Scroll untuk baca artikel
Opini

Merindukan Keberanian Intelektual ala Karl Marx

×

Merindukan Keberanian Intelektual ala Karl Marx

Share this article

Oleh: Andi Asywid Nur (Anggota Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel)

KHITTAH.CO — Belakangan ini, saya sering dihantui oleh sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar aneh, bahkan provokatif, mungkinkah dunia hari ini masih mampu melahirkan seorang Karl Marx?

Pertanyaan ini tentu bukan kerinduan pada komunisme, bukan pula romantisme terhadap konflik ideologis abad ke-19 yang telah lama menjadi bahan perdebatan sejarah. Saya juga tidak sedang mengajak siapa pun untuk kembali kepada manifesto politik tertentu. Namun, di tengah kebisingan dunia digital, derasnya arus informasi, dan semakin menipisnya keberanian intelektual, saya mulai merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari kehidupan kita hari ini. Sesuatu yang dahulu dimiliki oleh seorang Karl Marx, yaitu keberanian untuk berpikir secara radikal, kesabaran untuk memahami realitas secara mendalam, dan kegelisahan moral untuk mempertanyakan dunia yang dianggap sudah mapan.

Kita hidup pada zaman yang paradoks. Di satu sisi, manusia modern memiliki akses pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hitungan detik, kita dapat mengakses jutaan artikel, ribuan buku, dan berbagai pandangan dari seluruh penjuru dunia. Namun, di sisi lain, kita justru mengalami kelangkaan pemikir besar. Kita hidup di era banjir informasi, tetapi mengalami kekeringan refleksi. Kita memiliki banyak komentator, tetapi sedikit intelektual. Kita menghasilkan konten setiap detik, tetapi semakin jarang menghasilkan pemikiran yang mampu mengguncang kesadaran zaman.

Dalam konteks inilah, saya sesekali merindukan sosok seperti Karl Marx.

Marx, terlepas dari seluruh kontroversi yang melingkupinya, bukanlah sekadar seorang ekonom, filsuf, atau teoritikus politik. Ia adalah seorang pembaca zaman. Ia menghabiskan hidupnya untuk memahami bagaimana masyarakat bekerja, bagaimana kekuasaan beroperasi, bagaimana ketimpangan diproduksi, dan mengapa manusia sering kali terjebak dalam struktur yang mereka ciptakan sendiri.

Bayangkan, selama bertahun-tahun Marx menghabiskan waktunya di perpustakaan, hidup dalam keterbatasan ekonomi, membaca ribuan halaman, menulis tanpa kepastian bahwa gagasannya akan diterima dunia, dan terus mempertanyakan realitas sosial yang dianggap normal oleh masyarakat pada zamannya. Dalam dunia yang mengagungkan kecepatan seperti sekarang, pilihan hidup seperti itu mungkin dianggap tidak rasional, tidak produktif, bahkan tidak relevan.

Namun, justru dari proses intelektual yang panjang, sunyi, dan melelahkan itulah lahir gagasan-gagasan yang kemudian mengubah cara manusia memahami dunia.

Hari ini, kita tampaknya hidup dalam situasi yang sangat berbeda.

Media sosial telah mengubah cara kita berpikir. Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada refleksi, lebih menghargai sensasi daripada argumentasi, dan lebih mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Dalam ruang digital, seseorang dapat menjadi pakar dalam waktu semalam, seorang influencer dapat memiliki pengaruh yang lebih besar daripada profesor, dan sebuah opini viral sering kali dianggap lebih valid daripada penelitian bertahun-tahun.

Kita sedang menyaksikan lahirnya apa yang oleh filsuf Prancis, Jean Baudrillard, disebut sebagai hiperrealitas, situasi ketika representasi lebih dipercaya daripada kenyataan itu sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh kedalaman analisis, melainkan oleh jumlah tayangan, suka, dan bagikan.

Akibatnya, keberanian intelektual perlahan digantikan oleh keberanian algoritmik.

Bahkan dunia akademik pun tidak sepenuhnya terbebas dari persoalan ini. Banyak akademisi hari ini lebih sibuk mengejar angka kredit, indeks sitasi, akreditasi, dan berbagai ukuran administratif lainnya dibandingkan mengembangkan keberanian untuk mempertanyakan struktur sosial yang tidak adil. Kita menghasilkan ribuan artikel setiap tahun, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengguncang kesadaran publik atau mengubah cara masyarakat memahami dirinya sendiri.

