Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
LiterasiOpini

Zakat Mengeluarkan Hormon Kebahagiaan dan Mengaktiviasi Zona Ikhlas

×

Zakat Mengeluarkan Hormon Kebahagiaan dan Mengaktiviasi Zona Ikhlas

Share this article

Oleh: Agusliadi Massere (Pimpinan BAZNAS Kab. Bantaeng 2025-2030

KHITTAH. CO – Ibarat melompat dari batu yang satu ke batu yang lainnya, saya merasakan lebih dini dan ini pun ingin segera kuungkapkan, bahwa zakat—meskipun kesimpulannya terlalu jauh atau lompatan pikirannya jauh—salah satunya bisa menyehatkan tubuh. Bisa membuat tubuh sehat atau yang sakit menjadi sembuh. Bukan hanya penyakit yang ringan, tetapi penyakit yang ganas sekalipun. Namun, tentu saja sangat berpengaruh dengan kualitas zakatnya, bukan pada besarannya atau nilai persentasenya seperti persentase minimal yang dipersyaratkan oleh syariat.

Dalam percakapan sehari-hari, nasihat kesembuhan dari penyakit di ruang-ruang nonformal, nonmedis, dan nonilmiah—meskipun hari ini saya sudah bisa menemukan sedikit perspektif ilmiahnya—sering kali kita dianjurkan untuk bersedekah jika ingin sembuh dari penyakit yang sulit disembuhkan. “Bersedekahlah jika ingin penyakitnya segera sembuh”, lontaran kalimat ini sering kali saya dengar dalam kehidupan keluarga dan sosial.

Dr. M. Husnaini di salah satu tulisannya, memberinya judul, “Obatilah yang sakit dengan sedekah”. Di dalam tulisan M. Husnaini ini, terungkap kisah kesembuhan luar biasa seseorang dari penyakit ganasnya. Dan, sumber informasi yang saya baca sebelumnya, bahwa kisah yang ditulis kembali oleh M. Husnaini tersebut, itu kisah nyata.

Kisah itu bisa disingkat kurang lebih seperti ini. Di sebuah desa bernama Huraimia, Arab Saudi, seseorang telah divonis oleh dokter terkena kanker darah. Kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya maka ia mendatangkan dan mengontrak seorang pembantu asal Indonesia.

Singkat cerita, pembantu ini adalah seorang perempuan yang baru saja melahirkan anaknya, tetapi terpaksa ditinggalkan di Indonesia demi mencari nafkah/rezeki sebagai tenaga kerja wanita (TKW). Kinerja yang baik dari pembantu ini membuat sang majikan yang sakit tersebut senantiasa memperhatikannya. Namun, suatu waktu majikan menemukan kelakuan aneh si pembantu. Pembantu tersebut sering masuk kamar mandi dan berdiam lama di dalam.

Akhirnya sang majikan tersebut bertanya kepada pembantunya tentang kelakuannya yang aneh tersebut. Pembantu itu hanya menangis tersedu-sedu ketika sang majikan bertanya kepada dirinya. Dirinya (baca: sang pembantu) itu menceritakan yang sebenarnya bahwa karena dirinya baru melahirkan dan meninggalkan anaknya di Indonesia karena desakan ekonomi. Dan, dirinya harus selalu masuk kamar mandi karena dirinya pun harus membuang air susunya, jika tidak dibuang dadanya terasa sesak dan penuh karena tidak disusui sama anaknya.

Mendengar cerita pembantunya ini, majikan tidak sanggup menahan perasaannya dan tetap memberikan apresiasi kepada pembantunya. Kemudian akhirnya, sang majikan memberikan gaji pembantunya itu selama dua tahun penuh sesuai akad kontrak dan memberikan tiket pulang. “Kamu pulanglah dulu. Uang sudah saya berikan penuh untuk dua tahun kontrakmu. Kamu susui anakmu selama dua tahun penuh. Kemudian jika kamu ingin kembali bekerja kamu hubungi nomor telepon ini dan saya akan mengirimkan uang tiket untuk keberangkatanmu”, ini tutur majikannya. Majikan itu pun menegaskan “Apa yang kamu tinggalkan lebih berharga daripada kamu mengurus saya”.

Dari sinilah, setelah pembantunya itu pulang, majikan tersebut mengalami perubahan luar biasa. Hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang lain yang sedang kesusahan. Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya. Yang ada hanyalah rasa bahagia.

Sebulan kemudian sang majikan tersebut pergi kontrol untuk mengetahui kondisi penyakitnya, keajaiban terjadi, ternyata dokter itu pun tidak menemukan sedikit pun penyakit seperti hasil diagnosa sebelumnya. Dokter kagum, bagaimana mungkin bisa secepat dan sedahsyat itu penyakitnya sembuh, apalagi kanker darah.

Dokternya pun membatin “Apakah telah terjadi salah diagnosa?” Akhirnya dokternya penasaran dan bertanya apa yang telah dilakukan oleh pasiennya tersebut. Pasiennya atau sang majikan tersebut menjelaskan “Saya tidak melakukan apa-apa dengan penyakit saya. Mungkin sedekah yang telah saya lakukan kepada pembantu saya yang membantu saya sembuh. Karena, setelah saya menolongnya, hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup.

Membaca buku The Miracle of Endorphin: Sehat Mudah dan Praktis dengan Hormon Kebahagiaan (2011) karya Dr. Shigeo Haruyama (Spesialis bedah saluran pencernaan), saya menemukan landasan ilmiah yang otoritatif bahwa ketika hormon kebahagiaan yang ada dalam diri bisa dikeluarkan atau dilepaskan, itu bisa memengaruhi kondisi kesehatan tubuh. Di buku ini pun, ditegaskan beberapa tesisnya terkait apa dan bagaimana cara mengaktivasi atau melepaskan hormone kebahagiaan itu untuk memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh serta untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit.

