Scroll untuk baca artikel
Opini

Kepemimpinan IMM dan Warisan Peradaban, Masihkah Kita Menjaga Nyala Idealisme?

×

Kepemimpinan IMM dan Warisan Peradaban, Masihkah Kita Menjaga Nyala Idealisme?

Share this article

Oleh: Nur Sidrah Sariadi (Sekretaris Bidang RPK IMM FAI Unismuh Makassar 2025–2026)

KHITTAH.CO — Apakah kepemimpinan hari ini masih lahir dari kegelisahan intelektual dan panggilan perjuangan, atau justru tumbuh dari ambisi jabatan dan hasrat pengakuan? Mengapa banyak organisasi mahasiswa terlihat ramai dalam seremoni, tetapi sepi dalam gagasan? Mengapa kaderisasi terus berjalan, namun idealisme perlahan kehilangan nyala? Dan pertanyaan yang paling penting, apakah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah masih benar-benar dipersiapkan untuk melahirkan manusia-manusia peradaban?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting diajukan karena zaman sedang berubah sangat cepat. Dunia mahasiswa hari ini hidup di tengah budaya instan, arus digital yang serba cepat, dan ruang sosial yang sering kali lebih menghargai popularitas dibanding kedalaman pemikiran. Aktivisme perlahan berubah menjadi pencitraan. Diskusi kehilangan daya kritisnya. Organisasi terkadang hanya menjadi panggung eksistensi, bukan lagi ruang pengabdian.

Dalam situasi seperti itu, IMM tidak boleh kehilangan identitas historisnya sebagai gerakan intelektual profetik. Sebab sejak awal, IMM lahir bukan sekadar untuk menghimpun mahasiswa Muhammadiyah, melainkan untuk membentuk kader umat, kader bangsa, dan kader persyarikatan yang memiliki kekuatan ilmu, keteguhan moral, serta keberanian sosial.

Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan pernah menegaskan bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas moral dan intelektual generasinya. Pernyataan ini relevan dengan realitas gerakan mahasiswa hari ini. Sebab organisasi akan kehilangan ruh perjuangan ketika kader hanya sibuk mengejar posisi tanpa membangun kapasitas diri. Kepemimpinan akhirnya tidak lagi dipahami sebagai amanah, tetapi sekadar alat memperoleh pengaruh.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan:

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejatinya adalah tanggung jawab moral dan sosial. Seorang pemimpin tidak hadir untuk dilayani, tetapi untuk menghadirkan kebermanfaatan. Karena itu, kader IMM tidak cukup hanya pandai berbicara di podium ataupun aktif membuat narasi di media sosial. Ia harus memiliki keberanian berpihak pada nilai, keberanian menjaga integritas, dan keberanian melawan arus pragmatisme.

Dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa jatuh bangunnya sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kuat atau lemahnya solidaritas sosial (ashabiyah) dan moral masyarakatnya. Ketika solidaritas melemah dan kepentingan pribadi lebih dominan dibanding kepentingan bersama, maka peradaban perlahan mengalami kemunduran. Apa yang disampaikan Ibnu Khaldun ratusan tahun lalu terasa sangat dekat dengan realitas organisasi mahasiswa hari ini. Banyak gerakan kehilangan arah karena kaderisasi tidak lagi melahirkan militansi ideologis, melainkan sekadar loyalitas struktural.

Di titik inilah IMM membutuhkan kepemimpinan yang visioner dan transformatif. Kepemimpinan yang tidak hanya mampu menggerakkan organisasi, tetapi juga membangun kesadaran intelektual kader. Sebab organisasi yang besar bukan organisasi yang ramai kegiatan, melainkan organisasi yang mampu melahirkan manusia-manusia berpengaruh dalam sejarah sosialnya.

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyebut bahwa pendidikan sejati harus melahirkan kesadaran kritis (critical consciousness). Dalam konteks IMM, kaderisasi seharusnya tidak hanya melatih kemampuan administratif dan retorika kader, tetapi juga membangun daya kritis terhadap realitas sosial. IMM harus mampu melahirkan kader yang gelisah melihat ketimpangan sosial, resah terhadap krisis moral, dan tergerak untuk menghadirkan perubahan.

Namun pertanyaannya, masihkah gerakan mahasiswa hari ini memiliki keberanian untuk berbeda? Masihkah kader IMM memiliki semangat membaca yang kuat di tengah budaya serba instan? Atau justru kita sedang hidup dalam generasi yang lebih sibuk membangun citra dibanding membangun pemikiran?

Antonio Gramsci dalam Selections from the Prison Notebooks pernah mengatakan bahwa krisis terjadi ketika “yang lama telah mati, tetapi yang baru belum lahir.” Kalimat ini seperti menggambarkan kondisi generasi muda hari ini. Idealisme lama mulai memudar, tetapi kesadaran baru yang kuat belum benar-benar lahir. Akibatnya, banyak organisasi bergerak tanpa arah ideologis yang jelas.

Karena itu, IMM membutuhkan pemimpin yang tidak hanya aktif secara struktural, tetapi juga produktif secara intelektual. Pemimpin yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan, berpikir sebagai tradisi, dan menulis sebagai bentuk perjuangan. Sebab peradaban besar selalu lahir dari tradisi ilmu pengetahuan. Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam menyebut bahwa kemunduran umat dimulai ketika tradisi berpikir berhenti hidup.

Kepemimpinan IMM harus kembali berpijak pada tiga fondasi utama, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Religiusitas menjaga gerakan agar tidak kehilangan nilai ketuhanan. Intelektualitas menjaga kader tetap kritis membaca realitas. Dan humanitas memastikan bahwa seluruh gerakan tetap berpihak pada persoalan rakyat dan kemanusiaan.

Sebab sejatinya, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah jabatan yang pernah ia duduki, melainkan nilai yang tetap hidup setelah masa kepemimpinannya selesai. Pemimpin yang baik melahirkan pengikut. Pemimpin yang besar melahirkan penerus. Tetapi pemimpin yang mewariskan peradaban akan melahirkan generasi yang mampu melanjutkan perjuangan melampaui zamannya.

Maka pertanyaan terakhirnya adalah kepemimpinan seperti apa yang ingin diwariskan IMM hari ini? Kepemimpinan yang hanya meninggalkan dokumentasi kegiatan dan baliho kepengurusan? Ataukah kepemimpinan yang meninggalkan gagasan, keteladanan, dan nyala perjuangan?

Karena pada akhirnya, jabatan akan selesai, periode akan berakhir, dan nama perlahan dilupakan. Tetapi nilai, ilmu, dan pengabdian akan selalu menemukan jalannya untuk hidup dalam sejarah.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply