi bagian penting dari ekonomi digital. Namun, pertumbuhannya juga memunculkan persoalan konsumsi listrik, pengelolaan sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan yang membutuhkan respons kebijakan.
Dalam perspektif ilmu pemerintahan, persoalan tersebut berkaitan dengan kemampuan negara mengatur perkembangan teknologi sekaligus melindungi kepentingan publik. Tantangannya tidak hanya memastikan tersedianya infrastruktur digital, tetapi juga menjamin pemanfaatannya berlangsung secara adil dan berkelanjutan.
“Persoalan kecerdasan buatan tidak bisa hanya dilihat dari sisi teknologi. Ada dimensi politik, kebijakan publik, keadilan akses, dan keberlanjutan lingkungan yang perlu mendapat perhatian, terutama di negara-negara Global South,” demikian draf keterangan lain yang masih menunggu konfirmasi Andi Luhur.
Kajian ini menjadi relevan ketika berbagai negara berlomba membangun infrastruktur digital untuk mendukung pertumbuhan AI. Bagi negara berkembang, kebutuhan investasi teknologi harus dihadapkan pada keterbatasan sumber daya energi dan tuntutan pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Keikutsertaan Andi Luhur dalam program pascadoktoral KLUST dikukuhkan melalui surat penerimaan bernomor KLUST/RMC/PD/OFFER/2026/301, tertanggal Selasa, 20 Oktober 2026. Surat tersebut diterbitkan Research Management Centre (RMC) KLUST dan ditandatangani Associate Professor Ts Dr Golnoosh Manteghi selaku Kepala Klaster Riset.
Andi Luhur diterima mengikuti program penelitian selama satu tahun dengan skema daring tanpa biaya registrasi. Status penelitiannya juga telah dinyatakan aktif dalam sistem akademik KLUST sejak 22 Oktober 2026.
Dalam menjalankan penelitian, Andi Luhur didampingi dua akademisi, yakni Prof Vishal Jain dari bidang ilmu komputer dan teknik serta Associate Professor Ts Dr Golnoosh Manteghi dari bidang teknik. Keduanya akan membimbing penelitian yang mempertemukan perspektif teknologi dengan ilmu politik dan tata kelola pemerintahan.
Baca Juga: Akademisi Universiti Malaysia Sabah Berbagi di Unismuh, Soroti Rantai Pangan hingga Nasib Petani
Kolaborasi tersebut memungkinkan persoalan energi dan infrastruktur AI dikaji dari berbagai sisi. Pendekatan teknik diperlukan untuk memahami karakteristik infrastruktur digital, sedangkan ilmu pemerintahan digunakan untuk menelaah kebijakan, kelembagaan, dan kepentingan publik yang menyertainya.
Sebelum dinyatakan aktif, Andi Luhur telah melalui tahapan pengajuan, peninjauan, dan penerimaan tawaran penelitian. Berdasarkan catatan administrasi KLUST, proses pengajuan tercatat pada Senin, 19 Oktober 2026, sebelum penugasannya berlaku tiga hari kemudian.
Memperluas Jejaring Riset Unismuh
Bagi Unismuh Makassar, keikutsertaan dosen dalam penelitian pascadoktoral di luar negeri membuka peluang penguatan jejaring akademik internasional. Kerja sama lintas disiplin juga dapat memperluas bidang kajian ilmu pemerintahan yang selama ini banyak berkaitan dengan kelembagaan, kebijakan publik, dan dinamika politik.
Andi Luhur, yang merupakan dosen senior ilmu pemerintahan FISIP Unismuh, menempatkan penelitian tersebut sebagai kesempatan memperdalam kajian tata kelola digital. Melalui kolaborasi dengan akademisi KLUST, ia berharap dapat mengembangkan perspektif baru untuk memahami dampak perkembangan AI terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
“Program pascadoktoral ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring akademik dan memperkuat kolaborasi riset internasional. Saya berharap hasil penelitian ini tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan masukan bagi perumusan kebijakan tata kelola digital yang berkelanjutan,” ujar Andi Luhur yang juga Dekan FISIP Unismuh.
Selama masa penelitian hingga Oktober 2027, Andi Luhur akan bekerja dengan pendampingan kedua pembimbing dan mengikuti mekanisme pelaporan kemajuan riset yang ditetapkan KLUST. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif kebijakan bagi negara-negara berkembang dalam menghadapi persoalan energi, tata kelola pusat data, dan perubahan yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan.






















