Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Berita

PWM Sulsel Tekankan Makna Syawalan, KH Abbas Baco Miro: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Penguatan Nilai Taqwa

×

PWM Sulsel Tekankan Makna Syawalan, KH Abbas Baco Miro: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Penguatan Nilai Taqwa

Share this article

KHITTAH.CO, MAKASSAR — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, KH Abbas Baco Miro, menegaskan bahwa momentum Syawalan bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sarana memperkuat silaturahmi, meningkatkan kualitas keberagamaan, serta membangun kepedulian sosial di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Syawalan Muhammadiyah Kota Makassar yang berlangsung di Aula Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan, Ahad 12 April 2026, yang turut dihadiri Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, serta jajaran pimpinan dan warga Muhammadiyah.

Abbas menjelaskan, dalam kehidupan sosial keagamaan, terdapat nilai-nilai mendasar yang harus dijaga, salah satunya adalah silaturahmi yang mampu mengubah kondisi spiritual seseorang, mulai dari keraguan menjadi keyakinan, dari sikap riya menjadi keikhlasan, hingga dari kelalaian menuju kesadaran mengingat Allah.

“Syawalan ini menjadi ruang bertemunya hati, bukan hanya fisik. Di sinilah kita saling memaafkan, melepaskan kesalahan, dan memperkuat hubungan antarsesama,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak bertumpu pada kondisi materi, melainkan pada ketenangan hati yang lahir dari kebersamaan dengan orang-orang saleh dan keterlibatan dalam aktivitas kebaikan.

Dalam kesempatan tersebut, Abbas turut mengapresiasi kehadiran Wali Kota Makassar di tengah kondisi kesehatan yang kurang prima. Menurutnya, kehadiran tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan komitmen dalam membangun sinergi antara pemerintah dan Muhammadiyah.

Syawalan sebagai Gerakan Sosial dan Budaya

Abbas menegaskan bahwa Syawalan dalam perspektif Muhammadiyah merupakan bagian dari kearifan lokal (urf) yang sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam. Tradisi ini, kata dia, menjadi media efektif untuk mempererat hubungan sosial sekaligus menyelesaikan persoalan antarindividu yang tidak terselesaikan selama Ramadan.

“Tidak semua dosa selesai hanya dengan ibadah mahdhah. Ada dosa sosial yang harus diselesaikan dengan saling memaafkan. Syawalan menjadi ruang untuk itu,” jelasnya.

Ia menambahkan, dalam konteks dakwah, Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga mendorong gerakan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat, seperti kepedulian terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, hingga pemberdayaan kelompok rentan.

Penguatan Nilai Taqwa dan Amal Sosial

Lebih lanjut, Abbas menguraikan bahwa indikator keberhasilan Syawalan adalah meningkatnya kualitas keberagamaan warga, baik dari sisi pemahaman keilmuan maupun implementasi amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan pentingnya tiga bentuk silaturahmi, yakni silaturahmi pemikiran (silatul fikri), silaturahmi amal (silatul amal), dan silaturahmi kekerabatan (silatul rahim), yang harus terus dijaga dalam gerakan Muhammadiyah.

“Gerakan Muhammadiyah harus melahirkan manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi orang lain,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pendekatan moderat dalam memahami ajaran Islam, dengan mengedepankan prinsip kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta keterbukaan terhadap ijtihad ulama melalui pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

Dorongan Sinergi dan Kepemimpinan Berbasis Nilai

Abbas turut mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk terus menguatkan peran sebagai penggerak kebaikan di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa setiap individu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban, baik dalam lingkup keluarga, organisasi, maupun masyarakat luas.

Menurutnya, kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi dari kemampuan melahirkan perubahan positif, seperti tumbuhnya budaya infak, kemampuan menahan emosi, serta meningkatnya akhlak mulia.

“Jika nilai-nilai ini terjaga, maka Muhammadiyah akan terus menjadi kekuatan yang mencerahkan, mencerdaskan, dan memajukan masyarakat,” pungkasnya.

 

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply