Scroll untuk baca artikel
PMB Unismuh
Jasa pembuatan website Lagomedia Indonesia
Berita

Warek I Unismuh kepada Maba: Jangan Hanya Ganti Status, Ubah Cara Belajar dan Berpikir

×

Warek I Unismuh kepada Maba: Jangan Hanya Ganti Status, Ubah Cara Belajar dan Berpikir

Share this article


KHITTAH.CO, MAKASSAR
— Menjadi mahasiswa tidak cukup hanya berganti status dari siswa. Cara berpikir, cara belajar, cara mengambil keputusan, hingga cara mempertanggungjawabkan pilihan juga harus berubah.

Pesan itu disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), Prof Andi Sukri Syamsuri, kepada mahasiswa baru dalam rangkaian Ta’aruf Mahasiswa Baru Unismuh Tahun Akademik 2026/2027, Sabtu, 12 September 2026, di Balai Sidang Muktamar Ke-47 Unismuh Makassar.

Prof Andis, sapaan akrabnya, membawakan materi bertajuk “Transformasi dari Siswa Menjadi Mahasiswa: Membangun Budaya Belajar, Berpikir Kritis, dan Meraih Prestasi.”

“Ini adalah sebuah transformasi yang harus ananda alami ketika sudah masuk di Unismuh Makassar,” ujar Prof Andis.

Menurut dia, sebutan mahasiswa membawa konsekuensi yang lebih besar daripada sekadar perubahan istilah.

“Ananda harus berubah cara berpikir, kemudian cara belajar, cara mengambil keputusan, dan cara bertanggung jawab,” katanya.

Ia merangkum proses tersebut dalam semangat bertumbuh, berpikir, berkarya, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Dari Disuapi Menjadi Pembelajar Mandiri

Prof Andis menjelaskan, salah satu perbedaan mendasar antara sekolah dan perguruan tinggi terletak pada kemandirian belajar.

Ketika masih menjadi siswa, sumber belajar banyak bertumpu pada guru dan buku teks. Saat menjadi mahasiswa, sumber belajar menjadi jauh lebih luas, mulai dari jurnal ilmiah, perpustakaan, praktik lapangan, hingga berbagai sumber akademik lainnya.

“Kalau dosen, dosen itu membuka cara Anda berpikir, dan Anda sendiri yang mencari,” ujarnya.

Kemandirian juga terlihat dalam pengelolaan aktivitas akademik. Mahasiswa harus memahami Kartu Rencana Studi (KRS), berkomunikasi dengan penasihat akademik, mengatur waktu, serta secara bertahap menentukan beban studi berdasarkan capaian akademiknya.

Ia menjelaskan, mahasiswa Unismuh akan didampingi penasihat akademik sejak awal hingga menyelesaikan studi. Namun, pendampingan tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab mahasiswa untuk mengelola proses belajarnya sendiri.

Prof Andis juga mendorong mahasiswa baru membangun kebiasaan membaca materi sebelum memasuki kelas.

“Masuk ke kelas tidak hanya membawa telinga, tetapi juga membawa pertanyaan-pertanyaan,” katanya.

Mahasiswa, lanjut dia, perlu aktif bertanya, berdiskusi, mencatat, serta melakukan evaluasi diri secara berkala. Materi yang diperoleh dari dosen sebaiknya dipelajari kembali setelah perkuliahan agar pemahaman semakin kuat.

Berpikir Kritis Bukan Gemar Menyalahkan

Selain kemandirian belajar, Prof Andis memberi penekanan khusus pada kemampuan berpikir kritis.

Menurut dia, berpikir kritis tidak identik dengan kebiasaan mencari kesalahan orang lain.

“Berpikir kritis itu adalah bagian untuk mendewasakan Anda. Untuk mengetahui apakah informasi yang diterima itu betul atau tidak,” ujarnya.

Kemampuan tersebut semakin penting di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial.

“Kalau mendapatkan informasi, timbang dulu. Jangan langsung di-share, terutama kalau di medsos,” pesannya.

Mahasiswa, kata dia, perlu memeriksa kebenaran informasi, mempertimbangkan data pendukung, serta menilai manfaatnya sebelum menyebarkannya kepada publik.

Ia berharap mahasiswa Unismuh tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi mampu bertanya, menguji, menganalisis, menyimpulkan, dan memberikan respons terhadap apa yang dibaca maupun didengar.

AI Boleh Digunakan, tetapi Harus Beretika

Prof Andis juga menyinggung pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses belajar mahasiswa.

Menurut dia, teknologi digital tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Karena itu, aplikasi AI seperti ChatGPT maupun platform lainnya dapat dimanfaatkan, tetapi harus digunakan secara bertanggung jawab.

Mahasiswa, misalnya, dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun kerangka tulisan. Namun, proses berpikir dan penulisan tetap harus dilakukan sendiri.

“Memakai kecerdasan buatan untuk menyusun kerangka, lalu menulis sendiri,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mencantumkan sumber ketika mengutip dan menghindari praktik menyalin tanpa pertanggungjawaban akademik.

Karakter dan Integritas Jadi Fondasi

Dalam paparannya, Prof Andis menegaskan bahwa pendidikan di Unismuh tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan mahasiswa yang unggul secara akademik.

Mahasiswa Unismuh diharapkan tumbuh menjadi pribadi beriman dan berakhlak mulia, berintegritas, unggul secara akademik, serta berpikir kritis dan terbuka.

Penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi bagian penting dari proses tersebut. Mahasiswa juga didorong mengikuti kaderisasi dan kegiatan organisasi untuk memperkuat karakter, integritas, serta kepemimpinan.

Di luar perkuliahan, mahasiswa dapat mengembangkan diri melalui organisasi kemahasiswaan, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), penelitian, kompetisi, kewirausahaan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Menurut Prof Andis, berbagai ruang tersebut harus dimanfaatkan untuk mengubah potensi menjadi prestasi sekaligus kontribusi bagi masyarakat.

Namun, ia mengingatkan bahwa kecerdasan dan prestasi akan kehilangan makna apabila tidak disertai karakter.

“Tidak ada gunanya orang cerdas kalau tidak berkarakter, apatah lagi tidak berintegritas,” tegasnya.

“Tidak ada gunanya kita cerdas lalu tidak jujur,” lanjut Prof Andis.

Ia menyebut kejujuran, disiplin, kesantunan, serta kemampuan bertutur dengan baik sebagai bagian penting dari karakter mahasiswa Unismuh.

Bagi Prof Andis, Ta’aruf menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru untuk memahami perubahan tersebut. Mereka datang ke kampus bukan lagi sebagai siswa yang menunggu diarahkan, tetapi sebagai mahasiswa yang dituntut mandiri dalam belajar, kritis dalam berpikir, berintegritas dalam bertindak, serta produktif dalam berkarya.

KAMPUS MUHAMMADIYAH DI SULSEL

Leave a Reply