Spill (bocoran) dari Haruyama “Penelitian terhadap hormon kebahagiaan membuktikan bahwa manusia bisa awet muda dan bersemangat jika mereka menjalani hidup dengan benar dan berjuang demi kesejahteraan sesama”. Supaya tidak terlupakan dan tidak terlewatkan—termasuk oleh sahabat pembaca—saya langsung menggaris bawahi dua hal dari spill Haruyama ini: “Hidup benar” dan “berjuang demi kesejahteraan sesama”. Berzakat, itu merefleksikan hidup benar dan berjuang demi kesejahteraan sesama.

Rahasia kedua dari Haruyama adalah berpikir positif syarat terbaik untuk mengaktifkan pelepasan hormon kebahagiaan. Pelepasan di sini, sama dengan istilah saya mengeluarkan. Saya pun yakin Haruyama tidak akan memprotes ke saya, jika saya menyimpulkan bahwa perasaan positif sebagai syarat terbaik untuk mengaktifkan pelepasan hormon kebahagiaan, bukan hanya pikiran positif.

Saya sebenarnya sudah memahami dan sangat menyadari—bahkan tanpa membaca buku karya Haruyama di atas—sudah menyakini bahwa benar zakat itu bisa menyehatkan dan bisa menjadi jalan kesembuhan. Sebab, ketika membaca penegasan Allah Swt melalui firmanNya dalam QS. At-Taubah [9] ayat 103 “Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”.

Jika membaca kisah di atas yang sembuh karena sedekahnya, itu karena sedekah mampu memancarkan rasa bahagia, yang dalam bahasa Haruyama melepaskan hormon kebahagiaan, yang salah satunya bisa untuk menyehatkan dan menyembuhkan, maka jika sedekah saja seperti itu dahsyatnya, apalagi zakat yang kedudukannya istimewa di mata Allah Swt karena diwajibkan—meskipun bagi seorang muslim yang cukup nisab dan/atau haulnya saja.

Apalagi dalam firman Allah tersebut di atas, Allah menegaskan zakat itu menumbuhkan ketentraman jiwa yang dalam perspektif Allah ini, tentu saja melampaui dari rasa bahagia dan ketenangan yang lahir dari kondisi lain. Jadi jika merujuk pada pandangan Haruyama, maka saya meyakini jenis hormon kebahagiaan yang dilepaskan atau dipancarkan dari kewajiban berzakat itu akan sampai pada level tertinggi.

Apalagi berzakat, jika mengorelasikan pandangan-pandangan Haruyama tentang hal-hal yang bisa mengaktivasi/ melepaskan hormon kebahagiaan yang sangat besar atau dahsyat pengaruhnya termasuk bagi tubuh, maka berzakat itu sangat merefleksikan atau sangat sesuai dengan hal tersebut. Zakat atau berzakat, itu tentu saja dimaknai adalah tindakan benar yang melewati perjuangan. Perjuangan terbesar dari kewajiban berzakat adalah melawan hawa nafsu yang terkadang cenderung untuk menolak diri untuk berzakat. Berzakat pun dipastikan itu adalah perjuangan untuk kesejahteraan sesama. Zakat pada puncak target tertingginya adalah menyejahterakan sesama, bahkan supaya yang awalnya sebagai mustahik bisa menjadi muzaki.

Berzakat pun sudah pasti harus melewati dan ditunjang oleh pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan positif. Tidak mungkin seseorang akan berzakat dengan kualitas berzakatnya yang terbaik tanpa melewati atau didukung oleh pikiran dan perasaan positif. Untuk diketahui zakat yang berkualitas di sini adalah zakat yang ditunaikan secara tulus dan ikhlas, didukung oleh pikiran dan perasaan positif, serta berawal dari rasa empati yang akan berujung pada kebahagiaan dalam hati.

Dari uraian di atas saja, kita sudah bisa meyakini bahwa benar zakat itu bisa menyehatkan dan menyembuhkan karena zakat itu bisa mengeluarkan hormon kebahagiaan. Bukan hanya itu, ternyata zakat pun bisa mengaktivasi zona ikhlas.

Berbicara zona ikhlas itu akan menjadi zona terbaik di mana gelombang-gelombang otak yang sangat mendukung dilepaskannya hormon kebahagiaan bisa diaktivasi dan dicapai. Gelombang yang dimaksud di antaranya gelombang otak alfa. Terkait peran gelombang otak alfa, itu diulang sedetail mungkin Haruyama dalam bukunya yang disebutkan di atas. Kedahsyatan gelombang otak alfa, saya sudah sering merasakannya termasuk memengaruhi lahir dan mengalirnya secara deras ide-ide cemerlang.

Merujuk pandangan Erbe Sentanu dalam buku karyanya Quantum Ikhlas (2010) zona ikhlas itu berada dalam satu paket kondisi: syukur, sabar, fokus, tenang, dan bahagia. Meskipun dalam tulisan ini saya tidak mengulas satu persatu secara detail paket kondisi yang dimaknai sebagai zona ikhlas dan relevansinya dengan zakat, namun saya yakin sahabat pembaca pun jika mencoba merenungkan terkait kewajiban berzakat, maka di dalamnya pun merefleksikan zona ikhlas di atas: kewajiban berzakat merefleksikan rasa syukur sehingga dengan berzakat, rasa syukur itu semakin terpancar; berzakat merefleksikan pula kesabaran karena bisa jadi sebelum kita berzakat akan mendapatkan godaan kepentingan yang berpotensi menunda zakat, maka dengan bersabar zakat tetap ditunaikan; berzakat sebagaimana firman Allah di atas itu dipastikan memantik ketenangan dan kebahagiaan dalam diri.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply