KHITTAH.CO, OSAKA, JEPANG — Sejumlah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar mengikuti program pengabdian kepada masyarakat internasional di Japan Da’wah Centre (JDC), Osaka, Jepang, Sabtu, 4 Juli 2026.
Kegiatan bertajuk Nusantara Cultural Footprints in Strengthening Community Economic Capacity: International Knowledge Sharing itu membahas pemanfaatan nilai budaya Nusantara sebagai modal sosial, sekaligus peluang pengembangan ekonomi halal di Jepang.
Program tersebut merupakan kolaborasi delapan perguruan tinggi Indonesia, yakni Unismuh Makassar, Universitas Hasanuddin, Universitas Sulawesi Barat, Universitas Muhammadiyah Buton, Politeknik Negeri Ujung Pandang, Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Berau, serta Sekolah Tinggi Agama Islam DDI Maros.
Delegasi Unismuh dipimpin oleh Muchriana Muchran. Sejumlah akademisi FEB Unismuh yang turut hadir adalah A Ifayani Haanurat, Linda Arisanty Razak, Sahabuddin Nanda, Ismail Badollahi, Idil Rakhmat Susanto, Wa Ode Rayyani, Zalkha Soraya, M Yusuf K, Sherry Adelia Natsir, dan Andi Hakib.
Salah satu anggota delegasi, Dr Sahabuddin Nanda mengatakan, budaya Nusantara tidak semestinya hanya dipandang sebagai warisan masa lalu. Nilai kebersamaan, saling percaya, dan gotong royong dapat menjadi kekuatan untuk membangun kegiatan ekonomi berbasis komunitas.
“Kebudayaan Nusantara bukan sekadar warisan tradisi masa lalu, melainkan modal sosial yang sangat adaptif dan kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi komunitas, baik di dalam negeri maupun bagi para diaspora yang tinggal di mancanegara,” ujar Sahabuddin.
Menurut dia, nilai-nilai tersebut relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang. Kekuatan jejaring sosial dapat digunakan untuk membangun usaha bersama, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing pelaku usaha.
Dalam kegiatan itu, peserta memperoleh dua materi utama. Materi pertama mengenai penguatan kapasitas ekonomi komunitas melalui nilai budaya Nusantara disampaikan Mediaty dari Universitas Hasanuddin. Materi kedua tentang masa depan ekonomi halal disampaikan Emi Sri Rahayu Fatimah dari STAI DDI Maros.
Pembahasan mengenai budaya Nusantara menempatkan gotong royong, kepercayaan, kolaborasi, transparansi, dan tata kelola yang baik sebagai fondasi pengembangan ekonomi komunitas. Nilai tersebut juga dipertemukan dengan filosofi Jepang, seperti Wa atau keharmonisan, Kizuna atau ikatan sosial, serta Kaizen yang berarti perbaikan berkesinambungan.
Sahabuddin menilai kesamaan nilai antara Indonesia dan Jepang dapat menjadi dasar pengembangan kerja sama yang lebih berkelanjutan.
“Konsep kebersamaan Nusantara dapat dipadukan dengan kedisiplinan, keharmonisan, dan semangat perbaikan berkelanjutan dalam masyarakat Jepang. Pertemuan nilai tersebut dapat memperkuat kepercayaan dalam membangun usaha dan jejaring ekonomi,” katanya.
Selain budaya, peserta membahas perkembangan ekonomi halal yang kini tidak lagi terbatas pada makanan dan minuman. Ekosistem tersebut telah mencakup industri farmasi, kosmetik, busana, pariwisata, keuangan syariah, logistik, dan ekonomi digital.
Di Jepang, peluang ekonomi halal antara lain terdapat pada pariwisata ramah Muslim, restoran bersertifikat halal, kosmetik, logistik, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung sistem sertifikasi. Kerja sama Indonesia-Jepang dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Pembekalan literasi ekonomi halal menjadi strategis agar komunitas Indonesia di Osaka mampu menangkap peluang bisnis yang beretika, inovatif, dan berkelanjutan di tengah pasar Jepang yang semakin terbuka,” ujar Sahabuddin.
Kegiatan berlangsung dengan pendekatan partisipatif. Setelah penyampaian materi, peserta berdiskusi mengenai tantangan pengembangan ekonomi komunitas, peluang kolaborasi Indonesia-Jepang, serta strategi pemberdayaan masyarakat Indonesia di Jepang.
Peserta berasal dari berbagai kalangan, antara lain komunitas internasional yang tinggal di Jepang, akademisi, mahasiswa, profesional, dan perwakilan JDC. Diskusi juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman praktis masyarakat diaspora.
Program tersebut turut membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bentuk seminar bersama, riset kolaboratif, publikasi akademik, pertukaran mahasiswa, pelatihan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.
Dalam kegiatan ini juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara sejumlah perguruan tinggi Indonesia dan Japan Da’wah Centre. Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi program pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami berharap sinergi ini menjadi langkah awal untuk memperluas jaringan akademik global sekaligus menghadirkan pengabdian masyarakat internasional yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan komunitas,” kata Sahabuddin.
Tim pengabdian dan pengelola JDC selanjutnya akan menjajaki seminar internasional berkala, penelitian bersama, publikasi kolaboratif, pelatihan kewirausahaan halal, serta pendampingan bagi usaha masyarakat Indonesia di Jepang.
Program ini sekaligus mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 10 mengenai pengurangan kesenjangan, serta SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.






















