KHITTAH.CO, MAKASSAR – Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI) Universitas Muhammadiyah Makassar melaksanakan praktik mata kuliah Bimbingan dan Konseling (BK) Komunitas melalui kegiatan pendampingan pada enam komunitas mitra di wilayah Makassar dan Gowa. Kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap pada 9, 12, 15, dan 18 Juni 2026 ini merupakan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman yang mengintegrasikan teori perkuliahan dengan praktik lapangan, sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling pada ranah komunitas.
Di bawah bimbingan dosen pengampu, Ratna Wulandari, S.Pd., M.Pd., mahasiswa melakukan asesmen kebutuhan, mengidentifikasi potensi serta tantangan yang dihadapi komunitas, kemudian menyusun program pendampingan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing mitra. Pelaksanaan kegiatan berlangsung di berbagai lokasi, termasuk ruang multimedia dan sekretariat komunitas mitra yang menjadi lokasi praktik.
Enam komunitas yang menjadi mitra praktik meliputi Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa, Lentera Educare, Toastmasters, Mabicara Community, Antropos, dan KOADS. Masing-masing kelompok mahasiswa merancang program pendampingan berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan di lapangan.
Di Rumah Belajar Kita (RAKIT) Gowa, mahasiswa menerapkan teknik metafora benda saku untuk membantu pengurus membangun cara pandang yang lebih kreatif dalam menghadapi dinamika organisasi. Sementara itu, di Lentera Educare, mahasiswa memanfaatkan terapi seni sebagai media refleksi dan pengelolaan emosi bagi para relawan guna mengurangi kejenuhan dalam menjalankan aktivitas sosial.
Pada komunitas Toastmasters, mahasiswa melaksanakan layanan bimbingan kelompok terkait pembagian peran dan komunikasi organisasi guna memperkuat koordinasi antarpengurus. Adapun di Mabicara Community, kegiatan sharing and support circle difasilitasi sebagai ruang berbagi pengalaman yang bertujuan mempererat relasi antaranggota komunitas.
Selanjutnya, pada komunitas Antropos, mahasiswa memperkenalkan teknik free writing sebagai media untuk mengekspresikan gagasan sekaligus membantu mengurangi hambatan dalam proses kreatif menulis. Sementara itu, di KOADS, mahasiswa menyelenggarakan psikoedukasi mengenai pola asuh anak dengan Down Syndrome melalui aktivitas menyusun puzzle sebagai media pembelajaran interaktif bagi para orang tua.
Dosen pengampu mata kuliah BK Komunitas, Ratna Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi pelaksanaan praktik tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan kompetensi yang telah dipelajari selama perkuliahan.
“Praktik BK Komunitas merupakan implementasi nyata dari keilmuan yang telah dipelajari mahasiswa. Kegiatan ini menunjukkan bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak hanya dapat diterapkan di lingkungan sekolah, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendampingi dan memberdayakan masyarakat melalui berbagai komunitas,” ujarnya.
Ratna berharap pengalaman lapangan tersebut dapat memperkuat kompetensi profesional mahasiswa sebagai calon konselor. Menurutnya, melalui praktik ini mahasiswa diharapkan semakin peka terhadap kebutuhan masyarakat, mampu menghubungkan teori dengan kondisi nyata di lapangan, serta memiliki keterampilan dalam melakukan asesmen, komunikasi, observasi, dan penyusunan rekomendasi layanan yang sesuai dengan kebutuhan komunitas.
“Pengalaman ini diharapkan membentuk sikap profesional, empati, tanggung jawab, dan komitmen mahasiswa dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” tambahnya.
Pelaksanaan praktik BK Komunitas ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi komunitas mitra melalui penguatan kapasitas organisasi, peningkatan kualitas relasi antaranggota, serta pengembangan potensi yang dimiliki masing-masing komunitas.




















