Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Tamu: Datang Membawa Rezeki dan Pulang Membersihkan Penyakit

×

Tamu: Datang Membawa Rezeki dan Pulang Membersihkan Penyakit

Share this article

Oleh: Budi Winarto*

KHITTAH.CO – Setiap tamu yang datang ke rumah kita akan selalu membawa rahmat. Oleh karenanya penghormatan atas tamu-tamu itu laik untuk kita muliakan. Laiknya seorang raja.

Gupuh, suguh,dan imbuh adalah filosofi Jawa pada saat ada tamu yang datang ke rumah kita. Gupuh tentu memiliki perspektif luas. Misalnya gupuh dalam arti jangan biarkan ketika ada tamu yang datang ke rumah, kita tidak bisa membuat mereka bahagia. Jadi pada saat ada tamu, gupuh lah menata bahasa yang baik. Jangan sampai apa yang kita utarakan melukai perasaan mereka.

Gupuh-lah pula dalam menata bahasa tubuh. Jangan sampai ada gimik tubuh yang mengisyaratkan ketidaknyamanan atas kehadiran tamu-tamu kita. Karena, setiap kalimat yang keluar, bahasa tubuh yang kita sajikan tentu semua akan bermakna dan berkesan bagi tamu-tamu kita. Pada saat kita bisa gupuh dengan segala kondisi terbaik yang bisa kita lakukan, dan itu benar-benar keluar dari rasa ikhlas tentu mereka akan bahagia.

Jangan sebaliknya. Ketika ada tamu hati gelisah, bersedih, bahkan berharap mereka tidak jadi datang ke rumah kita. Dan, mungkin yang lebih parah, kita menolak atas kehadiran mereka di saat kita mendengar kabar akan kehadirannya. Kalau perasaan kita sudah diliputi ketidaknyamanan atas tamu yang akan datang, lalu bagaimana cara kita untuk membahagiakan mereka?

Orang-rang yang tidak suka atas kehadiran tamu di rumahnya, maka keberkahan rumah itu akan di cabut.Hal ini sesuai sabda Rasulullah, “Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya (HR. Bukhori). Dari hadis ini, kedatangan tamu bisa menjadi penyebab turunnya Malaikat Rahmat di rumah kita.

Setelah kita gupuh menjadikan tamu-tamu kita nyaman dan bahagia, lantas kita juga harus suguh. Suguh dalam hal ini adalah memberikan makanan, minuman atau apa pun yang kita mampu. Tidak perlu dipaksakan karena sesungguhnya sesuatu yang kita suguhkan dari hati akan diterima dengan kesenangan jiwa. Meskipun itu hanya segelas air putih misalkan.Suguh ini juga salah satu upaya menghormat tamu agar mereka bahagia.

Menjamu tamu dengan seluruh kebaikan yang kita bisa suguhkan, kebaikannya akan kembali ke diri, keluarga dan rumah kita. Apa lagi sekarang di bulan Syawal, di mana umat Islam merayakan Idulfitri, hari kemenangan setelah satu bulan mereka berjuang melawan hawa nafsu untuk menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan. Tentu ini menjadi momen spesial.

Menjamu tamu berarti kita juga menjalin silaturahmi. Ketika menjamu tamu merupakan bagian silaturahmi maka manfaatnya juga sama, memanjangkan umur dan memudahkan rezeki.Ada pun konteks memanjangkan umur dan memudahkan rezeki bisa didekati dengan beberapa pendekatan, baik itu secara spiritual, sosial, psikologis dan praktis.

Secara spiritual. Pada saat kita menjamu tamu, kita akan bisa meningkatkan jalinan silaturahmi yang berpahala sekaligus menghapus dosa. Memanjangkan umur bukanlah harus berarti pada saat takdir umur kita 65 tahun lantas akan ditambah menjadi 70 tahun atau lebih, bukan. Tetapi, panjang umur yang dimaksud, kebaikan yang kita lakukan dari menjamu tamu itu tentu bernilai pahala, dan pahala itulah yang akan memanjangkan umur kita baik di dunia pada saat kita hidup sampai tiada, maupun di akhirat nanti kelaknya. Nama kita akan harum dan akan dikenang karena kebaikan kita.

Berikutnya dengan pendekatan sosial. Dengan menjamu tamu yang juga memiliki makna bersilaturahmi kita akan bisa meningkatkan hubungan baik. Baik itu hubungan secara kekeluargaan, pertemanan maupun dengan masyarakat sekitar. Selain meningkatkan hubungan dan menjalin kepercayaan, menjamu tamu juga bisa menghindari konflik sehingga akan muncul harmoni di dalam hubungan ke duanya. Dari manfaat secara sosial itu tentu akan menumbuhkan ketenangan.

Adapun manfaat secara psikologis. Dari bertemunya dua atau lebih tamu di rumah kita, tentu akan mengurangi rasa stress, membangun rasa percaya, diri dan saling mengurangi kesepian.

Dari berbagai dampak yang ditimbulkan baik secara spiritual, sosial, dan psikologis akan memunculkan ketenangan batin dan menumbuhkan kebahagiaan. Dari ketenangan dan kebahagiaan itulah penyakit akan jauh dari diri kita, sehingga kita akan bisa menikmati hidup karena jasmani kita sehat, ruhani kita kuat. Ketika kita bisa menikmati hidup dengan segala kenikmatannya, panjang umur akan bisa kita rasakan. Itu makna panjang umur yang sesungguhnya.

Berbeda dengan manfaat secara praktis di saat kita menjamu tamu. Manfaat secara praktis yang bisa kita rasakan adalah kesadaran yang muncul akibat adanya interaksi antara tamu dan penerima tamu. Dalam konteks ini, ikhtiar keduanya memungkinkan bisa memperluas jaringan. Sehingga tidak menutup kemungkinan akses informasi dari apa yang mereka bicarakan bisa membuka jalan rezeki karena ikhtiar pekerjaan dan kesempatan yang mungkin belum diketahui sebelumnya. Dari informasi itu bisa melengkapi kekurangan untuk mencapai ‘kesempurnaan’ ikhtiar di dunia untuk mecapai kelaikan dan kebahagiaan.

Dari cara kita menghormati tamu, rumah kita akan diliputi rahmat Allah dan kita yang tinggal di dalamnya akan memiliki kebersihan jiwa. Maka muliakan tamu-tamu kita, sambut dia dengan suka cita karena hadirnya mereka membawa rezeki dan pulangnya akan membersihkan penyakit; baik itu penyakit hati maupun penyakit dhohir dengan berbagai macamnya.

Wallahu a’lam bishawab

*Penulis kelahiran Malang yang sekarang tinggal di Mojokerto-Jawa Timur

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply