KHITTAH.CO, WAJO — Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Wajo digelar di SMP Muhammadiyah Belawa, Selasa, 28 Juli 2026, sebagai forum strategis untuk menyusun arah kebijakan organisasi, mengevaluasi capaian program, serta memperkuat tata kelola penghimpunan dan pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Rakerda yang dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., itu dirangkaikan dengan peresmian pemanfaatan sumur bor pertanian, pengukuhan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) Kabupaten Wajo, serta penyaluran berbagai bantuan sosial dan pendidikan sebagai wujud implementasi zakat produktif.
Melalui Rakerda ini, seluruh unsur Lazismu diharapkan mampu menyelaraskan program kerja dengan visi Muhammadiyah, memperkuat sinergi antarlembaga dan pimpinan cabang, serta meningkatkan profesionalisme pengelolaan dana ZIS agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat. Karena itu, Rakerda Lazismu Wajo tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja, tetapi juga menghadirkan aksi nyata pemberdayaan melalui sektor pertanian, pendidikan, ekonomi, dan dakwah sosial.
Rakerda diikuti pengurus Lazismu Wajo, Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Wajo, pengurus masjid Muhammadiyah, serta unsur majelis dan organisasi otonom. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan prasasti pemanfaatan sumur bor pertanian oleh Ketua PWM Sulsel sebagai simbol dimulainya pemanfaatan fasilitas irigasi bagi petani di Belawa.
Pengurus Jatam Kabupaten Wajo yang dikukuhkan terdiri atas Darmawangsa, S.Pd., M.M. sebagai Ketua, Mansur sebagai Wakil Ketua, Yunan, S.Pd. sebagai Sekretaris, dan H. Bandung sebagai Bendahara.
Selain itu, Lazismu turut menyalurkan bantuan berupa apresiasi UMKM kader sebesar Rp5 juta, wakaf 1.120 buku Iqra untuk TK/TPA, bantuan Rp1 juta bagi SMP Muhammadiyah Belawa, serta bantuan Rp1 juta untuk Masjid Ta’mirul Qulub Muhammadiyah Belawa.
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Wajo, Sulaeman Nyampa, menjelaskan bahwa pembangunan sumur bor merupakan hasil kolaborasi Lazismu Sulsel, Lazismu Wajo, dan MPM sebagai bentuk penguatan program pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, program tersebut menjadi upaya menggeser orientasi penghimpunan zakat dari sekadar bantuan konsumtif menuju program yang produktif dan berkelanjutan.
“Anggaran pembangunan sumur bor sekitar Rp20 juta merupakan kolaborasi Lazismu Wilayah dan Lazismu Wajo. Harapannya, program ini terus berkembang sehingga mampu mengedukasi petani untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menumbuhkan kesadaran menunaikan zakat pertanian setelah panen,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan sumur bor diharapkan menjadi titik awal lahirnya lebih banyak program pemberdayaan pertanian di Kabupaten Wajo.
Sementara itu, Ketua Lazismu PWM Sulsel, Prof. Dr. Mahmuddin, M.Ag., mengatakan program sumur bor merupakan respons terhadap persoalan kekeringan lahan pertanian di Belawa yang selama ini menghambat produktivitas petani.
Ia mengungkapkan, Lazismu bersama MPM telah menjalin komunikasi dengan Balai Pertanian Sulawesi Selatan guna mengembangkan program serupa di berbagai daerah.
“Kami diminta menyiapkan lahan minimal 25 hektare lengkap dengan Jamaah Tani Muhammadiyah agar bisa diusulkan memperoleh bantuan sumur bor maupun bibit pertanian. Program ini bukan berhenti di Belawa, tetapi akan terus dikembangkan,” katanya.
Mahmuddin juga menyebut Muhammadiyah tengah menyiapkan pengembangan lahan wakaf produktif di sejumlah daerah, termasuk pengembangan perkebunan kopi pada lahan wakaf seluas lebih dari 200 hektare di Kabupaten Barru.
Ketua MPM PWM Sulsel, Prof. Dr. H. Abdur Rasyid Masri, M.Pd., M.Si., M.M., mengapresiasi sinergi Lazismu dan MPM yang dinilainya berhasil menghadirkan program pemberdayaan berbasis kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kolaborasi antarmajelis merupakan kunci agar program sosial Muhammadiyah tidak berhenti pada bantuan sesaat, melainkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kami ingin setiap program melahirkan manfaat jangka panjang. Karena itu MPM dan Lazismu terus bersinergi, mulai dari penyediaan air, bibit, pelatihan, hingga pendampingan petani,” ujarnya.
Camat Belawa, Arifuddin Arman, S.Kom., S.H., M.Si., yang hadir mewakili Pemerintah Kecamatan Belawa menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah dalam membantu masyarakat menghadapi persoalan kekeringan.
Ia menilai pemerintah sangat terbantu dengan hadirnya program sumur bor yang secara langsung menjawab kebutuhan petani.
“Kehadiran Lazismu dan Muhammadiyah memberikan solusi nyata bagi masyarakat Belawa. Pemerintah tentu menyambut baik kolaborasi seperti ini karena manfaatnya langsung dirasakan warga,” katanya.
Dalam arahannya, Ketua PWM Sulsel Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah yang berorientasi pada kemaslahatan umat.
Ia menilai pembangunan sumur bor dan pembentukan Jamaah Tani Muhammadiyah merupakan contoh konkret dakwah yang tidak hanya menyentuh aspek ibadah, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Lasismu memiliki tugas menghimpun, mendistribusikan, dan memberdayakan dana umat. Program sumur bor ini adalah bentuk pemberdayaan yang manfaatnya dirasakan seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang. Muhammadiyah hadir untuk kemaslahatan umat manusia,” tegasnya.
Ambo Asse juga mengajak seluruh pimpinan cabang Muhammadiyah menjadikan Jamaah Tani Muhammadiyah sebagai media dakwah sekaligus pemberdayaan ekonomi dengan memperkuat pembinaan keagamaan, pengembangan pertanian produktif, dan pengelolaan zakat pertanian secara berkelanjutan.
Rakerdah Lazismu Wajo ditutup dengan peresmian pemanfaatan sumur bor, penyerahan bantuan sosial, penyerahan bibit pertanian, serta penandatanganan prasasti sebagai penanda dimulainya pengembangan program pertanian produktif Muhammadiyah di Kabupaten Wajo.






