Saya teringat kritik yang pernah disampaikan oleh C. Wright Mills dalam The Sociological Imagination. Mills mengkritik para akademisi yang terjebak dalam rutinitas birokrasi pengetahuan dan kehilangan kemampuan untuk menghubungkan persoalan individu dengan struktur sosial yang lebih luas. Kritik itu, tampaknya, semakin relevan hari ini.

Barangkali, yang hilang dari dunia kita bukanlah orang-orang pintar. Kita memiliki banyak orang pintar. Yang semakin langka adalah orang-orang yang berani menggunakan kecerdasannya untuk mengganggu kenyamanan publik.

Karl Marx adalah salah satu contoh dari keberanian semacam itu.

Ia berani mempertanyakan kapitalisme ketika sebagian besar masyarakat Eropa menganggapnya sebagai puncak kemajuan peradaban. Ia berani membaca eksploitasi di balik pertumbuhan ekonomi. Ia berani melihat konflik di balik stabilitas sosial. Dan yang paling penting, ia berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap alamiah oleh zamannya.

Hari ini, siapa yang berani melakukan hal serupa?

Kita hidup dalam budaya yang cenderung menghukum orang yang berpikir berbeda. Media sosial menciptakan apa yang disebut Friedrich Nietzsche sebagai herd mentality atau mentalitas kawanan. Orang-orang semakin takut untuk berbeda pendapat karena khawatir kehilangan pengikut, kehilangan popularitas, atau menjadi sasaran penghakiman publik. Akibatnya, banyak orang memilih menjadi bagian dari kerumunan daripada mempertahankan independensi berpikir.

Padahal, sejarah kemajuan peradaban manusia selalu lahir dari mereka yang berani berdiri melawan arus.

Socrates dihukum karena mempertanyakan kebenaran yang mapan. Galileo dikucilkan karena mempertahankan temuannya. Nietzsche dianggap gila karena kritik-kritiknya terhadap moralitas modern. Marx hidup dalam pengasingan dan kemiskinan karena gagasan-gagasannya dianggap mengancam tatanan sosial.

Ironisnya, hari ini kita hidup di era kebebasan berbicara yang jauh lebih besar, tetapi justru mengalami kelangkaan keberanian intelektual.

Mungkin karena kita terlalu sibuk membangun citra diri. Mungkin karena kita terlalu takut kehilangan kenyamanan. Atau mungkin karena kita telah menerima begitu saja dunia sebagaimana adanya tanpa lagi merasa perlu untuk mempertanyakannya.

Padahal, seorang intelektual sejati bukanlah orang yang memiliki semua jawaban. Seorang intelektual sejati adalah orang yang terus-menerus mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.

Itulah sebabnya saya sesekali merindukan sosok seperti Karl Marx.

Bukan karena saya percaya bahwa Marx memiliki jawaban atas seluruh persoalan manusia. Sejarah telah menunjukkan bahwa tidak ada pemikiran yang sempurna. Namun, saya merindukan keberanian intelektualnya, ketekunan belajarnya, kegelisahan moralnya, dan kesediaannya untuk menghabiskan seluruh hidup demi memahami satu pertanyaan besar, mengapa manusia hidup dalam dunia yang tidak adil, dan mungkinkah dunia itu diubah?

Barangkali, krisis terbesar yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis ekonomi, krisis politik, atau bahkan krisis teknologi. Krisis terbesar kita adalah krisis keberanian untuk berpikir secara mendalam, kritis, dan mandiri.

Dan mungkin, yang sesungguhnya kita rindukan bukanlah Karl Marx sebagai seorang tokoh. Yang kita rindukan adalah lahirnya kembali manusia-manusia yang berani gelisah, berani mempertanyakan, berani membaca zaman, dan berani berpikir melampaui batas-batas kenyamanan yang disediakan oleh dunia modern.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak pernah maju karena banyaknya orang yang setuju. Peradaban maju karena selalu ada beberapa orang yang berani bertanya,  bagaimana jika dunia yang kita anggap normal ini sebenarnya bermasalah?

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply